Posts tagged ‘ukhuwah’

sand

Aku sedang terus berpikir, apakah aku adalah seorang saudara atau hanya nama yang numpang mampir di kehidupan orang-orang disekitarku. Aku sedang terus berusaha jujur pada diri sendiri, apakah Aku memang layak mendapat gelar sahabat oleh sahabat-sahabatku atau sebenarnya hanya figuran dalam kehidupan mereka. Dan hingga saat ini aku masih mendapat jawaban : kamu belum siapa-siapa.

Saudara itu seperti Abu Bakar dan Rasulullah. Abu Bakar yang menahan rasa sakit digigit ular saat berlindung bersama Rasulullah di Gua Tsur ketika hijrah. Ditahannya hingga ia meneteskan airmata agar Rasulullah tidak terbangun dalam istirahatnya.  Maka, bukankah persaudaraan adalah pengorbanan?

Saudara itu bukan konsep. Bukan materi-materi daurah. Bukan bahasan-bahasan kata. Saudara itu seperti air dan batu, yang mengalir dengan riak-riak. Saudara itu ibarat kayu dan vernis, yang menguatkan, memperlama umur kayu. Saudara itu laiknya ion H+ dan otot lurik, yang akan menjadi alarm pertama saat otot mengalami defisiensi ATP agar tubuh mengerem sebentar aktifitasnya.

Maka, saat saudara kita salah, tak ada alasan untuk tidak mengingatkan. Apalagi hanya membicarakan kesalahan-kesalahan tersebut pada orang lain. Bukan lagi alasan ketika saudara kita salah lalu mengatakan, “aku pun tak sempurna. aku pun masih melakukan hal yang sama”. Lalu mengapa tidak mengatakan, “mari kita perbaiki sama-sama”. Atau jika memang yang membuat kesalahan itu keras kepala, mengapa tidak dikatakan saja. “ah, paling muncul pledoi-pledoi”. Belum dicoba kan?

Maka ingatkanlah wahai saudaraku seiman, ketika aku salah. Karena berbuat kesalahan adalah berjalan ke tepi jurang. Maka tegakah kalian ketika aku jatuh ke jurang dan tak bisa naik kembali?.

Dan kini aku mengerti secara hikmah, mengapa ALlah sangat membenci ghibah, fitnah, dan namimah. Aku hanya mencoba mencari penalaran logis saja. Ya, mengapapun ALlah membencinya. Aku hanya bisa melogiskan dengan sebuah kejadian. Hmm…penalaran logisnya tidak usah ditulis disini ya. Yang penting untung, kalo diomongin dibelakang kan dosanya ditanggung ama yang ngomongin, heheh (tertawa licik).

Bersaudara itu membutuhkan saling memahami, bukan asumsi-asumsi. Bukan paradigma-paradigma. Bukan permintaan untuk dipahami, hanya pahami saja dia saudara kita, terlepas dia memahami kita atau tidak.  Aku jadi paham, yang namanya saudara itu tetap membantu secara gerilya atau minimal mendoakan walau hati kita tersakiti. Yang namanya saudara itu mendahulukan saudaranya ketimbang dirinya sendiri. Yang namanya saudara itu memilih dirinya yang sengsara daripada saudaranya yang harus sengsara, jika memang tidak ada pilihan sama2 bahagia.

Ah, bersaudara kan hanya masalah muamalah (hanya?). Kata siapa? Kata aku mah ibadah

Jadi, pahamkah kita bahwa bersaudara adalah konsekuensi keimanan kita. Konsekuensi keislaman kita. Karena Rasulullah telah mencatatkan bahwa tidak ada apa-apanya iman ini jika kita tidak mencintai saudara seiman seperti kita mencintai diri sendiri. Syahadah ini, Asyhaduallaailaahaillah..wa asyhaduanna muhammadarrasulullah… Syahadah ini, yang seharusnya mengikat hati-hati kita dalam satu cinta. Cinta dalam makna bukan dalam kata, lurus pada sang Mahacinta.

Aku jadi berkaca diri, sudahkah aku menjadi saudara bagi mereka yang ada dikehidupanku?

special dedicate for : My Uni, dan akhirnya detik-detik perpisahan itu datang juga

tribute to : Abi Stanza, Adisti Dini Idreswari, Adi ‘cubadax’ Putra, Agtri Leandini, Ami Ramdhani, Anni Nuraeni, Annisa Ramdhaningtias, Anthoni, Army Alghifari, Arinda Amalia Putri,  Arini Puspita Tulus, Asrofah Sartini, A. Rohmatullah Sofyandi Sedar, Benazir Desytta, Bobby Rahman, Citra Gusti Lestari, Deri Meidian Ramdhani, Diah Ajeng Setiawati,  Diana Yusnita, Dhian Kurniasari, Endah Lestari Puji Astuti, Erqurani Hijrian Muslim, Fani Ferdiana, Febianti, Febriya Antensari, Fenny Rahayu Prasetyoningsih, Fitrasani, Gesa Falugon, Galih Surya Permana, Gilang WidyaWisaksana, Hadi Teguh Yudistira, Hendri Sabeth, Husna Nugrahapraja, Ike Mediawati, Ingrid Desiana Darmawati, Krisna Adiarini,  Morinta Rosandini, Muhammad Yunus, Muhammad Arif Andromedae, Nailul Khisolil Fitri, Novi Astuti, Oki Earlivan Sampurno, Panji Prabowo, Patminingsih, Raden Raditya Yudha Wiranegara, Ratih Putri, Ratihqah Munar Wahyu, Reni Nursatwika palupi, Reni Noviyanti, Ridwan Aldillah, Rizkiwati Fitriah Djangko, Rizky Ayu Maulani Yusuf, Shally Pristine, Shinta Yulizia, Sra Harke Pratama, Sunarni Riningsih, Surya Kresnanda, Syifa Latifah Zahra, Taqisthi Viona, Tri Aji Nugroho, Yayuk Purwandari, Yuanita Tri Adityasari, Yuli Astuti, Wiedy Yang Essa

~~

pipilagimeracau

Iklan

Februari 15, 2009 at 3:37 pm 2 komentar

WE WILL NOT GO DOWN! -song for Gaza-

(Composed by Michael Heart)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down In Gaza tonight

Download Lagunya

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Januari 16, 2009 at 10:28 am 1 komentar

Kenapa harus peduli?

Ngapain sih ribut-ribut soal Palestina? Halloooowwwwww… negara kita aja udah megap-megap menghidupi dirinya. Lu liat kan? BBM langka, air ga tau kemana, sembako mahal, biaya pendidikan setinggi langit, BHP aja ga keurusan, belum lagi masalah bencana alam, korupsi edan!, apalagi Lapindo, tau dah nasib Sidoarjo sana.

Buat ngurusin masalah itu aja susah, masih keteran, padahal kita yang mahasiswa ini baru bisa ngomong doang ama pencerdasan dikit-dikit, eh… mau ngomongin rumah tangga orang. Udah lah, biarin aja itu palestina ama Israel, dari dulu juga mereka ribut terus ga kelar-kelar. Ada PBB ini yang bisa ngurus kayak gituan. Rumah tangga kita ajalah benahin dulu.

Kalo kita manusia, kalo kita benar-benar bangsa Indonesia, dan kalo kita Muslim, kata-kata diatas ga pernah ada.

Kawan, setiap hari Senin, dengan pakaian seragam Merah-Putih kita, dengan pakaian seragam Biru-Putih kita, dengan seragam Abu-Putih kita,  selama 12 tahun hari Senin kita, kata-kata ini senantiasa didengungkan. Seakan menjadi doktrin yang kemudian akan mendarahdaging dalam kehidupan kita. Yang akan mengalir bersama aliran darah kita. Bahwa…

sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

………………..

Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,……………”

Kawan, masalah Palestina bukan hanya soal masalah kemanusiaan, tapi juga  soal kebangsaan. Mungkin banyak dari kita yang belum mengetahui bahwa kita sebagai bangsa Indonesia punya hutang sejarah terhadap bangsa Palestina.

Soekarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI secara de facto 17 Agustus 1945, tetapi untuk berdiri  sebagai negara yang berdaulat,de jure), Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Dan taukah kawan, negara mana yang pertama kali mengakui kedaulatan Indonesia? PALESTINA. Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina-.

Sebagai bukti, saya kutip artikel berikut ini :

Gong dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan
Mesir, seperti dikutip dari buku “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia , M. Zein Hassan Lc. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan), dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikap.

Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina-  secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia:

“.., pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.” Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh. Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini.

Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Soekarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Tersebutlah seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan Indonesia, Muhammad Ali Taher. Beliau adalah seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia ..

Setelah seruan itu, maka negara daulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali oleh Negara Mesir 1949. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

Dukungan Mengalir Setelah Itu

Setelah itu, sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia menjadi sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk ‘Panitia Pembela Indonesia’. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat  gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi-demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945 yang menewaskan ribuan penduduk Surabaya, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.

Yang mencolok dari gerakan massa internasional adalah ketika momentum Pasca Agresi Militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus. Saat kapal “Volendam” milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said. Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih – tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan. Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk “Volendam”  bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir.

Wartawan ‘Al-Balagh‘ pada 10/8/47 melaporkan:
“Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”

Melihat fenomena itu, majalah TIME (25/1/46) dengan nada minornya menakut-nakuti Barat dengan kebangkitan Nasionalisme Islam di Asia dan Dunia Arab. “Kebangkitan Islam di negeri Muslim terbesar di dunia seperti di Indonesia akan menginspirasikan negeri-negeri Islam lainnya untuk membebaskan diri dari Eropa.”

Melihat peliknya usaha kita untuk merdeka, semoga bangsa Indonesia yang saat ini merasakan nikmatnya hidup berdaulat tidak melupakan peran bangsa bangsa Arab, khususnya Palestina dalam membantu perdjoeangan kita.

Statement Tokoh dalam buku ini:

Dr. Moh. Hatta
“Kemenangan diplomasi Indonesia yang dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.”

A.H. Nasution
“Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan IranTurki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ’45 : “ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Saya jadi teringat diskusi saya dengan seorang teman yang tau banyak soal wajah dunia Islam. Diskusi saat itu terbina karena acara National Geographic edisi Natal menayangkan tentang Kota Suci Jerusalem. Saat itu saya bertanya, “emang segimana hebatnya kota ini sih sampe tiga agama satu bapak ini sampe segitunya diperebutkan?”. Dengan redaksi tidak tepat, teman saya itu mengatakan, “Palestina adalah Ideologi sekaligus simbol. Simbol kekuatan ideologi siapa yang paling kuat di muka bumi”. Katanya lagi, waktu Palestina ditundukkan dalam perang salib, kekuatan Islam memang sedang berjaya. 1/3 dunia berada dalam naungan Islam. Dan ketika Palestina berada dalam kekuasaan Romawi, memang saat itu Romawi dalam masa kegemilangan. Palestina adalah simbol sekaligus ideologi. Ideologi siapa yang tertancap kuat diatas  muka bumi, maka simbolnya adalah kekuasaannya atas bumi Palestina. Bumi suci umat Islam, Nasrani, atau Yahudi sekaligus.

Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk Palestina?

1. BERDOA

Doakan saudara-saudara kita disana, karena doa adalah kekuatan utama kita umat Muslim. Saudara-saudara kita disana mungkin tidak butuh belas kasihan kita, tapi ia butuh doa kita. Allah telah mempercayakan mereka untuk mengemban amanah kemenangan Islam di bumi Palestina, dan itu janji Allah yang pasti. Tapi kebenaran janji Allah itu harus dijemput, dengan doa-doa.

2. PERKATAAN

Punya blog, tulis pemikiran kita di blog. Ajak teman-teman untuk ikut peduli terhadap permasalahan Palestina. Tidak ada istilah TALKLESS, DO MORE disini. Karena kata adalah pedang media dan propaganda.

3. PERBUATAN

Satu kata : BOIKOT! Perang mereka butuh dana. Dan tanpa sadar kita telah mendanai mereka melalui kegiatan konsumsi kita. Unilever, McD, Cocacola, Netsle, Maybelline, dan banyak produk lainnya adalah corong dana Yahudi. Kita adalah konsumen mereka, maka dari kita pulalah mereka memiliki dana. Sok lah, itung-itung swasembada dan kampanye CINTA PRODUK DALAM NEGERI.

boycott-israel-275x275

Ada aksi Palestine, ikut! Ini salahsatu bukti kita peduli. Sadar tidak sadar, aksi ke jalan cukup efektif untuk menekan pemerintah Mesir dan dunia (PBB). Sampai saat ini pintu perbatasan Rafah masih tertutup. Kita tekan pemerintah Mesir untuk segera membuka pintu perbatasan Rafah.

gaza-mubarak1

DONASI. Salurkan dana untuk Palestina melalui LDK-LDK kampus masing-masing. Atau ke rekening 6860153678 BCA a.n Medical Emergency Rescue Committe (MER-C).

InfoPalestina.com : Direktur Pelayanan Ambulan dan Emergency Departemen Kesehatan Palestina, Dr. Muawiyah Husnain menegaskan jumlah korban agresi Zionis Israel hingga Sabtu (10/01) pagi mencapai 821 gugur, 230 di antaranya anak-anak dan 93 wanita serta 12 relawan tim medis dan sejumlah wartawan. Sementara itu korban luka mencapai 3350 orang, 50% di antaranya adalah anak-anak dan kaum wanita. Lebih dari 400 di antaranya dalam kondisi kritis.

~~~

“Perumpamaan kaum muslimin yang saling kasih mengasihi dan cinta mencintai antara satu sama lain ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota berasa sakit maka seluruh tubuh akan turut berasa sakit dan tidak dapat tidur.” (HR Bukhari)

Daftar Produk AS yang Diboikot Oleh Para Ulama

Sumber: al Markaz al Filistini lil I’lam (PIC) (abu ais)

Restoran:

KFC
Arbys
McDonalds
McBurger
Pizza Hut
Chilies
Hardees
Paridies
Pizza Little Sitzer
Jack in the Box
A&W
Kantez
Baskin Robbins
Wimpy
Dominos Pizza
Texas
Slizer

Produsen Makanan & Minuman AS:

Minuman:

– Pepsi dan anak perusahaannya: Mirinda dan 7up
– The Coca-Cola Company dan anak perusahannya (Anda kalau membaca tulisan Cola-cola dari belakang botol, akan tertulis: no Muhammad, no Mecca): Sprite dan Fanta


Produk Hanes and Crystal: Mayonnaise, Kecap
California Garden and Warner & Lambert
T-Shirt, Sepatu: Semua baju dan sepatu merk Nike (pernah tertulis kata “Allah” dalam sebuah produknya), Adidas, Kate dan Calvin Klein

Peralatan Listrik :
Power, Union Air, Clifinitour , Admiral, Harmony, Alaska, Duncan, Motorola, Alcatel.

Baterei: Everydy, Energizer dan Doorsill

Mobil:
Ford, Chrysler, Hammer, Chevrolet, Puck

Dan Semua produk General Electric

Perusahaan-Perusahaan AS yang mendanai Zionisme Internasional:

A & M FOODS
A & W BRANDS
A. CAMACHO, INC .
A. ZEREGA’S SONS
A. PANZA & SONS
A.E. STALEY MANUFACTURING COMPANY
A.J. ALTMAN
A.L. BAZZINI CO
A ARHUS, INC
ABBA AB BEIJER COMPANY
ABCO LABORATORIES
ABEL & SCHAFER
ABELES & HEYMANN
ABRAHAM’S NATURAL FOOD
ACCRU PAC GROUP
ACE BAKING CO .
ACIME SMOKED FISH CORP
ADAMS VEG. OILS
ADAM MILLING
ADRIENNE’S GOURMET FOODS
ADVANCED SPICE & TRADING
AG PROCESSING
AGRO FOODS
AIR PRODUCTS & CHEMICALS,INC
AJINOMOTO, U.S.A
AK PHARMA, INC
AKZO & PACIFIC OLEOCHEMICALS
ALBERTO-CULVER COMPANY
ALBRIGHT & WILSON CO .
ALCAN FOIL PRODUCTS
ALEX FRIES & BROS .
ALGOOD FOOD COMPANY
ALL STAR FOODS
ALLE PROCESSING
LLEN FOOD PRODUCTS
ALLFRESH FOOD PRODUCTS
ALLIED CUSTOM GYPSUM COMPANY
ALLIED FOOD DISTRIBUTORS
ALLTECH
ALEO FARMS
ALTA DENA
ALUMAX FOILS

Bahan-bahan Kimia dan pembersih:

1. PT. Procter and Gamble (memproduksi: Oloiez, Pampers, Ferry, Downy, Ariel, Tide, Head and Shoulder, Pantene, Camay, Zeset, Mack Factor, Carmen)

2. PT. Johnson & Johnson (memproduksi: Shower to Shower, Cream Johnson)

3. Nectar

4. Avon

5. Revlon

6. Gardena

7. Pasta gigi Corset

Alat Tulis: Bulpen merk Shiver, Parker dan Hear

Bank Amerika: Bank America International, American Express, Bank of America, Bank of New York
Lain-lain: Rokok AS seperti: Marlboro, Kant, Janstown, Lark, Merit, Gold Cost, Carlton, LM, More.

Para ulama’ tersebut adalah:
1. Prof. DR. Yusuf Qardhawi, Ulama dan Cendekiawan Muslim kondang di seluruh dunia. Kini tinggal di Doha, Qatar.
2. Syeikh Salman bin Fahd Al Audah, ulama’ kharismatik dari Arab Saudi
3. Syeikh Muhammad Saed Ramadhan al Buthi, ulama’ kharismatik tinggal di Suriah
4. Syeikh Abdullah al Jibrin, ulama’ Arab Saudi dan anggota Persatuan Ulama Besar Arab Saudi
5. DR. Hammam Saed dan DR. Muhammad Abu Faris, Intelektual Muslim tinggal Amman, Yordania.
6. DR. Naser Farid Wasil, Mufti Mesir
7. Fatwa Majelis Ulama Sudan
8. Fatwa Majelis Ulama Palestina

Januari 10, 2009 at 10:50 pm 1 komentar

Palestina #1

Surabaya Dulu, Gaza Sekarang

Oleh Shofwan Al-Banna Choiruzzad

Surabaya, 1945

Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu masih menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan Jepang di Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman: “menyerah, atau hancur”.

Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah para perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari bendera Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak rela kembali dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan, bersembunyi di balik alasan “memulihkan perdamaian dan ketertiban”. Jiwa-jiwa merdeka itu berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris di Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.

Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak yang menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah, Cokroaminoto dan Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.

Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.

“Saudara-saudara rakyat Surabaya.
Bersiaplah! Keadaan genting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak.
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap.
Merdeka atau mati.
Dan kita yakin, Saudara-saudara.
Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah Saudara-saudara!
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Merdeka!”

Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.

***

Gaza, peralihan tahun 2008-2009

Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi akibat pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi ilegal pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang dibuatnya sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008, pesawat-pesawat Israel yang dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman Washington membombardir kota ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan Israel, menyatakan bahwa operasi berjudul “Cast Lead” ini akan memakan waktu lama. Hingga hari ini, 510 orang telah meninggal dunia dan ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis diizinkan masuk. Bantuan medis pun kesulitan.

Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat kurang dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.

***

Hati saya sakit saat ada yang berkata: “Ngapain kita ngurusin Palestina, wong negeri kita saja masih amburadul”.

Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia di radio internasional.

Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan kejam pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang Dasar 1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. “Jangan pikirkan hal lain kecuali Indonesia” adalah logika yang menghina keindonesiaan.

Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan “Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di Indonesia terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!

Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang lebih menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan ini adalah respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan sikap HAMAS yang memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus menelaah peringatan Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya Beyond Chutzpah: On the Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History dan Image and Reality of Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah dibajak untuk tidak pernah mengkritisi Israel dan media massa pun tidak bebas dari pembajakan ini. Untuk melihat bias media barat dalam isu Palestina, silakan buka www.ifamericansknew .org.

Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan perlawanan itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara Israel. Tidak ada yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar perjanjian damai yang disepakatinya sendiri dengan membiarkan pemukiman ilegal terus tumbuh. Kita juga tak boleh lupa dengan tembok pemisah apartheid Israel yang memutus akses rakyat Palestina pada kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi blokade Gaza yang lebih kejam dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.

Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…

Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini. Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: “Ini dadaku, mana dadamu!

Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi Militer Belanda pada tahun 1948. “Itu kan salah para pejuang kemerdekaan Indonesia yang tidak mau damai!

Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang darah pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran terhadap penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of Palestine). Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah Khilafah Utsmaniyah tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan saudara-saudara mereka yang mengungsi dari kebiadaban Eropa dan membawa ide rasis radikal untuk mendirikan Israel (Amy Dockser Marcus, Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi saat itu yang sekecil komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba menuntut Negara sendiri dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah penduduk aslinya. Kalau muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan Negara Islam, mereka pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.

Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus hidup di antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang Palestina untuk menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada mereka, lha wong keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika popularitas HAMAS semakin lama justru semakin meningkat.

Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta ini. Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam narasi fiktif “Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh HAMAS yang ekstrimis yang tidak mau damai”.

Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba Israel itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka yang menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya mendukung proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan terbuka yang melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah. Tidak sekedar perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu dipaksakan pada Palestina.

Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak pada yang lemah dan tertindas.

“If you stand for nothing, you will fall for anything”

Januari 10, 2009 at 4:45 pm Tinggalkan komentar

Kau tak tahu betapa rapuhnya aku… huoooohuoooohuoooohuooo

Setelah otak membeku dan mencair lagi, kemudian beku lagi, dan cair lagi, dan beku lagi. Jadi mati rasa gitu. Gara-gara apa coba? Sudah lebih dari seminggu, lift PAU mati. Dan saudara-saudara, aku kan labnya di Lantai 6. Ghyaboooo…

hah, sudahlah… capek bolak-balik  lantai 6 naik tangga. mari kita karaokean saja, bersama anggota lab lainnya, especially Ike, Teh Mila, dan Bundo Nita. Tapi, lagunya… agak-agak gimanaaaa gitu. “Pas mift, lagi pas lagunya ama suasana hati”. hahahahaha… bisa aja. Ni karokean lagu ini ampe Teh Mila ngamuk2 muak dan pengen bunuh penyanyinya. Dan sudah menjebak Kyky, nyangka lagu opick. Padahal bukaaaaaan. Joeniar Arief, siapakah dia? vokalis TOFU. Yah, sesekali diselingi lagu Evanescence Bring Me To Life, dan Glory of Love-nya lupa nama bandnya. Tadinya mau karokean lagunya Meteor Garden yang judulnya Liu Xing Yu alias Meteor Rain, ama Hau Xiang Hau Xiang  Kabut CInta, tau gak? itu lho… Vicky Zhao si Putri Huan Zu, tapi ternyata unduhan lagunya ble’e. Yasudah, kita karokean lagu rapuh saja ampe Teh Mila mabok rapuh.

….Rapuh….

Kau tak tahu betapa rapuhnya aku
Bagai lapisan tipis air yang beku
Sentuhan lembut kan hancurkan aku

Walaupun cinta tak sempurna
Menghampiriku seketika
Ku ingin kau tahu betapa rapuhnya aku

Kau tak tahu betapa rapuhnya aku
Masih terasa luka dimasa lalu
Ku pernah mencintai sepenuh hati
Namun cinta itu pergi

Dan ku terluka luka membekas
Bekas membuat buat selamanya
Selamanya ku
Ku ‘kan selalu
Ku ‘kan selalu rapuh

Kau ingin tunjukan kepada dunia
Tak hanya ada karena masa lalu
Tapi masih ada harapan bagi yang baru

Kau tawarkanku sejuta harapan
Namun kenangan itu tak pernah hilang
Ku ingin kau tahu betapa rapuhnya aku

Kau datang bagai hujan
Basahi tanah hati
Tapi kau lihat sendiri luka ini

——-

Maaf ya saudara-saudara pembaca blog keren ini, penulis dan kawan-kawan disampingnya sedang butuh hiburan tidak biasa. daripada loncat indah dari lantai 6 ke kolam renang sabuga, mending karokean. Daripada gitu, mending tilawah pi….

Piss ah, doakan kami lulus april yaaaaaaaaaaaaw… hohohohoho…amiiiiiiiiin

Januari 3, 2009 at 7:11 pm 7 komentar

Habis Cara

Bismillahirrahmanirrahim… Tanpa tendensi apapun. Ikhlas karena Allah, dan biar Allah saja yang tahu, sedalam apa tulusku.

Saudaraku. Ya! kamu saudaraku. Kamu yang mungkin sekarang sudah tidak punya alasan lagi untuk mendengarku. Kamu yang punya hak untuk marah dan menganggapku sebagai benalu dan pengganggu.

Assalamualaikum wr wb

Bahkan Abu Bakar pun rela dan menahan sakit hingga meneteskan airmata ketika menginginkan Rasulullah saw tetap terlelap dalam istirahatnya.

Saudara mana yang sanggup membiarkan saudaranya menderita, padahal dirinya mungkin bisa mengurangi beban saudaranya itu, bukan sekedar melihat dan membiarkan saja.. (walaupun itu yang kamu inginkan)

Apa arti iman seorang muslim jika ia tidak bisa mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Tapi maaf, jika cinta seorang saudara yang ingin menjadi muslim yang kaffah ini justru mengganggu kehidupanmu. Biarlah Allah yang menjelaskan.

Maaf.

Kau mengenalku, aku mengenalmu (atau kau sebenarnya tak mengenalku?). Tapi aku habis cara. Aku tidak tau harus apa, harus bagaimana.

Mungkin, jika  bukan aku yang bicara, kau akan mendengarkan.

Desember 25, 2008 at 7:35 pm Tinggalkan komentar

Mencari kehidupan

Kalo baca judulnya, pasti dibilang LEBAAAAAAAAAI ama anggota geng-gong.

Kemaren waktu syukwis, kami telah menobatkan pangkat kehormatan pada anggota geng lebai yang sangat ingin naik pangkat. Semula dia bergelar Lebai Mula, kemudian menjadi Lebai Madya. dan karena mendesak kami, dia kami nobatkan sebagai Lebai 6.

HADI TEGUH YUDHISTIRA S.T. L6

akhirnya saudaraku yang ini akan memulai kehidupan barunya di negeri-nya “My Name is Raine” yang bikin kita-kita mabok jijik. hahahaha… kemarin kita ngasih kenang-kenangan CD testimonial. semoga pesan-kesan-saran (loh, MESTAKUNG! PKS PKS… ga sengaja seriusan) yang tertulis disana tetap menguatkan persaudaraan kita ya, teman. Semoga nanti kita menjadi partner yang kompak untuk mewujudkan cita-cita “agar negeri ini segera tersenyum

Akhirnya posting juga,

oia, aku juga lagi mau nyari kehidupan nih. mencari separuh jiwa yang hilang, halah! (jangan mikir macem2!). Ada yang punya no HP DPD Trenggalek ga?

Agustus 4, 2008 at 10:24 am 4 komentar

Pos-pos Lebih Lama


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 86.106 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku