Posts tagged ‘renungan’

sand

Aku sedang terus berpikir, apakah aku adalah seorang saudara atau hanya nama yang numpang mampir di kehidupan orang-orang disekitarku. Aku sedang terus berusaha jujur pada diri sendiri, apakah Aku memang layak mendapat gelar sahabat oleh sahabat-sahabatku atau sebenarnya hanya figuran dalam kehidupan mereka. Dan hingga saat ini aku masih mendapat jawaban : kamu belum siapa-siapa.

Saudara itu seperti Abu Bakar dan Rasulullah. Abu Bakar yang menahan rasa sakit digigit ular saat berlindung bersama Rasulullah di Gua Tsur ketika hijrah. Ditahannya hingga ia meneteskan airmata agar Rasulullah tidak terbangun dalam istirahatnya.  Maka, bukankah persaudaraan adalah pengorbanan?

Saudara itu bukan konsep. Bukan materi-materi daurah. Bukan bahasan-bahasan kata. Saudara itu seperti air dan batu, yang mengalir dengan riak-riak. Saudara itu ibarat kayu dan vernis, yang menguatkan, memperlama umur kayu. Saudara itu laiknya ion H+ dan otot lurik, yang akan menjadi alarm pertama saat otot mengalami defisiensi ATP agar tubuh mengerem sebentar aktifitasnya.

Maka, saat saudara kita salah, tak ada alasan untuk tidak mengingatkan. Apalagi hanya membicarakan kesalahan-kesalahan tersebut pada orang lain. Bukan lagi alasan ketika saudara kita salah lalu mengatakan, “aku pun tak sempurna. aku pun masih melakukan hal yang sama”. Lalu mengapa tidak mengatakan, “mari kita perbaiki sama-sama”. Atau jika memang yang membuat kesalahan itu keras kepala, mengapa tidak dikatakan saja. “ah, paling muncul pledoi-pledoi”. Belum dicoba kan?

Maka ingatkanlah wahai saudaraku seiman, ketika aku salah. Karena berbuat kesalahan adalah berjalan ke tepi jurang. Maka tegakah kalian ketika aku jatuh ke jurang dan tak bisa naik kembali?.

Dan kini aku mengerti secara hikmah, mengapa ALlah sangat membenci ghibah, fitnah, dan namimah. Aku hanya mencoba mencari penalaran logis saja. Ya, mengapapun ALlah membencinya. Aku hanya bisa melogiskan dengan sebuah kejadian. Hmm…penalaran logisnya tidak usah ditulis disini ya. Yang penting untung, kalo diomongin dibelakang kan dosanya ditanggung ama yang ngomongin, heheh (tertawa licik).

Bersaudara itu membutuhkan saling memahami, bukan asumsi-asumsi. Bukan paradigma-paradigma. Bukan permintaan untuk dipahami, hanya pahami saja dia saudara kita, terlepas dia memahami kita atau tidak.  Aku jadi paham, yang namanya saudara itu tetap membantu secara gerilya atau minimal mendoakan walau hati kita tersakiti. Yang namanya saudara itu mendahulukan saudaranya ketimbang dirinya sendiri. Yang namanya saudara itu memilih dirinya yang sengsara daripada saudaranya yang harus sengsara, jika memang tidak ada pilihan sama2 bahagia.

Ah, bersaudara kan hanya masalah muamalah (hanya?). Kata siapa? Kata aku mah ibadah

Jadi, pahamkah kita bahwa bersaudara adalah konsekuensi keimanan kita. Konsekuensi keislaman kita. Karena Rasulullah telah mencatatkan bahwa tidak ada apa-apanya iman ini jika kita tidak mencintai saudara seiman seperti kita mencintai diri sendiri. Syahadah ini, Asyhaduallaailaahaillah..wa asyhaduanna muhammadarrasulullah… Syahadah ini, yang seharusnya mengikat hati-hati kita dalam satu cinta. Cinta dalam makna bukan dalam kata, lurus pada sang Mahacinta.

Aku jadi berkaca diri, sudahkah aku menjadi saudara bagi mereka yang ada dikehidupanku?

special dedicate for : My Uni, dan akhirnya detik-detik perpisahan itu datang juga

tribute to : Abi Stanza, Adisti Dini Idreswari, Adi ‘cubadax’ Putra, Agtri Leandini, Ami Ramdhani, Anni Nuraeni, Annisa Ramdhaningtias, Anthoni, Army Alghifari, Arinda Amalia Putri,  Arini Puspita Tulus, Asrofah Sartini, A. Rohmatullah Sofyandi Sedar, Benazir Desytta, Bobby Rahman, Citra Gusti Lestari, Deri Meidian Ramdhani, Diah Ajeng Setiawati,  Diana Yusnita, Dhian Kurniasari, Endah Lestari Puji Astuti, Erqurani Hijrian Muslim, Fani Ferdiana, Febianti, Febriya Antensari, Fenny Rahayu Prasetyoningsih, Fitrasani, Gesa Falugon, Galih Surya Permana, Gilang WidyaWisaksana, Hadi Teguh Yudistira, Hendri Sabeth, Husna Nugrahapraja, Ike Mediawati, Ingrid Desiana Darmawati, Krisna Adiarini,  Morinta Rosandini, Muhammad Yunus, Muhammad Arif Andromedae, Nailul Khisolil Fitri, Novi Astuti, Oki Earlivan Sampurno, Panji Prabowo, Patminingsih, Raden Raditya Yudha Wiranegara, Ratih Putri, Ratihqah Munar Wahyu, Reni Nursatwika palupi, Reni Noviyanti, Ridwan Aldillah, Rizkiwati Fitriah Djangko, Rizky Ayu Maulani Yusuf, Shally Pristine, Shinta Yulizia, Sra Harke Pratama, Sunarni Riningsih, Surya Kresnanda, Syifa Latifah Zahra, Taqisthi Viona, Tri Aji Nugroho, Yayuk Purwandari, Yuanita Tri Adityasari, Yuli Astuti, Wiedy Yang Essa

~~

pipilagimeracau

Iklan

Februari 15, 2009 at 3:37 pm 2 komentar

senandung untuk ayah bunda

touch1Kau bertanya padaku
tentang dua mata peri
Percayalah
binarnya tak seterang
mata bunda
kala menatap
dan menggenggam tanganmu

Pada setiap napasnya
bunda membuat matahari-matahari baru
dalam jiwamu

Kau bertanya padaku
tentang dua kaki gunung itu
Percayalah
kokohnya tak setegar
bahu ayah
kala memanggulmu
tanpa istirah

Pada setiap napasnya
ayah memancangkan tiang-tiang asa
agar langkahmu sampai pada bianglala

-Abdurahman Faiz-

utah-rainbow-bridge

Sedalam laut, seluas langit
cinta selalu tak bisa diukur
begitulah ayah mengurai waktu
meneteskan keringat dan rindunya
untukku
//
Ayah pergi sangat pagi
kadang sampai pagi lagi
tapi saat pulang
ia tak lupa menjinjing pelangi
lalu dengan sabar
menguraikan warnanya
satu persatu padaku
dengan mata berbinar
///
Waktu memang tak akrab
denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku
tak pernah ada duka atau badai
hanya sederet sketsa
tentang aku, ayah dan tawa
yang selalu bersama

[AYAH]

rainbow

Februari 4, 2009 at 12:45 am 4 komentar

Rumah Pelangi

Sore ini, aku ingin melirik langit Bandung. Ingin mencium angin Bandung. Dari sudut PAU lantai 6. Hanya ingin mengkonversinya dengan langit kampung halamanku, Serang. Dan sore ini, tak terkonversi. Karena langit bandung sedang ingin kusam, sedang ingin dingin pada penikmat langit sore ini.

Disana, di langit kampung halamanku. Disana ada rekaman kejadian, kegiatan sore sebuah keluarga kecil yang sederhana. Ada bapak, ibu, anak berusia 9 tahun, dan satu lagi anak kecil yang beda usia 4 tahun dari anak yang pertama.

Kegiatan sore mereka kali ini adalah bakar singkong di kebun samping rumah yang berukuran 5 x 20 meter. Singkong yang di tanam dan dijadikan pagar hidup di kebun itu juga. Kegiatan bakar singkong bersama ini tentu saja dilakukan setelah memenuhi kebutuhan puluhan ayam peliharaan mereka. Hangat, sehangat singkong bakar mereka. Wajah mereka ceria. Senyum dan tawa terlihat lepas dari wajah mungil anak-anak kecil itu. Bahagia dengan ikhlas.

Rekaman lain langit kampung halamanku berpindah ke sebuah kota kecil. Bernama Serang Kota. Sore hari, di garasi sebuah rumah bertembok merah muda dengan pohon mangga didepannya. Garasi rumah itu ditutup dengan kanopi hidup pohon Anggur, dan pagar rumahnya dilapisi tanaman rambat Paria. Disana tampak ada kegiatan manusia yang tentu mereka adalah  penghuni rumah itu. Tengok sebentar ke arah pohon mangga itu. Buah mangga ranum bergelayutan disela-sela ranting hingga pohon itu doyong ke arah jalan.

Dan di garasi rumah itu, seorang ibu dikelilingi 3 orang anak usia 13 tahun, 8 tahun, dan 2 tahun. Ibu itu sedang mengupas mangga untuk tiga mulut didepannya. Dan bapak anak-anak itu sedang di salahsatu dahan pohon memetik beberapa buah ranum untuk dibagikan pada tetangganya.

Hangat, penuh cinta. Sang ibu selalu tau potongan mana yang akan disuapkan pada siapa, sesuai dengan potongan kesukaan anak-anaknya itu. ada yang suka bagian tengah, ada yang bagian ujung agak masam, dan ada yang ingin dibuatkan “sawah-sawahan”. Itu lho, potongan yang dibuat dengan cara memotong satu sisi buah tanpa mengupas kulit, lalu dibuat potongan kecil dadu 1 x 1 cm. Dan biasanya, ibu-bapak dari keluarga ini akan menyisakan diri cukup dengan bagian biji untuk digerogoti. Atau kadang, anak-anak kecil itupun ikut menggerogoti biji buah bagian ibu-bapak itu.

Langit Bandung sore ini, tak mampu membawa anak usia 13 tahun yang kini menjadi 21 tahun itu kembali ke kampung halamannya lewat senyum langit. Karena langit bandung sore ini sedang ingin kusam, ingin dingin. Mungkin ada manusia lain di Bandung ini yang sedang dihibur oleh langit, dengan seleranya : dingin.

Yasudah, anak 21 tahun di sudut PAU lantai 6 ini pulang kampung halamannya lewat media lain saja. Dengan sejumput senyum pada angin.

rainbow-trees1

Januari 29, 2009 at 11:32 am 5 komentar

batu

batu yang didepanku itu/walau ingin aku lewati aja, bukan dilalui/walau ingin menganggap dia ga ada/walau ingin menganggap itu batu di mimpi aja

batu yang itu/walau aku tampak berani mendakinya/walau aku tampak bahagia atas tapaknya/walau aku tampak tersenyum mendudukinya

batu itu/ternyata tak bernyali aku mendaki/ternyata tak berani aku melalui/ternyata terlalu dipecundangi

walau bagaimana ia tetap batu/walau, katanya, tidak semua tanya ada jawabnya

Januari 25, 2009 at 8:47 am Tinggalkan komentar

WE WILL NOT GO DOWN! -song for Gaza-

(Composed by Michael Heart)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down In Gaza tonight

Download Lagunya

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Januari 16, 2009 at 10:28 am 1 komentar

hausuit

Kebingungan memberi judul tulisan, ngapain susah-susah? Kita bikin aja kosa kata sendiri. HAUSUIT. turunan londonese yang dipaksakan.

Lanjut aja dah. Jadi begini ceritanya fren, kemarin sore sekira jam 5 aku dan Mba Upe di RS Salamun Ruang Perwira Paviliun Buana 6, yang sekarang merupakan markas kehormatan My Uni (sekalian ngasih info kalo Uni sakit).

Awalnya karena pertanyaan tentang potongan kisah di buku AlChemist Paulo Coelho. Tentang Santiago yang saat pertama kali melihat anak penjual roti langsung merasa, “Ya Tuhan, dia yang kelak akan menjadi istriku”. Gitu juga dengan anak penjual roti tersebut kala melihat Santiago, “Ya Tuhan, dia kelak menjadi pendamping hidupku”. Itu gimana Uni? Aku lupa Uni jawab detilnya gimana, tapi Uni menekankan pada keridhoan Allah pada prosesnya, pada proses pernikahannya. “Karena beda Pi, antara Allah mengijinkan dengan Allah meridhai”. Wah iya ya? “Orang yang MBA, Allah mengijinkan… tapi Allah tidak meridhai kan?”, lanjutnya. Waaaaah… Iyaaaaaaaaaaaa…

dan kemudian kami membincangkan tentang proses yang baik itu seperti apa, kemudian  tentang ketsiqahan pada wali. Wali itu bisa Ayah kandung, saudara laki-laki kandung, atau Murabbi. Kata Uni, “yakin, kalau mereka tidak akan menjerumuskan kita”. Kemudian mengalirlah cerita ini…

~~~

Alkisah (halah), seorang akhwat kuliah merantau di Pulau Jawa, sebutlah Bandung, ditelfon oleh ayahnya. “Nak, ayah ingin menikahkanmu dengan seseorang”, katanya. Akhwat tadi kemudian bertanya, “gimana orangnya ayah?”. “Shaleh, insya Allah”, jawab sang ayah. Dengan bekal keyakinan bahwa ayahnya selama ini sangat menyayanginya dan yakin tidak akan menjerumuskannya (ga akan bikin menderita lah intinya), dan satu kriteria “shaleh”, dengan itu pula ia akhirnya mengiyakan keinginan ayahnya.

Akad pun berlangsung, dengan mahar satu buah Al-Quran. Itu cukup. Sang Ikhwan dan sang Akhwat pun resmi menjadi suami istri.

Unik Pi, cara ikhwan ini mejemput istrinya, kata Uni. Akhwat itu jadi guru di satu sekolah di Jakarta. Dan ikhwan itu menyusul dengan melamar kerja sebagai guru juga di sekolah yang sama. Trus trus? Aku dan Mba Upe semakin penasaran dengan cerita uni. Nah, ikhwan ini setiap hari selalu menggoda akhwat tersebut, tapi pada yang lain tidak. Tapi mereka sudah halal kan?, Uni bertanya yang tentu saja walau tidak kami jawab, jawabannya akan tetap “iya”.

Mau di anter pulang? Bareng yuk” atau “makan siang bareng yuk” atau sapaan-sapaan genit dan senyum-senyum aneh. Sering banget ikhwan itu godain akhwat itu. Mungkin ampe akhwatnya empek campur sebel campur benci. Aku ngebayangin, ih… jijay banget sih ni orang. Aku ga ngerti apa yang dipikiran akhwat itu. Mungkin kepikiran, Ya Allah… salah apa saya sampe digangguin ikhwan kaya gini.

Sampe akhirnya, Pi.. suatu sore ada orang bertamu ke kosan akhwat itu. Yang membukakan pintu ibu kos-nya. Nah, saat akhwat itu membuka pintu, ternyata yang ada di depan pintu itu ya si ikhwan itu. Ghyabooooo….

Karena uni ga nyeritain gimana prosesnya sampe akhirnya si akhwat tau dan mengakui ikhwan itu suaminya, kita bikin kuis aja yok, hehehe… si pipi nakal.

a. akhwat itu menanyakan (dengan sopan tentu saja, kan akhwat, hehe), “ada perlu apa?”, kemudian ikhwannya bilang. “ada perlu, memberitahukan suatu hal, bahwa aku suamimu, ini mahar kita” sambil menunjukkan Quran Syaamil hitam yang diketahui akhwat tersebut bahwa itu memang mahar mereka.

b. agak emosi si akhwat ini, karena sering banget digangguin. “kamu nih sebenernya mau apa? kamu siapa? kenapa sering nganggu?”. masih iseng juga si ikhwan ini, bilang “aku suamimu”, trus buka tas dan ambil Quran, menunjukkan Syaamil hitam dan bilang kalo Quran itu maharnya (akhwatnya tau).

c. masuk lagi ke dalam rumah, nelfon ayahnya. kemudian nanyain ciri-ciri suaminya, dan ternyata cocok. keluar lagi deh, dan ikhwan itu tanpa ditanya bilang, “aku suamimu” sambil mengangkat Quran sampai setinggi kuping.

d.  si akhwat bilang, “kamu diem disitu! aku telfon ayahku”. mirip ama kejadian c, nanyain ciri-ciri suaminya, dan ternyata cocok.  dan ikhwan itu tanpa banyak bicara membuka isi tasnya, mengambil Quran, dan memberikannya pada si akhwat.

e. si akhwat bilang, “diem disitu! aku telfon ayahku”, nadanya ngancem. dan ayahnya bilang, “nak, ayah ga bisa menjelaskan lewat kata-kata. ayah kirim saja no HP-nya ya”. SMS masuk, “aku telfon suamiku”, si akhwat sedikit merasa menang. Dan..wo-o… ringtone HP orang didepannya berbunyi.  ah, dari orang lain mungkin, pikirnya. masih dengan muka lempeng, si ikhwan itu mengangkat telfon sambil bilang “istriku telfon”, “Assalamualaikum”, sapanya. Dan tentu saja si akhwat menjawab salam diseberang telfon genggamnya dengan satu kalimat “waalaikumsalam” dengan nada kalah telak. Orang yang punya handphone bunyi pun tersenyum lebih menang lagi.

~~~

perempuan baik, hanya untuk laki-laki baik; perempuan yang menjaga diri dan hatinya, hanya untuk laki-laki yang menjaga diri dan hatinya;

hausuit?

mini_coaster2Lubang di Hati – Letto

kubuka mata dan kulihat dunia
tlah kuterima anugerah cintanya
tak pernah aku menyesali yang kupunya
tapi kusadari ada lubang dalam hati.

kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
kumenanti jawaban yang apa yang dikatakan oleh hati

apakah itu kamu apakah itu dia selama ini kucari tanpa henti
apakah itu cinta apakah itu cita yang mampu melengkapi lubang dalam hati?

kumengira hanya dialah obatnya
tapi kusadari bukan itu yang kucari

kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
dan kuyakin kau tak ingin aku berhenti

Januari 6, 2009 at 7:42 am 4 komentar

Lampu

Sekarang aku belum punya lampunya, lampu penerangan buat 20 meter ke depan. Tiap 20 meter aku jalan, tiap 20 meter aku jalan lagi. Padahal aku udah tau tujuanku, 250 km ke depan.

250 km ke depan, ada Rumah Sakit Jiwa

250 km ke depan, ada Biro Konsultasi Keluarga

250 km ke depan, ada Rumah Susun

Tapi aku belum punya lampunya, buat 20 meter ke depan aja.

Oi, kan ada Allah, yang punya matahari dan bintang. buat apa minta lampu yang buat 20 meter doang?

Desember 31, 2008 at 9:09 pm Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 86.472 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku