Posts tagged ‘Episode cinta’

Klik!

Tampaknya akan ada yang berubah,
dari caraku melihat bintang
dari caraku menatap senja
dari caraku melukis senyum

puzzle

Satu keping puzzle akan ikut menyemarakkan mozaik di atas meja ini
semoga kehidupan akan menjadi lebih baik setelah ini
Amin
Iklan

Februari 19, 2009 at 7:24 pm 1 komentar

senyumanmu

sinar wajahmu lembut katamu
sepertinya mampu menggubah dunia
yang terasa begitu hampa
semuanya sirna tanpa cinta
kutemukan arti kerinduan
dan ku mengerti yang kucari

-letto : senyumanmu-

~~~

Ah, kapan aku bisa bertemu denganmu? Ikut mengukir senyum di langit senjamu, menarik satu warna saga lalu memasukkan ke saku kemejamu.

Aku hanya ingin engkau hadir, kembali ke hidupku. Tak akan aku pinta engkau selalu disini, disampingku. Aku hanya ingin engkau hadir, kembali di hidupku. Untuk menebus hari-hari dimana engkau pergi.

harumnya nafasmu sangat sejuk/sangat pantas dijiwamu
begitu terasa lapar dahaga/kasih dan cinta yang engkau punya
(letto : kepada hati itu)

~~~

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dan sifat pengecut dan bakhil, dan dari tekanan hutang dan kesewenang – wenangan orang. Ya Allah, kenikmatan yang aku atau salah seorang dari makhluk-Mu berpagi hari dengannya, adalah dari-Mu semata; tiada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala puji dan rasa syukur.

Rabbi, aku yakin. Skenario terindah darimu…

Februari 8, 2009 at 11:14 am 2 komentar

senandung untuk ayah bunda

touch1Kau bertanya padaku
tentang dua mata peri
Percayalah
binarnya tak seterang
mata bunda
kala menatap
dan menggenggam tanganmu

Pada setiap napasnya
bunda membuat matahari-matahari baru
dalam jiwamu

Kau bertanya padaku
tentang dua kaki gunung itu
Percayalah
kokohnya tak setegar
bahu ayah
kala memanggulmu
tanpa istirah

Pada setiap napasnya
ayah memancangkan tiang-tiang asa
agar langkahmu sampai pada bianglala

-Abdurahman Faiz-

utah-rainbow-bridge

Sedalam laut, seluas langit
cinta selalu tak bisa diukur
begitulah ayah mengurai waktu
meneteskan keringat dan rindunya
untukku
//
Ayah pergi sangat pagi
kadang sampai pagi lagi
tapi saat pulang
ia tak lupa menjinjing pelangi
lalu dengan sabar
menguraikan warnanya
satu persatu padaku
dengan mata berbinar
///
Waktu memang tak akrab
denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku
tak pernah ada duka atau badai
hanya sederet sketsa
tentang aku, ayah dan tawa
yang selalu bersama

[AYAH]

rainbow

Februari 4, 2009 at 12:45 am 4 komentar

Rumah Pelangi

Sore ini, aku ingin melirik langit Bandung. Ingin mencium angin Bandung. Dari sudut PAU lantai 6. Hanya ingin mengkonversinya dengan langit kampung halamanku, Serang. Dan sore ini, tak terkonversi. Karena langit bandung sedang ingin kusam, sedang ingin dingin pada penikmat langit sore ini.

Disana, di langit kampung halamanku. Disana ada rekaman kejadian, kegiatan sore sebuah keluarga kecil yang sederhana. Ada bapak, ibu, anak berusia 9 tahun, dan satu lagi anak kecil yang beda usia 4 tahun dari anak yang pertama.

Kegiatan sore mereka kali ini adalah bakar singkong di kebun samping rumah yang berukuran 5 x 20 meter. Singkong yang di tanam dan dijadikan pagar hidup di kebun itu juga. Kegiatan bakar singkong bersama ini tentu saja dilakukan setelah memenuhi kebutuhan puluhan ayam peliharaan mereka. Hangat, sehangat singkong bakar mereka. Wajah mereka ceria. Senyum dan tawa terlihat lepas dari wajah mungil anak-anak kecil itu. Bahagia dengan ikhlas.

Rekaman lain langit kampung halamanku berpindah ke sebuah kota kecil. Bernama Serang Kota. Sore hari, di garasi sebuah rumah bertembok merah muda dengan pohon mangga didepannya. Garasi rumah itu ditutup dengan kanopi hidup pohon Anggur, dan pagar rumahnya dilapisi tanaman rambat Paria. Disana tampak ada kegiatan manusia yang tentu mereka adalah  penghuni rumah itu. Tengok sebentar ke arah pohon mangga itu. Buah mangga ranum bergelayutan disela-sela ranting hingga pohon itu doyong ke arah jalan.

Dan di garasi rumah itu, seorang ibu dikelilingi 3 orang anak usia 13 tahun, 8 tahun, dan 2 tahun. Ibu itu sedang mengupas mangga untuk tiga mulut didepannya. Dan bapak anak-anak itu sedang di salahsatu dahan pohon memetik beberapa buah ranum untuk dibagikan pada tetangganya.

Hangat, penuh cinta. Sang ibu selalu tau potongan mana yang akan disuapkan pada siapa, sesuai dengan potongan kesukaan anak-anaknya itu. ada yang suka bagian tengah, ada yang bagian ujung agak masam, dan ada yang ingin dibuatkan “sawah-sawahan”. Itu lho, potongan yang dibuat dengan cara memotong satu sisi buah tanpa mengupas kulit, lalu dibuat potongan kecil dadu 1 x 1 cm. Dan biasanya, ibu-bapak dari keluarga ini akan menyisakan diri cukup dengan bagian biji untuk digerogoti. Atau kadang, anak-anak kecil itupun ikut menggerogoti biji buah bagian ibu-bapak itu.

Langit Bandung sore ini, tak mampu membawa anak usia 13 tahun yang kini menjadi 21 tahun itu kembali ke kampung halamannya lewat senyum langit. Karena langit bandung sore ini sedang ingin kusam, ingin dingin. Mungkin ada manusia lain di Bandung ini yang sedang dihibur oleh langit, dengan seleranya : dingin.

Yasudah, anak 21 tahun di sudut PAU lantai 6 ini pulang kampung halamannya lewat media lain saja. Dengan sejumput senyum pada angin.

rainbow-trees1

Januari 29, 2009 at 11:32 am 5 komentar

Diproteksi: klik-klok

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Januari 21, 2009 at 5:33 pm Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

hausuit

Kebingungan memberi judul tulisan, ngapain susah-susah? Kita bikin aja kosa kata sendiri. HAUSUIT. turunan londonese yang dipaksakan.

Lanjut aja dah. Jadi begini ceritanya fren, kemarin sore sekira jam 5 aku dan Mba Upe di RS Salamun Ruang Perwira Paviliun Buana 6, yang sekarang merupakan markas kehormatan My Uni (sekalian ngasih info kalo Uni sakit).

Awalnya karena pertanyaan tentang potongan kisah di buku AlChemist Paulo Coelho. Tentang Santiago yang saat pertama kali melihat anak penjual roti langsung merasa, “Ya Tuhan, dia yang kelak akan menjadi istriku”. Gitu juga dengan anak penjual roti tersebut kala melihat Santiago, “Ya Tuhan, dia kelak menjadi pendamping hidupku”. Itu gimana Uni? Aku lupa Uni jawab detilnya gimana, tapi Uni menekankan pada keridhoan Allah pada prosesnya, pada proses pernikahannya. “Karena beda Pi, antara Allah mengijinkan dengan Allah meridhai”. Wah iya ya? “Orang yang MBA, Allah mengijinkan… tapi Allah tidak meridhai kan?”, lanjutnya. Waaaaah… Iyaaaaaaaaaaaa…

dan kemudian kami membincangkan tentang proses yang baik itu seperti apa, kemudian  tentang ketsiqahan pada wali. Wali itu bisa Ayah kandung, saudara laki-laki kandung, atau Murabbi. Kata Uni, “yakin, kalau mereka tidak akan menjerumuskan kita”. Kemudian mengalirlah cerita ini…

~~~

Alkisah (halah), seorang akhwat kuliah merantau di Pulau Jawa, sebutlah Bandung, ditelfon oleh ayahnya. “Nak, ayah ingin menikahkanmu dengan seseorang”, katanya. Akhwat tadi kemudian bertanya, “gimana orangnya ayah?”. “Shaleh, insya Allah”, jawab sang ayah. Dengan bekal keyakinan bahwa ayahnya selama ini sangat menyayanginya dan yakin tidak akan menjerumuskannya (ga akan bikin menderita lah intinya), dan satu kriteria “shaleh”, dengan itu pula ia akhirnya mengiyakan keinginan ayahnya.

Akad pun berlangsung, dengan mahar satu buah Al-Quran. Itu cukup. Sang Ikhwan dan sang Akhwat pun resmi menjadi suami istri.

Unik Pi, cara ikhwan ini mejemput istrinya, kata Uni. Akhwat itu jadi guru di satu sekolah di Jakarta. Dan ikhwan itu menyusul dengan melamar kerja sebagai guru juga di sekolah yang sama. Trus trus? Aku dan Mba Upe semakin penasaran dengan cerita uni. Nah, ikhwan ini setiap hari selalu menggoda akhwat tersebut, tapi pada yang lain tidak. Tapi mereka sudah halal kan?, Uni bertanya yang tentu saja walau tidak kami jawab, jawabannya akan tetap “iya”.

Mau di anter pulang? Bareng yuk” atau “makan siang bareng yuk” atau sapaan-sapaan genit dan senyum-senyum aneh. Sering banget ikhwan itu godain akhwat itu. Mungkin ampe akhwatnya empek campur sebel campur benci. Aku ngebayangin, ih… jijay banget sih ni orang. Aku ga ngerti apa yang dipikiran akhwat itu. Mungkin kepikiran, Ya Allah… salah apa saya sampe digangguin ikhwan kaya gini.

Sampe akhirnya, Pi.. suatu sore ada orang bertamu ke kosan akhwat itu. Yang membukakan pintu ibu kos-nya. Nah, saat akhwat itu membuka pintu, ternyata yang ada di depan pintu itu ya si ikhwan itu. Ghyabooooo….

Karena uni ga nyeritain gimana prosesnya sampe akhirnya si akhwat tau dan mengakui ikhwan itu suaminya, kita bikin kuis aja yok, hehehe… si pipi nakal.

a. akhwat itu menanyakan (dengan sopan tentu saja, kan akhwat, hehe), “ada perlu apa?”, kemudian ikhwannya bilang. “ada perlu, memberitahukan suatu hal, bahwa aku suamimu, ini mahar kita” sambil menunjukkan Quran Syaamil hitam yang diketahui akhwat tersebut bahwa itu memang mahar mereka.

b. agak emosi si akhwat ini, karena sering banget digangguin. “kamu nih sebenernya mau apa? kamu siapa? kenapa sering nganggu?”. masih iseng juga si ikhwan ini, bilang “aku suamimu”, trus buka tas dan ambil Quran, menunjukkan Syaamil hitam dan bilang kalo Quran itu maharnya (akhwatnya tau).

c. masuk lagi ke dalam rumah, nelfon ayahnya. kemudian nanyain ciri-ciri suaminya, dan ternyata cocok. keluar lagi deh, dan ikhwan itu tanpa ditanya bilang, “aku suamimu” sambil mengangkat Quran sampai setinggi kuping.

d.  si akhwat bilang, “kamu diem disitu! aku telfon ayahku”. mirip ama kejadian c, nanyain ciri-ciri suaminya, dan ternyata cocok.  dan ikhwan itu tanpa banyak bicara membuka isi tasnya, mengambil Quran, dan memberikannya pada si akhwat.

e. si akhwat bilang, “diem disitu! aku telfon ayahku”, nadanya ngancem. dan ayahnya bilang, “nak, ayah ga bisa menjelaskan lewat kata-kata. ayah kirim saja no HP-nya ya”. SMS masuk, “aku telfon suamiku”, si akhwat sedikit merasa menang. Dan..wo-o… ringtone HP orang didepannya berbunyi.  ah, dari orang lain mungkin, pikirnya. masih dengan muka lempeng, si ikhwan itu mengangkat telfon sambil bilang “istriku telfon”, “Assalamualaikum”, sapanya. Dan tentu saja si akhwat menjawab salam diseberang telfon genggamnya dengan satu kalimat “waalaikumsalam” dengan nada kalah telak. Orang yang punya handphone bunyi pun tersenyum lebih menang lagi.

~~~

perempuan baik, hanya untuk laki-laki baik; perempuan yang menjaga diri dan hatinya, hanya untuk laki-laki yang menjaga diri dan hatinya;

hausuit?

mini_coaster2Lubang di Hati – Letto

kubuka mata dan kulihat dunia
tlah kuterima anugerah cintanya
tak pernah aku menyesali yang kupunya
tapi kusadari ada lubang dalam hati.

kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
kumenanti jawaban yang apa yang dikatakan oleh hati

apakah itu kamu apakah itu dia selama ini kucari tanpa henti
apakah itu cinta apakah itu cita yang mampu melengkapi lubang dalam hati?

kumengira hanya dialah obatnya
tapi kusadari bukan itu yang kucari

kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
dan kuyakin kau tak ingin aku berhenti

Januari 6, 2009 at 7:42 am 4 komentar

Kau tak tahu betapa rapuhnya aku… huoooohuoooohuoooohuooo

Setelah otak membeku dan mencair lagi, kemudian beku lagi, dan cair lagi, dan beku lagi. Jadi mati rasa gitu. Gara-gara apa coba? Sudah lebih dari seminggu, lift PAU mati. Dan saudara-saudara, aku kan labnya di Lantai 6. Ghyaboooo…

hah, sudahlah… capek bolak-balik  lantai 6 naik tangga. mari kita karaokean saja, bersama anggota lab lainnya, especially Ike, Teh Mila, dan Bundo Nita. Tapi, lagunya… agak-agak gimanaaaa gitu. “Pas mift, lagi pas lagunya ama suasana hati”. hahahahaha… bisa aja. Ni karokean lagu ini ampe Teh Mila ngamuk2 muak dan pengen bunuh penyanyinya. Dan sudah menjebak Kyky, nyangka lagu opick. Padahal bukaaaaaan. Joeniar Arief, siapakah dia? vokalis TOFU. Yah, sesekali diselingi lagu Evanescence Bring Me To Life, dan Glory of Love-nya lupa nama bandnya. Tadinya mau karokean lagunya Meteor Garden yang judulnya Liu Xing Yu alias Meteor Rain, ama Hau Xiang Hau Xiang  Kabut CInta, tau gak? itu lho… Vicky Zhao si Putri Huan Zu, tapi ternyata unduhan lagunya ble’e. Yasudah, kita karokean lagu rapuh saja ampe Teh Mila mabok rapuh.

….Rapuh….

Kau tak tahu betapa rapuhnya aku
Bagai lapisan tipis air yang beku
Sentuhan lembut kan hancurkan aku

Walaupun cinta tak sempurna
Menghampiriku seketika
Ku ingin kau tahu betapa rapuhnya aku

Kau tak tahu betapa rapuhnya aku
Masih terasa luka dimasa lalu
Ku pernah mencintai sepenuh hati
Namun cinta itu pergi

Dan ku terluka luka membekas
Bekas membuat buat selamanya
Selamanya ku
Ku ‘kan selalu
Ku ‘kan selalu rapuh

Kau ingin tunjukan kepada dunia
Tak hanya ada karena masa lalu
Tapi masih ada harapan bagi yang baru

Kau tawarkanku sejuta harapan
Namun kenangan itu tak pernah hilang
Ku ingin kau tahu betapa rapuhnya aku

Kau datang bagai hujan
Basahi tanah hati
Tapi kau lihat sendiri luka ini

——-

Maaf ya saudara-saudara pembaca blog keren ini, penulis dan kawan-kawan disampingnya sedang butuh hiburan tidak biasa. daripada loncat indah dari lantai 6 ke kolam renang sabuga, mending karokean. Daripada gitu, mending tilawah pi….

Piss ah, doakan kami lulus april yaaaaaaaaaaaaw… hohohohoho…amiiiiiiiiin

Januari 3, 2009 at 7:11 pm 7 komentar

Pos-pos Lebih Lama


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 86.106 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku