Posts tagged ‘jejalan kehidupan’

Klik!

Tampaknya akan ada yang berubah,
dari caraku melihat bintang
dari caraku menatap senja
dari caraku melukis senyum

puzzle

Satu keping puzzle akan ikut menyemarakkan mozaik di atas meja ini
semoga kehidupan akan menjadi lebih baik setelah ini
Amin
Iklan

Februari 19, 2009 at 7:24 pm 1 komentar

tak termaafkan!

tak termaafkan pi, kalo kamu harus bergantung sama dia.

GA TERMAAFKAN!

broken20glass1

Februari 10, 2009 at 6:06 pm Tinggalkan komentar

senyumanmu

sinar wajahmu lembut katamu
sepertinya mampu menggubah dunia
yang terasa begitu hampa
semuanya sirna tanpa cinta
kutemukan arti kerinduan
dan ku mengerti yang kucari

-letto : senyumanmu-

~~~

Ah, kapan aku bisa bertemu denganmu? Ikut mengukir senyum di langit senjamu, menarik satu warna saga lalu memasukkan ke saku kemejamu.

Aku hanya ingin engkau hadir, kembali ke hidupku. Tak akan aku pinta engkau selalu disini, disampingku. Aku hanya ingin engkau hadir, kembali di hidupku. Untuk menebus hari-hari dimana engkau pergi.

harumnya nafasmu sangat sejuk/sangat pantas dijiwamu
begitu terasa lapar dahaga/kasih dan cinta yang engkau punya
(letto : kepada hati itu)

~~~

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dan sifat pengecut dan bakhil, dan dari tekanan hutang dan kesewenang – wenangan orang. Ya Allah, kenikmatan yang aku atau salah seorang dari makhluk-Mu berpagi hari dengannya, adalah dari-Mu semata; tiada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala puji dan rasa syukur.

Rabbi, aku yakin. Skenario terindah darimu…

Februari 8, 2009 at 11:14 am 2 komentar

Rumah Pelangi

Sore ini, aku ingin melirik langit Bandung. Ingin mencium angin Bandung. Dari sudut PAU lantai 6. Hanya ingin mengkonversinya dengan langit kampung halamanku, Serang. Dan sore ini, tak terkonversi. Karena langit bandung sedang ingin kusam, sedang ingin dingin pada penikmat langit sore ini.

Disana, di langit kampung halamanku. Disana ada rekaman kejadian, kegiatan sore sebuah keluarga kecil yang sederhana. Ada bapak, ibu, anak berusia 9 tahun, dan satu lagi anak kecil yang beda usia 4 tahun dari anak yang pertama.

Kegiatan sore mereka kali ini adalah bakar singkong di kebun samping rumah yang berukuran 5 x 20 meter. Singkong yang di tanam dan dijadikan pagar hidup di kebun itu juga. Kegiatan bakar singkong bersama ini tentu saja dilakukan setelah memenuhi kebutuhan puluhan ayam peliharaan mereka. Hangat, sehangat singkong bakar mereka. Wajah mereka ceria. Senyum dan tawa terlihat lepas dari wajah mungil anak-anak kecil itu. Bahagia dengan ikhlas.

Rekaman lain langit kampung halamanku berpindah ke sebuah kota kecil. Bernama Serang Kota. Sore hari, di garasi sebuah rumah bertembok merah muda dengan pohon mangga didepannya. Garasi rumah itu ditutup dengan kanopi hidup pohon Anggur, dan pagar rumahnya dilapisi tanaman rambat Paria. Disana tampak ada kegiatan manusia yang tentu mereka adalah  penghuni rumah itu. Tengok sebentar ke arah pohon mangga itu. Buah mangga ranum bergelayutan disela-sela ranting hingga pohon itu doyong ke arah jalan.

Dan di garasi rumah itu, seorang ibu dikelilingi 3 orang anak usia 13 tahun, 8 tahun, dan 2 tahun. Ibu itu sedang mengupas mangga untuk tiga mulut didepannya. Dan bapak anak-anak itu sedang di salahsatu dahan pohon memetik beberapa buah ranum untuk dibagikan pada tetangganya.

Hangat, penuh cinta. Sang ibu selalu tau potongan mana yang akan disuapkan pada siapa, sesuai dengan potongan kesukaan anak-anaknya itu. ada yang suka bagian tengah, ada yang bagian ujung agak masam, dan ada yang ingin dibuatkan “sawah-sawahan”. Itu lho, potongan yang dibuat dengan cara memotong satu sisi buah tanpa mengupas kulit, lalu dibuat potongan kecil dadu 1 x 1 cm. Dan biasanya, ibu-bapak dari keluarga ini akan menyisakan diri cukup dengan bagian biji untuk digerogoti. Atau kadang, anak-anak kecil itupun ikut menggerogoti biji buah bagian ibu-bapak itu.

Langit Bandung sore ini, tak mampu membawa anak usia 13 tahun yang kini menjadi 21 tahun itu kembali ke kampung halamannya lewat senyum langit. Karena langit bandung sore ini sedang ingin kusam, ingin dingin. Mungkin ada manusia lain di Bandung ini yang sedang dihibur oleh langit, dengan seleranya : dingin.

Yasudah, anak 21 tahun di sudut PAU lantai 6 ini pulang kampung halamannya lewat media lain saja. Dengan sejumput senyum pada angin.

rainbow-trees1

Januari 29, 2009 at 11:32 am 5 komentar

juni dan bulan juli

Juni dan bulan juli, biar tampak keren gitu. kayak Juni di bulan Juli. Padahal, cerita Juni dan bulan Juli ini ga ada hubungannya ama anak disleksia, tapi tentang KP alias Kerja Praktek aku di Centralpertiwi Bahari, anak perusahaan Charoen Pokhpand. Jauh dari kata elit, bisa dibilang fasilitasnya ndeso (tapi kapan lagi coba bisa nemuin sawah dan bisa meditasi disono tiap sore).

Diawal-awal, sehari bisa dua kali nemu ular ukuran 1,5 – 2 meter (dari sini baru sadar ternyata sepatu boot sangat berguna, setelah 6 kali kulap ga pernah bawa boot). Aku di bagian R&D pakan ikan. Tiap pagi ber-PDH lengkap, dari atas ke bawah… jilbab (wajib lah) , kaos longgar biar ga kepanasan, celana panjang yang longgar juga, trus dirangkap rok panjang yang dilipat sampe panjangnya cuma sedengkul (yang membuat perut aku jadi membuncit, hoho), kaos kaki, dan sepatu boot sedengkul.

Mulai sampling jam 6 pagi dan terakhir ngasih pakan jam 5 sore. Trus, malemnya bisa istirahat… kecuali kalo mesti identifikasi plankton di Lab, pernah ampe jam setengah 12 malem. Untung labnya Cuma berjarak 5 meter dari mess.

Ternyata bener bu Dosen ku bilang waktu wawancara, “kamu lebih suka lapangan yang kerjaannya ga jelas jadwalnya atau kerjaan lab yang teratur”. Karena waktu itu aku jawab dua-duanya suka, jadi weh aku ditempatin di tempat KP yang tiba-tiba jam 8 malem (abis nonton Indonesia vs KorSel, aku benci chunsoo!!!) mesti ke lapangan buat ngontrol air takut luber. Atau jam 9 malem tiba-tiba musti ke Lab karena sorenya ada KLB (Kejadian Luar Biasa). Ikan-ikan pada ngapung dan bleeding gara-gara infeksi Aeromonas hydrophila. Jadi weh mesti ngecek ampe jam 11 malem.

Tinggal di lingkungan sini juga, hidup dikarantina. Jadi sekalinya keluar dari tempat karantina teh asa bahagia, nemuin peradaban. Tapi disini sinyal full kok (??). Tinggal di mess (seatap) dengan Manager produksi (Beliau hindu), 7 orang mas-mas, dan 5 orang mba-mba. Dan 6 orang putri yang ada disini adalah kaum minoritas dengan jumlah total kaum putra yang lebih dari 20 orang. Hari-hari pertama, shock! Keluar kamar langsung ketemu bapak-bapak dan mas-mas.

Ga kayak temen-temen di perusahaan-perusahaan besar, di sini aku hidup dengan bapak-bapak dan mas-mas karyawan (kalo ga mau dibilang tukang). Tinggal disini bikin aku tau dikit banyak kehidupan masyarakat `biasa’. Mereka lucu-lucu, konyol. Tiada hari tanpa tawa. Seperti yang pernah aku bilang ke Kei, ternyata di sisi lain dunia, ada bagian yang dipenuhi orang-orang lucu dan -sensor-. Mungkin itu cara mereka untuk melupakan pahitnya hidup kali ya, dengan bercanda.

Aku sempet mikir, Ya Allah… aku mungkin bukan orang sehebat temen-temenku yang bisa istiqamah ketika banyak akses untuk mempertahankan keistiqamahan ga ada. mungkin aku bukan orang yang bisa ngasih pengaruh indahnya Islam ketika aku ada disini. ga `kumpul ama keluarga’ selama 1,5 bulan bisa bikin aku kering kerontang. Sedangkan fasilitas dan pintu yang menginisiasi tumbuhnya rasa cinta dunia sangat terbuka lebar. Cukuplah Al-Quran, Al-Ma’tsurat, buku Taujih Ruhiyah yang dibekelin ama `mba’, buku Lapindogate, dan Dari Gerakan ke Negara, serta Ceu Me’es (SMS) tausyiah dari sodara-sodara di Bandung, yang bikin aku punya semangat untuk tetep istiqamah disini.

Di satu Qiyyamullail pikiran-pikiran itu sempet muncul. Sampe akhirnya Allah menjawab semuanya keesokan harinya! Subhanallah! Siang itu, waktu ngitung plankton di Lab, radio lokal yang lagi di puter sama si Mas Lab muterin lagu Glenn. Redaksinya lupa, tapi intinya : Jadilah terang di tempat yang gelap. Janganlah terang di tempat yang terang. Ya! Inilah jawabannya. Sebelum berangkat aku sempet memesani diri sendiri, perlihatkan indahnya Islam di tempat dimana kamu berada. Seketika aku langsung berhenti meng-klak-klik counter plankton. Waa.. Allah menjawabku! Dan ba’da ashar, waktu si Mas Labnya gada, aku ganti channel radionya. Mungkin ga ya MQFM nyangkut di Pabuaran? Gada euy… tapi ternyata! Ada Wadi FM Purwakarta… – Radio Keluarga Muslim… gitu penyiarnya bilang – yang lagi nyiarin materi tentang Istiqamah! Wow…wow… keren! Subhanallah… Allah menjawabku!

masya Allah… ada penghuni mess yang belum bisa mengerjakan ibadah wajib, shalat. Sedih banget… Sempet putus asa. Dicontohin, udah. Diajak alus “shalat yuk…” or “shalat dulu ah…” udah. Dan sampe akhirnya dia sendiri bilang, urusan shalat itu urusan kedewasaan… karena dia udah ngerti, yaudah. Gugur kewajibanku buat ngingetin lagi. Tinggal satu, mendoakan.

Ga Cuma itu, ada karyawan yang kecanduan minuman keras. Mbak-mbak yang kerja disini udah bosen ngingetin. Sampe akhirnya dia bilang, “kasih tau itu lho, Pi. Mamang ini minum terus”. Dan sedihnya lagi, kadang dia ngajak anaknya minum. Bukan disengaja, anaknya lagi liburan. Ikut bapaknya ke lokasi kerja. Dan karena anaknya ga mau ditinggal, dibawalah anak itu ketempat minum. Ngeliat bapaknya minum, pengen tuh anak. “Dikasih air putih ga mau”, kata si bapak waktu kami tanya. Tapi aku bisa apa? Cuma bisa bilang, “mang… ga boleh lo mang nyiksa diri…” aduh mift, harusnya sebelum berangkat baca dulu buku comdevnya…

Ada lagi pengalaman lainnya. Di suatu kamis, aku diajakin buka puasa di sarengseng, cikampek. Naik mobil Panther–nya pak manager. Overcrowding bo! 11 orang. APV sih masih mungkin. Ehm… buka sama sate maranggi. Ditraktir lagi. Huhuy…

Di perjalanan…

“wah ujan-ujan gini, makin banyak nih wayangnya”, kata mas X.

“iya, pasti banyak. apalagi nanti setelah jam sembilan”, kata mas Y.

“emang, ada acara apa koq pake ada wayang?”. Aku… terlalu polos buat ngerti maksud mereka. (yang font kuning kata-kata ku)

“ga kenapa-napa. Emang tiap malem ada koq”.

“ohh…”.

Trus yang lainnya pada nunjuk-nunjuk ke luar jendela mobil.

“Wah, akehe rek…”, mbak B terpana.

Aku tengak-tengok berkali-kali… “mana? Gada wayang. Sepi gitu”, aku masih ga ngerti.

“mana sih wayangnya. Gada apa-apa kok”.

“itu, banyak… pada di depan rumah… wah bau menyan lagi”.

“makanya liatnya jangan culang-cileung. Satu arah aja”, kata teh A.

Tapi tetep, “mana??? Gada apa-apa”.

“iku… wah, akeh yo rek?!”, Mbak B nunjuk-nunjuk.

“ah…mana sih??? Sepi. Banyak dimananya?”

“walah… arek iki…”, Mbak B frustasi.

Trus teh A bilang, “jigana mah ku si Pipi disangka wayang beneran”.

Trus aku nanya. “loh, emang wayang apaan???”.

Yang lain pada gubrak, “heww… anak kecil…”

“itu… jualan… jualan”, kata mas X.

“hah?? Jualan? Da emang ini RM (Rumah Makan) semua koq. Iyalah jualan”.

“he-eh, RM. (gomen) Rumah Mesum”.

“hah???” aku mengernyitkan kening, serius ga ngerti.

Akhirnya se-isi mobil nyerah ngasih tau pake bahasa konotatif.

“aduh… ini anak, dasar masih kecil. Itu, jual perempuan. Perempuan bayaran”.

Aku cuma nganga. Shock. Ya Allah… di depan mataku!

Waktu balik ke bandung buat ngurusin suatu keperluan, karena aku masih skeptis sama “wayang-wayangan”, jadi sepanjang jalan pantura yang waktu itu dilewatin, aku mastiin kalo RM itu bener-bener Rumah Makan. Tapi, ternyata bersikap skeptis itu percuma kalo faktanya emang iya. Ada beberapa RM yang emang Rumah Makan. Tapi jumlahnya dikit. RM lainnya berdesain rumah tipe 32 dengan beberapa ruang kamar, dan tanpa barisan-barisan kursi layaknya RM dengan akronim yang sebenarnya. trus, didepan rumah itu, dtaro sofa-sofa kapasitas 5 orang. `RM’ dengan gaya 32 ini berderet-deret layaknya rumah kost-kostan mahasiswa di plesiran. Masya Allah… hal ini masih  bikin shock dengan kuantitas 70%. Penggenapnya adalah, ada sebuah masjid besar dan dapat dikatakan megah, `menclok’ ditengah-tengah deretan RM tersebut. Masya Allah… no comment lah abdi, no comment. Di sini juga ada daerah saritemnya subang. Namanya cikijing. Ya Allah… ngeri. Aku ga bisa ngapa-ngapain disini. Astaghfirullah…

Alhamdulillah, akhirnya kemaren bisa ngajak mbak-mbak buat puasa senin-kamis dan shalat berjama’ah. senengnya, kalo ngobrol sama mamang-mamang dan mbak-mbak, mereka ngerti aku ga mau ngomongin gosip atau berita “coffee shop”.

Suatu hari, aku diminta nyariin dan nyeritain surat yang nyeritain kisah Ratu Bilqis dan Sulaiman sama mamang-mamang. Teknik-teknik reading n writing (Cip, waktu si mamang nanya basa inggris kaya gini, gua langsung kangen lu cip). Ditanya gimana caranya ngebersihin hadas karena air liur anjing (huh, ini pelakunya pasti si Sasha Sri Mulyani, anjing agresif yang sentimen banget ma aku). Atau peraturan pakaian muslimah. Obrolan ilmiah seputar iptek, kenapa ini-kenapa itu. Atau paling garing, ngomongin ITB. Tapi yang paling susah adalah, ngejelasin kalo persaudaraan atas dasar Allah itu lebih indah, tulus, suci, dan murni dari `hubungan’ lain selain karenaNya. Pfuh… suer, mereka baik banget. Hanya mereka belum menemukan Hidayah-Nya (udah eheuy… akukan miftahul hidayah, hehe kidding)

Ya Allah, sesungguhnya mereka saudaraku juga. Dan aku mencintainya karena-Mu. Hanya satu yang aku takutkan… keberadaanku tidak memberikan pengaruh apa-apa.

~~~

Itu cerita satu setengah tahun yang lalu. Dan sekarang, tempat KP itu udah ditutup karena kualitas air disana sangat buruk akibat kontaminasi pupuk organik dan anorganik dari persawahan. Jadinya, perusahaan selalu rugi ratusan juta tiap kali panen.

Inget mamang-mamang disana, dimana mereka harus mencarikan sepiring nasi tiga kali sehari (beneran tiga kali gitu? atau cuma satu kali?) buat anak istri mereka. Tadi nelfon Mba Domi, researcher disana, katanya setelahh waktu beberapa kali anak2 2005 KP disana, Mang Nyu sering nanyain “Pipi mana ya, Dom?”. Mang ‘Nyu yang tiba-tiba bawain mangga muda waktu kemarin harinya aku bilang, “waaaah… pengen ngerujak”. Kata Mba Domi, “aku tu yo heran tho Pi, yang KP disana setelah kalian itu kan banyak, tapi yang ditanyain cuma Pipi”. Adeuy… jadi sedih, ga pernah maen kesana lagi… hiks.

Inget Mang Uhim yang suka godain dan  digodain anak orang, “Mang Uhim kenalan sana sama Pipi”, kata Mba Jreng waktu hari pertama aku sampai sana. Dan jawaban Mang Uhim waktu itu adalah, “kalo aku jadi sayang sama Pipi gimana, kan ntar Pipi pulang dua bulan lagi”. Hwaaa… ngenes… Mang Uhim yang selalu bantuin aku… hiks.

Mas Filly yang jadi partner sejati. Sterilisasi ruangan hatchery sdan kolam 48 buah ampe bikin perut mual dan mata pedes gara-gara uap formaldehid alias formalin dan kalium permanganat. Dan dia yang selalu jadi pahlawan kalo di ruang kerja ada ular, huhh… Jadi inget waktu dia curhat masalah keluarganya. hiks…

Ah, cuma doa. semoga mereka mendapat yang terbaik. untuk mereka yang nama-namanya tertulis di kata pengantar Laporan KP-ku.

Berazzam : suatu hari nanti!

Januari 27, 2009 at 7:01 pm 6 komentar

batu

batu yang didepanku itu/walau ingin aku lewati aja, bukan dilalui/walau ingin menganggap dia ga ada/walau ingin menganggap itu batu di mimpi aja

batu yang itu/walau aku tampak berani mendakinya/walau aku tampak bahagia atas tapaknya/walau aku tampak tersenyum mendudukinya

batu itu/ternyata tak bernyali aku mendaki/ternyata tak berani aku melalui/ternyata terlalu dipecundangi

walau bagaimana ia tetap batu/walau, katanya, tidak semua tanya ada jawabnya

Januari 25, 2009 at 8:47 am Tinggalkan komentar

Diproteksi: klik-klok

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Januari 21, 2009 at 5:33 pm Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Pos-pos Lebih Lama


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 86.473 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku