Posts tagged ‘TRENDI’

Penangguhan Kemenangan

Judul ini dipake karena pagi tadi baru dapet dari materi Lingkaran Cahaya. Materi yang membesarkan hati setelah menghadapi kenyataan PENANGGUHAN KEMENANGAN dari-Nya.

Kemenangan, niscayanya datang dari Allah, Yang Mahatahu, Yang Mahabaik, dan Mahabijaksana. Kemenangan, niscayanya menjadi sebuah penggerak mata hati kita untuk berbuat lebih banyak, bukan hanya karena tanggungjawab yang lebih banyak. Kemenangan, niscayanya adalah buah dari effort dan optimisme, serta hasil pertambahan dan pengalian nilai-nilai keikhlasan dalam koridor koefisien yang hanya Ia yang tahu.

Ketika dari sebuah kerja keras, akhirnya Allah baru memberikan kemenangan akhirat, bukan kemenangan dunia, maka bukan Ia tidak memberikan Kemenangan itu. Tapi Ia menangguhkan hingga suatu masa kemenangan yang lebih berkah itu kita sambut dengan tangis keikhlasan dan ketawakkalan.

Ketika kemudian kemenangan itu ditangguhkan, belum berarti kemenangan itu berpaling karena dosa-dosa kita. Murabbiyah saya pernah bercerita ketika masa kampanye, bahwa kita harus optimis terhadap perjuangan dakwah siyasi ini. Berkaca dari kemenangan HADE, bahwa kemenangan yang Allah berikan bukan hanya dari effort kita yang besar. Tapi ada nilai keberkahan didalamnya. Kemenangan itu lahir dari keberkahan dakwah dan jamaah. Keberkahan yang Allah kabulkan atas doa-doa orang beriman, doa-doa anak sholeh, dan doa-doa rakyat yang ikhlas terhadap pemimpinnya. “Dan kita seharusnya harus sangat optimis, karena yang mendoakan kemenangan TRENDI bukan hanya kader-kadernya, tetapi juga para dhuafa, anak-anak yatim, dan orang-orang yang telah disantuni oleh Ust Abu Syauqi melalui Rumah Zakatnya. Dan seharusnya kita tidak menghalangi doa-doa mereka dengan perbuatan-perbuatan munkar kita“. Astaghfirullah… Memang, kita harus banyak berkaca atas perilaku kita. Tetapi, Allah melarang kita terlalu larut dalam kesedihan dan menyalahkan diri sendiri atas takdir yang diberikan-Nya. Padahal, takdir itu adalah yang terbaik dari-Nya. Untuk persamaan point ini, kita beri nama A dengan koefisien a.

Kemudian, kemenangan itu ditangguhkan mungkin karena Umat Muslim yang berjuang belum siap menerima tanggungjawab kemenangan. Mungkin mereka telah berjuang dengan harta dan raganya. Namun ketika ruhnya belum siap menerima kemenangan, maka Allah yang Mahabaik ini melindungi umat-Nya dari fitnah. Karena ketidaksiapan melaksanakan tanggungjawab kemenangan akan mengakibatkan kerapuhan dalam berbuat, ketidaksiapan menerima kemenangan mengakibatkan ketidakprofesionalan dalam melayani umat. Sehingga kemenangan itu justru menjadi fitnah bagi umat muslim dan kemenangan itu akan sangat mudah direbut oleh musuh. Untuk persamaan point ini, kita beri nama B dengan koefisien b.

Penangguhan kemenangan akan menunjukkan pada pejuangnya bagaimana manisnya Iman. Kemenangan yang datang dari Allah akan datang ketika harta, jiwa, dan raga ini sudah diinfakkan dalam jalan dakwah dengan semaksimal mungkin. Kemenangan itu akan datang ketika segala daya upaya telah dicurahkan dan hingga hanya satu hal tersisa, kepasrahan dalam beramal. Tawakkal. Ketika perjuangan tidak melahirkan ketawakkalan, kemenangan yang diraih hanya rasa mangga (dibaca : cuma hasil effort kita saja). Tapi ketika kekuatan musuh yang gila-gilaan itu sudah sangat hebat dan tidak terbendung oleh kekuatan harta dan fisik kita, dan pada akhirnya kita mengeluarkan pusaka terakhir kita (dibaca : doa dan ketawakkalan), maka kemenangan itu akan berasa nano-nano (dibaca : terasa sebagai rahmat dan karunia-Nya). Untuk persamaan point ini, kita beri nama C dengan koefisien c.

Dari situ, kita akan merasa, bahwa kemenangan itu bukan hanya hasil kerja keras kita, tapi adalah milik Allah. Ketika kita merasa “eits, gue kan udah ngasih effort gede, jelaslah menang!”, kita akan semakin mendekati ujub dan kesombongan. Maka bersyukurlah ketika kemenangan itu ditangguhkan. Berarti Allah masih mencintai kita. Kemenangan adalah kemenangan, ketika kemenangan itu semakin mendekatkan kita pada Dzat Penggenggam Jiwa ini. Dengan ditangguhkannya kemenangan, kita semakin banyak berintrospeksi diri. Peperangan yang dipimpin rasul aja ga selamanya menang. Ya itu memang supaya sahabat banyak introspeksi diri, karena kalah jadi sadar kalo ternyata barisan dakwah udah ga lagi rapih, amalan yaumiyan mengendur, dsb. Sampai akhirnya mereka memperkuat iman dan merapihkan barisan dakwah lagi, dan akhirnya kemenangan di peperangan selanjutnya menjadi buah keberkahan yang tertunda. Subhanallah… Untuk persamaan point ini, kita beri nama D dengan koefisien d.

Kata Murabbiyah-ku, Kemenangan mungkin juga ditangguhkan karena masih ada sebagian dari kita yang belum ikhlas berjuang. Mungkin masih ada yang menginginkan dunia, seperti : (yang ini contohnya gak banget)

1. seneng2 aja, ntar kan sering ketemu ama temen2 pas DS

2. biar keren gitu, ada bukti bisa closing berapa orang

3. biar kalo mutabaah amalan yaumiyan siyasi, penuh dan dahsyat!

4. dan yang lebih gak banget, biar ketemu sama si “itu”. kan dia koordinator ‘sesuatu’… halah… penting ya

Dikatakan sebagian, bukan seluruhnya. Artinya, setiap kita adalah penting. Setiap tindak-tanduk kita akan sangat mempengaruhi kehidupan jamaah. Ada seseorang diantara kita yang tidak ikhlas, masih sering maksiat, masih doyan ghibah (astaghfirullah…), ya kita emang ikut berkontribusi mengeroposkan pilar-pilar jamaah.  Untuk persamaan point ini, kita beri nama E dengan koefisien e.

Kemudian, penangguhan kemenangan juga Allah takdirkan karena mungkin memang masih ada kebaikan dalam kebatilan. “Ngerti gak?” murabbiyah-ku bertanya. Dan tanpa konsolodasi sebelumnya, semua peserta lingkaran cahaya itu menggeleng, “enggak”. Murabbiyah-ku memberikan permisalan paling dekat. “Mungkin dalam Pemerintahan Dada sebelumnya, walaupun yang banyak kita ketahui adalah kekurangan dan permasalahan, mungkin ada kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh beliau yang kita tidak tau. Dan ketika beliau kalah, tunas-tunas kebaikan itu akan ikut hancur bersama kebatilan yang terjadi. Jadi, ketika kebatilan itu dihancurkan, kebaikan-kebaikan itu juga akan ikut hancur.”. Kami ber-ooooo panjang. Untuk persamaan point ini, kita beri nama F dengan koefisien f.

Kemudian, belum nyata benar kebatilan-kebatilan yang ada, juga menjadi salahsatu faktor penangguhan kemenangan. Murabbiyahku memberikan contoh kasus PLTSa. Yang masyarakat mengerti, pembangunan PLTSa adalah program kerja yang baik. Ya iya lah, secara sampah mau dijadiin duit gitu. Cuma orang gila yang menentang program sebagus itu. Dalam hal ini, PLTSa masih menjadi pilihan terbaik untuk mengkonversi sampah menjadi rupiah dalam kacamata masyarakat awam. Belum terbukti nyata bahwa PLTSa yang justru lebih berbahaya dari sampah akan mandatangkan permasalahan baru yang lebih kompleks. Untuk hal ini, saya langsung mengerti. Mungkin, memang karena selama ini masyarakat Bandung juga merasa bahwa pemerintahan kota ga banyak ngasih masalah buat kehidupannya. Maka, memang belum nyata benar kebatilan yang ada. Untuk persamaan point ini, kita beri nama G dengan koefisien g.

dan point terakhir adalah, Masyarakat memang belum siap menerima Al-Haq. mungkin, masyarakat saat ini belum se-sholeh masyarakat Madinah. Murabbiyah ku kemudian bercerita tentang umat Nabi Musa, bahwa setelah diberikan oleh-Nya kemenangan, umat Nabi Musa justru minta dibuatkan patung untuk disembah. Dalam hal ini, kemenangan justru akan menjauhkan masyarakat dari Pemiliknya. Untuk persamaan point ini, kita beri nama H dengan koefisien h.

Diketahui :

KEMENANGAN akan diperoleh jika dan hanya jika  SP = 0

dengan SP : Skor Perjuangan

dimana : SP = aA + bB + cC + dD + eE + fF + gG + hH

dengan nilai a, b, c, d, e, f, g, h = 0 atau 1

maka, berapa skor kita?

Wallahua’lam bi shawab. Semoga bermanfaat…

Iklan

Agustus 20, 2008 at 11:44 am 7 komentar

Yang Muda Yang Bergairah

Dengan nada : Biarlah by NIDJI

Biarlah… kau pilih

Nomor dua…

Yang selalu TRENDI

Berikanlah TRENDI

Kekuatan

Tuk jadi pemimpin

Kau pilih, yang TRENDI

Kau pasti ikut TRENDI

Kau pilih, yang TRENDI

Kau pasti jadi TRENDI

Nada : Jadikan aku yang kedua ny ASTRID

Pilihlah TRENDI nomor dua

Kan ku buat kau bahagia

Stop-stop. Ntar ga mulai-mulai nulisnya

Cuplikan gubahan lagu di atas dinyanyikan oleh pasangan TRENDI saat kampanye akbar. Kebayang ga kalo Pak Taufik yang pendiam dan garing itu bisa nyanyi? (Bisa bikin album dong, kayak mantan Gubernur JATIM Basofi Sudirman). Kalo anak SITH liat, bisa terbengong-bengong kayak si aku yang nge-syut ama Nisa. Langsung nganga? Hwaa.. Si babeh nyanyi… sudah-sudah, Bukan mau ngomongin album lagu dari calon pasangan eksekutif D 1 ini. Sekarang mau cerita tentang trend kepemimpinan muda nih ceritanya (dengan bumbu-bumbu dokumentasi acara kampanye akbar kemaren).

4 Agustus 2008 lalu, pasangan TRENDI mengadakan kampanye akbar di Gasibu dengan juru kampanye Kang Haru Suandaru Ketua DPD PKS Kota Bandung (Si Pipi sok akrab pisan, manggilnya Kang. Eits, beliau asisten praktikumku kok, hehehe. Kebiasaan deh jadinya), Ketua Dewan Syuro PKS Ust. Hilmi Aminudin, Ketua Partai-partai Pendukung, Presiden PKS Ust. Tifatul Sembiring, Sekjend PKS Ust Anis Matta, dan ternyata Mantan WAKAPOLRI dan Mantan CaGub DKI Jakarta Adang Daradjatun juga tampil sebagai orator. Dimeriahkan juga oleh Munsyid-munsyid Haroki seperti Izzatul Islam dari Jakarta dan Shoutul Harokah dari Bandung (yang ini kayanya kudu ada), Komunitas Penyanyi Jalanan, Seniman Calung, Qasidah dari Ibu-ibu Majelis Ta’lim, Barongsai, Badut-badut, yang pengen eksis:Trendi-Man, dan karena tagline yang diusung adalah Kepemimpinan Muda dan Kreatifitas, ada juga Rapper muda Ebiet Beat A yang juga Panglimanya Relawan Biru.

Kepemimpinan Muda. Bang Fadjroel dalam Cover Story-nya TVOne sempet bilang kalo bangsa ini memang butuh pemimpin-pemimpin muda. Seperti dalam Sejarah bahwa Saat terpilih menjadi Presiden, usia Soekarno dan Soeharto saat itu masih sangat muda. Dan kini, Pemimpin baru itulah yang dibutuhkan. Pak Tif juga menyatakan dalam orasinya bahwa PKS untuk Pemilu 2009 juga akan menonjolkan pemimpin-pemimpin BALITA. Bawah Lima Puluh Tahun. Pernyataan ini yang kemudian menyulut kontroversi dan ‘protes’ Bu Mega yang notabene berusia 61 tahun. AH, emang dasar Pak Tif, saat orasi, beliau sempat saja ber-MEGA PANTUN. Katanya,

Teman-teman wartawan jangan dibalik jadi PANTUN MEGA ya, beliau berpesan. (berpesan?)

Anak balita bertopi merah

Topi terbuat dari katun

Daripada ibu jadi pemarah

Lebih baik kita berbalas pantun

Cari pemimpin mesti telaten

Sambangi rakyat tak berbaju

Kalo ibu nak jadi presiden

Monggo kerso silahkan maju

Buat apa pergi ke seberang

Airnya susut banyak bebatu

Buat apa melarang orang

Sudah terbayang kursi RI 1

Parah betul bapak ni emang

Dan selain berpantun, peserta kampanye juga diajak yel-yel seru! Salahsatunya yang paling asik,

Nomor dua!

Hade Pisan

Nomor dua!

Hade Pisan

Nomor dua!

Hade Pisan

Ada yang nongol noh dari gedung sate, kata Pak Tif

Penulis said: kayanya buat jadi pemimpin bukan Cuma butuh muda dan kreatif, tapi juga KOCAK!

——————————BERSAMBUNG

Agustus 5, 2008 at 12:03 pm 5 komentar

Ehemm… Ana juga kader

Rabu kemaren, ceritanya aku, nisa dan Nur (ponakan kang Ma’mun) pergi jadi sellernya TRENDI… Asyik ternyata menjadi sales yang kukira melelahkan dan terkesan ‘murahan’ gitu, nyatanya rasanya berbeda!

Setelah berkeliling dari rumah kerumah, akhirnya aku menemukan beberapa rumah yang sudah di-closing waktu Direct Selling yang pertama. Niatku kesana hari itu adalah minta No HP mereka buat Gerakan Akhlakul Karimah. Program SMS Tausyiah dari IKADI (Ikatan Da’i Indonesia). Ups, mampir dulu ah ke rumah kuning deket TK. waktu itu belom sempet masuk ke rumah yang ini karena kosong. Hari itu ada nenek-nenek yang duduk di Beranda. Agak ga enak juga sih, kayanya kedatangan saya dan temen2 ngeganggu istirahat siangnya. Tapi ternyata nenek itu ramah. Kami dipersilahkan masuk, dan nenek itu memanggil si empunya rumah, anaknya.

sebelum masuk rumah, sempet keder juga gara-gara ngeliat poster calon No.1 yang gede-gede dan banyak. Jangan jangan…

kecurigaan saya terjawab waktu pintu rumah terbuka, jreng-jreng… ada Kalender kuning bergambar pohon Beringin… Hwaaa… mati lah awak!

Tapi ternyata si empunya rumah tak ada ditempat, berdasarkan penuturan nenek itu. Jadilah kami berbincang-bincang dengan si Nenek, dan akhirnya YUP! Nenek itu janji mau nyoblos NOMOR DUA!!! hahahhaha

Jalan yang kami lewati makin ga jelas arah baliknya. masuk gang-gang semopit dan udah belok tau kemana. Ketemu satu rumah yang di dalemnya ada nenek (lagi?) sedang ngaso (istirahat, nonton tipi). Ganggu-ganggu si nenek dikit lah gapapa… kayanya neneknya suka gitu sama kita-kita… haaha… setelah di rumah nenek yang satu lagi waktu kita bilang “walikotanya ganteng kan bu?!” dengan suara cucu yang manja ama neneknya aku berkata. dan sang nenek pun menjawab, “yang nempel stikernya juga geulis-geulis”, hadoohhh jadi malu… hahhaha… tapi kita ga jual itunya kok… tenang… aku beneran ngitung. ngomong ganteng itu cuma dua kali. DUA LAGI???. Akhirnya nenek yang ini juga ter-closing.. alhamdulillah… “Nomor sabaraha ieu neng? ibu mah ingetna nomor wae, lamun rupina mah sok lila“. “DUA BU! TRENDI NOMOR DUA!”, kami bersemangat dan kemudian berpamitan.

belom jauh dari situ ternyata ada bapak-bapak yang lagi ngaso juga, cerita punya cerita ternyata si bapak ini kader Banteng. Howadoh…

Bukan Miftah namanya kalo ga jail. Jadilah aku malah senang ngobrol dengan si Bapak yang kayanya udah skeptis itu. di godain aja sekalian, otak jailku udah mulai running… hahhaha… si Miftah akhwat penggoda. parah betul! Nah, pas ngobrol2 gitu ternyata bapaknya udah ga aktif lagi karena baru di amputasi. “Masih suka ngumpul2 ga pak?”, tanyaku. bapak itu menjawab “enggak“. “Kalo gitu ngumpul2nya pindah aja pak, sama pKS!”. Si bapaknya udah bete deh keliatannya… “Ah, TRENDI mah ga dipilih saya juga sok menang lah“, “kalo gitu bapak ikutan memenangkan juga ya pak yah…”. Si Bapak makin terdesak dengan bujuk rayu kuw,,, hueksss… jijay… sampe akhirnya ia bilang, “Iya lah… Insya Allah“. Alhamdulillah… sebelum pergi, aku bilang dulu, “Maaf ya Pak, kalo Miftah nakal sama bapak“. si Bapak mesem-mesem aja.

Selanjutnya adalah cerita waktu aku and the gank ke sebuah rumah yang kayanya percetakan gitu deh. Di dalamnya ada cowok seumuran deh kayanya, dan serta merta aku mengucapkan salam, “Assalamualaikum A.. (Aa maksudnya)”, ucapku dengan senyum ceria. “Ada apa?”, si cowok sebaya itu nanya. “Ini, pilwalkot“, rasa hati tak enak… baru aja mau bilang ke Nisa, “Nis, jangan bilang dia…”, suaraku belum keluar, tapi dia berdehem, “ehehmmm.. Ana juga kader“. Ghyaaa.. gubrak. kedatangan kami bukan mau memberikan amunisi malah nambah amuniasi. “Oh gitu, kalo gitu minta amunisi dong. udah mau abis“. Jadilah kami dibekali amunisi tambahan banyak banget dan diserahi kantong kresek supaya ga berhamburan. berlalunya kami dari rumah itu dengan kata, “Makasih ya A… (masih manggil Aa, bukan berubah jadi Akh… kadung…)”. Doeng…doeng… malunyeee…. untung dia ga ngetes dulu.

Waktu ke rumah ustadz anggota DPR gitu, kata umi (istri ustadznya) rumah kuning yang tadi aku kunjungi itu rumah aleg dari Golkar bo! Ooowwww… pantes!!!! “Yah, bu! sayang orangnya ga ada. kalo ada kan seru tuh!”. DS kali ini cuma bisa touching ke 59 orang doang, closingnya juga cuma ke 57 orang doang. semoga besok lebih banyak!

sekian dulu, karena hasil autoklafnya kayanya udah beres, jadi aku mau pulang dulu dari Lab, udah jam 8.19 pm nih…

tunggu cerita selajutnya… hahahha.

JANGAN LUPA, TRENDI LHO!!!

Juli 24, 2008 at 8:25 pm 11 komentar

nano-nano

25 Juli 2008 @ Lab PAU lt6 menjelang maghrib

Hmm…. tadinya niat nglabing, jadi hati riang gembira gitu berangkat ke kampus. Ternyata eh ternyata,,,

1. tangan jadi kapalan gara2 ngebersihin dan motong2 temulawak pake pisau yang ketajamannya perlu dipertanyakan, tapi cukup membuat tanganku luka selain si tangan bisa berlayar (kapalan maksudnya)

2. sekujur tangan jadi kuning kaya mbok jamu, tapi wangiiiii………… wangi temulawak. I like this smell,,, hmmm….

3. beberapa tabung reaksiku kembali juga akhirnya, setelah sempet dipinjem temen gara2 si empunya males nglabing (dan sekarang insap mau nglabing lagi)

4. blender yang dipinjem dari cyppha tiba-tiba berasap gara-gara ga kuat muter. GAWAT!!!!

5. gagal bikin ekstrak karena kasian ngeliat kondisi si blendy –hiks2,, T_T

 

daripada sedih, lebih baik kita shalat maghrib dulu sahaja…

———————————————-to be continued

 

shalat maghribnya sudah…

jadi inget, tadi sebenernya mau cerita tentang konyol # part 2. gara-gara gagal ngekstrak, lupa dah jadinya… yasud, sekarang deh cerita

 

cerita pertama : Sunda Vs Palembang

buat orang-orang yang bersuku (berkaki?) sunda dan palembang, mohon maaf sebelumnya…

Alkisah, di pagi hari di depan gerbang sekolah SMA, seorang kawan di kelas satu dicegat oleh dua orang yang berdasarkan tuturan cerita temen saya itu, dua orang itu bersuku sunda.

diapain lu ton?”, wajah-wajah disekeliling sahabat kaib saya itu antusias

di palak gua!“, jawabnya dengan aksen palembang kental. Oia, belom diceritain.. temen saya yang sebut saja namanya Antoni, adalah asli bocah Palembang yang baru menginjakkan kaki di Serang karena jiwa petualangannya yang besar untuk bersekolah SMA di Kota indah ini (Indah?).

trus..trus…”, tampaknya antoni berhasil membuat teman-temannya penasaran dengan cerita paginya harii ini

orang itu nyegat saya, tapi aneh.. dia ga nodong atau nggertak“. Si Aku sempet kepikiran, masa si tukang palak ga nggertak, apa karena gertakannya orang sunda ini kurang yahud dibanding cara ngomongnya (cara ngomong lho, bukan gertakan) orang palembang yang terkenal galak?

trus?”

dia bilang, ‘maneh, cicis maneh’. trus saya buka-buka tas

dipalak berapa ton?”

saya kasih kertas

what?”

iya, eh.. orang itu malah melotot-melotot. ‘belegug, cicis maneh!’ katanya

trus, gimana ton?”

saya kasih pulpen sama tipe-ex kan, dia malah tambah melotot. ‘belegug pisan maneh. cicis, lain potlot!’

yaiyalah ton, dia minta duit lu kasih kertas

ya mana saya ngerti. saya kira dia mau nulis surat ijin

trus, akhirnya gimana?

pergi aja orang itu

hahaha… desperado. Gagal malak gara-gara beda dunia. hahhaha

 

Cerita kedua : Tarik-tarikan

masih bergenre Sundanese… yang ini bercerita tentang seorang pencopet yang gagal beraksi gara-gara ketauan sama seorang penumpang yang galak pulak!

Alkisah, di sebuah angkot berpenumpang kesemuanya wanita, naiklah dua orang pria bersetelan standarnya seorang pria (naon deui???). Kemudian, beberapa menit kemudian, si pria yang sebut saja bernama Aldo sakit keram dan pura-pura terjatuh saat mobil masih melaju. Kemudian tangannya menggapai-gapai tepi jendela (buat bangun ceritanya, tapi kenyataannya dia menggapai-gapai tas ibu-ibu disebelahnya).

Temen saya, sebut saja namanya Kudil (akhwat), merasakan ada yang tidak beres dengan dua pria ini. Dengan sigap ia menarik tas ibu itu dan tarik-tarikan dengan si copet Aldo. saking kerasnya tarik-tarikan itu, si copet Aldo terjungkal dan tas ibu itu diamankan oleh Kudil.

Ini bu tasnya, dijagain. Orang ini copet!”

Enak aja nuduh. jangan nuduh sembarangan ya! ada orang jatoh bukannya ditolongin malah nuduh copet

Alaaahhhh… ngaku wae maneh tah copet! pura-pura lagi! Sana turun!!! dasar copet! Sana turun, geus kanyahoan maneh!!”

akhirnya si Aldo itu turun dari angkot dengan tergesa-gesa dengan wajah kesal.

kok, udah sembuh neng? katanya keram?”

bohong bu, dia copet!“, Kudli menjawab ibu tadi

heh! maneh, naha masih didieu!! Turun sana!!! geus kanyahoan oge! Turun sana, rencangna geus kanyahoan!!!”

akhirnya keduanya turun dengan kayanya dagdigdugdor deh,, untung seangkot cewe semua. kalo ada bapak2 udah bonyok digebugin kali…

Payah nih,,, copet2nya ga profe…

——————————-

eh, btw,, di cerita pertama tukang palaknya 2 orang, cerita kedua juga tukang copetnya2 orang. Hmm… kok angka 2 jelek amat si disini??

Tapi… 2 yang ini TRENDI punya!

2 yang ini OK dah!!

Jangan lupa, 10 Agust 2008, No. 2 ya….

Juli 24, 2008 at 7:20 pm 7 komentar


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 86.106 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku