Posts tagged ‘bapak’

senandung untuk ayah bunda

touch1Kau bertanya padaku
tentang dua mata peri
Percayalah
binarnya tak seterang
mata bunda
kala menatap
dan menggenggam tanganmu

Pada setiap napasnya
bunda membuat matahari-matahari baru
dalam jiwamu

Kau bertanya padaku
tentang dua kaki gunung itu
Percayalah
kokohnya tak setegar
bahu ayah
kala memanggulmu
tanpa istirah

Pada setiap napasnya
ayah memancangkan tiang-tiang asa
agar langkahmu sampai pada bianglala

-Abdurahman Faiz-

utah-rainbow-bridge

Sedalam laut, seluas langit
cinta selalu tak bisa diukur
begitulah ayah mengurai waktu
meneteskan keringat dan rindunya
untukku
//
Ayah pergi sangat pagi
kadang sampai pagi lagi
tapi saat pulang
ia tak lupa menjinjing pelangi
lalu dengan sabar
menguraikan warnanya
satu persatu padaku
dengan mata berbinar
///
Waktu memang tak akrab
denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku
tak pernah ada duka atau badai
hanya sederet sketsa
tentang aku, ayah dan tawa
yang selalu bersama

[AYAH]

rainbow

Iklan

Februari 4, 2009 at 12:45 am 4 komentar

Rumah Pelangi

Sore ini, aku ingin melirik langit Bandung. Ingin mencium angin Bandung. Dari sudut PAU lantai 6. Hanya ingin mengkonversinya dengan langit kampung halamanku, Serang. Dan sore ini, tak terkonversi. Karena langit bandung sedang ingin kusam, sedang ingin dingin pada penikmat langit sore ini.

Disana, di langit kampung halamanku. Disana ada rekaman kejadian, kegiatan sore sebuah keluarga kecil yang sederhana. Ada bapak, ibu, anak berusia 9 tahun, dan satu lagi anak kecil yang beda usia 4 tahun dari anak yang pertama.

Kegiatan sore mereka kali ini adalah bakar singkong di kebun samping rumah yang berukuran 5 x 20 meter. Singkong yang di tanam dan dijadikan pagar hidup di kebun itu juga. Kegiatan bakar singkong bersama ini tentu saja dilakukan setelah memenuhi kebutuhan puluhan ayam peliharaan mereka. Hangat, sehangat singkong bakar mereka. Wajah mereka ceria. Senyum dan tawa terlihat lepas dari wajah mungil anak-anak kecil itu. Bahagia dengan ikhlas.

Rekaman lain langit kampung halamanku berpindah ke sebuah kota kecil. Bernama Serang Kota. Sore hari, di garasi sebuah rumah bertembok merah muda dengan pohon mangga didepannya. Garasi rumah itu ditutup dengan kanopi hidup pohon Anggur, dan pagar rumahnya dilapisi tanaman rambat Paria. Disana tampak ada kegiatan manusia yang tentu mereka adalah  penghuni rumah itu. Tengok sebentar ke arah pohon mangga itu. Buah mangga ranum bergelayutan disela-sela ranting hingga pohon itu doyong ke arah jalan.

Dan di garasi rumah itu, seorang ibu dikelilingi 3 orang anak usia 13 tahun, 8 tahun, dan 2 tahun. Ibu itu sedang mengupas mangga untuk tiga mulut didepannya. Dan bapak anak-anak itu sedang di salahsatu dahan pohon memetik beberapa buah ranum untuk dibagikan pada tetangganya.

Hangat, penuh cinta. Sang ibu selalu tau potongan mana yang akan disuapkan pada siapa, sesuai dengan potongan kesukaan anak-anaknya itu. ada yang suka bagian tengah, ada yang bagian ujung agak masam, dan ada yang ingin dibuatkan “sawah-sawahan”. Itu lho, potongan yang dibuat dengan cara memotong satu sisi buah tanpa mengupas kulit, lalu dibuat potongan kecil dadu 1 x 1 cm. Dan biasanya, ibu-bapak dari keluarga ini akan menyisakan diri cukup dengan bagian biji untuk digerogoti. Atau kadang, anak-anak kecil itupun ikut menggerogoti biji buah bagian ibu-bapak itu.

Langit Bandung sore ini, tak mampu membawa anak usia 13 tahun yang kini menjadi 21 tahun itu kembali ke kampung halamannya lewat senyum langit. Karena langit bandung sore ini sedang ingin kusam, ingin dingin. Mungkin ada manusia lain di Bandung ini yang sedang dihibur oleh langit, dengan seleranya : dingin.

Yasudah, anak 21 tahun di sudut PAU lantai 6 ini pulang kampung halamannya lewat media lain saja. Dengan sejumput senyum pada angin.

rainbow-trees1

Januari 29, 2009 at 11:32 am 5 komentar

Diproteksi: klik-klok

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Januari 21, 2009 at 5:33 pm Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Kania

Kania calling…

Lampu ponselku berkedip-kedip,

“Assalamualaikum, Ka”

“Waalaikumsalam, Pi”, Kania (bukan nama sebenarnya) menjawab salamku. Tapi aneh, kali ini suaranya parau. Bukan hanya itu, dalam hitungan dua detik, hanya suara tangis yang kudengar dari pesawat genggam ini. Pasti masalah itu lagi. Masalah yang akhir-akhir ini menjadi curhat panjang pagi-siang-sore antara aku dan Kania. Masalah yang mungkin akan mendewasakan Kania, dan juga aku tentunya. Lima menit berlalu, aku memberanikan bicara, setelah mendengar isaknya mulai mereda.

“Kenapa, Ka?”

“Pi, kalo Ibu sama ayah udah cerai, berarti ayah bukan mahram aku lagi ya?”

“katanya sekarang Kania udah tau, kalo ayah emang bukan ayah kandung Kania. Kania tau jawabannya”

“Tapi Pi”, semakin parau dan agak sulit aku menangkap suaranya, “Aku dan ayah tuh deket banget. Lebih deket daripada sama Ibu. Semenjak kecil, yang besarin aku, yang ngajarin baca, yang ngajarin nulis, bahkan yang mandiin aku, itu ayah. Bukan Ibu. Kemarin lalu, aku masih bisa cium pipinya setiap pagi. Dan hari ini… Pi, ayah adalah orang terdekat dihidupku. Dan sekarang, bahkan untuk cium punggung tangannya pun, ga boleh lagi.”

Aku terdiam. Termenung dan hanya bisa mendengar isak Kania, sahabatku, yang semakin parau. Kania, seandainya kamu ada disini, aku ingin sekali menggamit tanganmu, meletakkannya di pipiku. Meraih kepalamu ke bahuku. Ingin sekali.

Ka, aku tau itu pahit. Tapi aku juga ga bisa apa-apa, selain menjadi saudara yang selalu mendoakanmu. Mendoakan keluargamu.

“Pi, kenapa aku baru tau sekarang, kalo ayah ternyata bukan ayah kandung aku”. Pertanyaan sulit, Ka, batinku

“Karena Allah ingin, kamu bisa bersyukur, sempat memilikinya”, jawabku (walau dalam hati, aku ikut menangis).

Kania, dari manusia bumi yang sejumlah 2 milyar ini, ternyata Allah memilih Kania untuk mengemban musibah ini. Kata seorang sahabat, musibah, memiliki dua makna. Ujian kenaikan tingkat agar derajat takwa kita bertambah, dan yang kedua, adalah sarana Allah untuk menggugurkan dosa-dosa kita. Bukankah keduanya indah, Ka? Artinya Allah sayang Kania. Sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang banget sama Kania. Allah ingin Kania jadi orang yang bersabar, seperti Nabi-Nabi kita. Dan didalam sabar itu, ada milyaran pahala buat Kania.

Teringat, tadi siang aku meminta Tausyiah dari saudara-saudaraku, dan Alhamdulillah banyak yang memberi. Aku bagi buat Kania

Maka ingatlah kepadaKu. Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukur kepadaKu dan janganlah kamu ingkar kepadaKu”, (QS Al-Baqarah : 152)

Bukan bahagia yang menjadikan kita bersyukur, tapi bersyukur itulah yang menjadikan kita bahagia.. jika ada ujian maka itu pun salah satu cara Allah membuat kita bahagia

Suatu saat mungkin rongga-rongga hati kita terasa sesak oleh gelombang kehidupan. Barangkali jiwa kita merasakan bosan pada gersangnya kehidupan. Dan kita didera suasana yang memunculkan kesedihan. DIA-lah yang menegarkan jiwa dikala terhempas duka, yang menguatkan hati tatkala tersakiti, yang membuat kaki tegak berdiri tuk halau rintangan yang terus menghampiri.. SEMANGAT!

Allah tidak menjanjikan hari-hari tanpa duka, gembira tanpa derita, matahari tanpa hujan. Tapi IA menjanjikan kekuatan untuk menghadapi hari-harimu, penghibur pada airmatamu, dan terang bagi jalanmu, serta sabar sebagai kekuatanmu selama engkau dijalanNYA

***

Perceraian, apapun alasannya, selalu menjadikan anak sebagai korbannya. Mungkin itulah, mengapa Allah membolehkan perceraian, tapi amat membenci perceraian itu sendiri. Terkadang aku berpikir bodoh, mengapa ada kata cerai dalam kamus kehidupan. Aku sangat membenci kata itu. Namun aku berpikir, pasti ada makna dibalik kata itu. Mungkin kata cerai, mengajarkan arti setia. Ya, baru itu yang aku tau. Selebihnya, aku masih sangat membenci kata itu.

Teringat nasihat Bapak ketika pulang ied adha kemarin, “Teh, Bapak kamu ini, mama kamu, bukan manusia sempurna. Kadang ada salahnya, kadang benar. Teteh udah besar, bisa lihat mana yang salah mana yang benar. Contoh yang benar, tapi buang jauh-jauh yang salah. Itu namanya manusia”. Dan pesan itu, akan menjadi lentera dalam hidupku sepanjang proses perjalananku menjadi manusia.

***

20070513_rain_original_closeup_900x600

Ka, dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

***

“Disguise”

– Lene Marlin –

Have you ever felt some kind of emptiness inside
You will never measure up, to those people you
Must be strong, can’t show them that you’re weak
Have you ever told someone something
That’s far from the truth
Let them know that you’re okay
Just to make them stop
All the wondering, and questions they may have

Have you ever seen your face,
In a mirror there’s a smile
But inside you’re just a mess,
You feel far from good
Need to hide, ‘cos they’d never understand
Have you ever had this wish, of being
Somewhere else
To let go of your disguise, all your worries too
And from that moment, then you see things clear

Are you waiting for that day when your pain will disappear?
When you know that it’s not true what they say about you?
Couldn’t care less ’bout the things surrounding you
Ignoring all the voices from my wall

I’m okay, I really am now
Just needed some time
To figure things out
Not telling lies
I’ll be honest with you
Still we don’t know
What’s yet to come

Desember 15, 2008 at 12:50 am 3 komentar

Watermark

Rindu yang tenang//Mengalir//Mengikuti pusarpusar riakriak//Mengalun//

Rindu yang syahdu//Seperti rindu sang putri//Pada ayahanda raja//

Membebas wajah pada bayangan air//Sentuh ia (pada bayangan air)//Hingga rindu itu menganak mengirama//Sampai syahdu//

Hingga pertemuan hakiki tiba//Bukan lagi bayangan air//Tapi wajah yang kau dapat kecup pipinya//Seperti putri menjumpa ayahanda

watermark

November 26, 2008 at 11:50 am 1 komentar

SEPEDAH!

Ah, berjam-jam memulihkan mood nulis postingan yang ini. Belum 100% sih, tapi ntar makin malem aja selesainya. Lemas kakiku ingin ketemu bantal. pfiuh… lets start!

Bermula, dari niatan menjenguk saudara tercinta. Cegi, yang tergolek dirumahnya karena tipus (halah, lebai). Pagi-pagi, setelah baca bukunya Mas Salim, Jalan Cinta Para Pejuang, aku SMS cegi. Menanyakan kabarnya, dan kondisinya setelah ke dokter.

Blom k dktr uy pi.Br tar siang kynya. Kmrn si ani sibuk sharian full. Jd gbs ngntr. Kan dktrny jauh tuh. Jd mls kalo prg sndr

dan beberapa sms lainnya… yang akhirnya terputuskan, “ada army g y dtetanga sblh,mw pnjm sepeda,hehe.. Krmh cg nya naek sepeda aja

Akhirnya di SMS lah Army, dan ternyata sepedanya Army emang ada di tetangga sebelah, asrama Muslim Mesin. Army bilang, hubungi Anggun. Ah, Anggun dikampus. Kata Anggun hubungi Abas, atao Hajam. Hajam ga kenal, Abas aja lah. Eh ternyata Abas juga udah dikampus. Abas bilang, hubungi Ari. Eh, Ari nya udah dikampus juga. Kata Ari, pencet bel aja, ada bibi dirumah. Ari udah bilang katanya, tinggal ambil aja. tinggal ambil sih, tapi di garasi. Ah, walaupun malu gara2 ada anak 2005 yang kayanya pulang kampus, gapapalah… sepedasepedasepeda!

Keluar garasi, tanpa babibu…gowesgowes…gowesgowes…

Emang tanpa perencanaan, aku sama sekali ga kepikiran buat ngecek itu sepeda. Remnya gimana, giginya gimana, roda gimana, jok gimana. Yang aku tau cuma satu, GA ADA KUNCINYA.

Yak, perjalanan dimulai… jugjugjug gowesowes…

Dari kosan, masih belum kenal ama si POLYGON ini… masih kagok kagok, jadi gowes dikit, kaki maunya udah pengen nyentuh tanah aja. Aku pilih jalan di bawah jembatan layang surapati, tapi lewat jalan alternatif karena masih belum berani lewat nyebrang-nyebrang. Maklum, pengalaman hari pertama jalan di jalan raya lagi sejak SMP terakhir kalinya. Waktu SMP, bukan di jalan raya doang malah, ke jalan tol juga. Jalan Tol Jakarta-Merak yang rawan kecelakaan. Tapi selalu bareng bapak. Jadi, ngerasa aman-aman aja. Hobi kita berdua adalah, turun ke jalan setapak yang curam, dan kalo udah jiper, minta bapak panggul sepedaku. Hehehe… Trus kalo udah capek, tinggal minta bonceng bapak deh, dengan bahu bapak memanggul sepeda. Ish ish ish… Pipi… durhaka ama orang tua.

Ukuran si POLY ini lebih besar dari sepedaku, tapi lebih kecil dari sepeda bapak. Hahh… dasar sepeda gunung cowok, ga ergonomis banget buat aku. Duh duh,,, pas nyampe turunan, aku yang belom ngecek rem, maen tarik aja pegangan remnya. Dan huk! sepeda berhenti mendadak dan oleng. Ah,,, Alhamdulillah ga jatoh… Sekarang ke tanjakan dengan batu2 terjal… oleng lagi… dan kali ini, kakiku beneran turun ke tanah.Ah, joknya ketinggian nih, jadi sering oleng.

Sampai ke jalan raya, ah.. seru nih kayanya hari ini. Jalanan ga terlalu rame kayak biasanya. Pilih jalan Badak Singa ah, agak sepi. Seger banyak pohon. Dan bisa berautis-autis ria. Gowesgowesgowes…

Ah, bodoh… ngapain juga aku belok ke Skanda, kan mau ke rumah Cegi bisa lurus ke Ciung Wanara. Ah, sudahlah… mungkin aku menemukan pelajaran disana. Dan ternyata benar, aku ketemu Anggun. Kalo ga ketemu, kayanya Anggun ga akan SMS ini waktu aku di depan EEP (kursus bahasa inggris itu lo) :

Asw. Miftah,spedanya sdh ad kuncinya blum? Kuncinya kmrn hilang,jd harus ad kunci baru. ITB rawan speda hilang soalnya

dan aku menjawabnya dengan: “Blm,aku mw k rumah cg ko..tp,br ampe eep,udh gemeteran bgt. Pfiuhh,, td smpt keserepet angkot pula..doain selamet.. My first bicycling at bdg ni

dan Anggun menjawabnya dengan : “Waduh,hati2 aja.Bnyk angkot n motor yg ugal2an.Jalannya dikiri,jgn di kanan.PD aj,cari jalan yg sepi,jgn lwt jalan besar,walau lbih jauh sdikit.Siap danyon!

Iya emang, waktu di depan Borromeus, aku keserepet angkot. Jeduk..jeduk. Ceritanya, angkot itu ngetem dipinggir jalan. Biasalah, pasti sopirnya suka tengak-tengok nyari penumpang. Jadi dia ga liat waktu aku ambil kanan si mobil. Tepat di sebelah pintu sopirnya, mobil menengah, tancap gas. Jadilah aku kebentur. Refleks, “Maaf pak, maaf maaf“. Huhh… Alhamdulillah masih ga kenapa-napa. Ga lecet, gores, ato penyok. Aman.

Dan Anggun bilang, “Jalannya di kiri, jangan di kanan“, karena waktu di Skanda, aku salah ambil jalan. Sekali lagi masih kagok. Di depan ada mobil, di belakang ada mobil. Takut2 nyebrang, ragu-ragu… malah ke potong ke arah kanan jalan. Kena deh dimarahin tukang parkir, “Aduh pak, maaf maaf”. Ah, sebenernya aku cuma takut ngebentur, nabrak, ato nggores mobil yang parkir aja. ya sudahlah… masih aman.

Ah, di depan EEP, istirahat 2 menit. kaki udah gemeteran… capek. Baru juga segini… Ah, ayo tancap gas lagi! gowesgowesgowes…

Ujian pertama nih, belokan Dayang Sumbi. Biasanya agak rame, yang ini? Ya ALlah… semoga ga banyak mobil yang belok2, ga berani nyebrang nih… Ah, ternyata emang ga terlalu banyak. Aman. Ah, serius nih… kaki aku udah capek banget. Baru tau rasanya, bersepeda nanjak ini energinya lebih gede dari lari. BIasanya aku lari 7 keliling di sabuga, dan ini… baru sepedahan segini aja udah wakwaw… Emang dasar roda! Ga bisa dibohongi kalo jalan ini emang nanjak. Kalo kaki bilang jalan ini relatif mendatar, si roda tau jalan ini nanjak! walau cuma 10 derajat.

Hahhh… ga kuat… Akhirnya aku belokkan sepeda gunung ini ke warung kecil. sekedar beli air mineral, yang harganya aneh.

“Pak, sanqua berapa pak?”,sengaja pilih merk ga jelas, biar agak murah.

“2ribu neng”

“Kok mahal sih pak?”

“Yang aqua aja atuh”

“Aqua berapa pak?”

“2ribu juga”

“Lah? Aqua aja deh pak. MAkasih ya”

Aneh-aneh aja.

Ngaso dulu ah… capek bener… SMS cegi, bilang telat.

Cegi,kaki aku gemeteran, kepalaku tuing2..keringet ngucur..tp, kenapa baru nympe amandaaaa… Hwaa..gempor gw.. Ngaso dulu y.. Gw jd batal dah puasa

dan cegi menjawab dengan : “Halah siah! Ari ente! Sini buruan k rmh. Biar cpt mkn. Ente puasa, saur dl kagak?

Ah… emang ga sahur sih… tapi bukan karena itu… Ah, beneran ngaso aja lah dulu. nyalain musiknya, dan buka YM… YM-an dulu ama temen2… Panji, Dinda, Teh Ninda, Kyky, Radit. Udah nanya2, boleh belok ga di perempatan simpang-tubagus, close deh! Cabut lagi! Udah makin siang ni, makin rame jalanan. Ah, bodoh… kenapa baru tau,,, cara ganti gigi, dan ternyata joknya masih bisa diturunin sampe posisi paling nyaman. Ah… Pipi… sekarang udah PW nih. Yuk, TARIK!!!

Aih, bisa euy nyelip-nyelip diantara mobil dan motor. Kata danyon, PD aja! Sip, PD AJA! Lampu merah, yaw…tunggu lah siki’. gowesgowes agak maju ke depan, melajuuu…. dan Ups! Lampunya udah merah lagi! Dan aku ada di barisan terdepan. Mundurin dikit… kelewat garis nih… (berasa pake mobil aja takut tilang). Melihat mobil didepan lalu lalang, adu… serem euy… kalo tiba2 ilang keseimbangan lagi gimana. Ni roda nyanyi-nyanyi mulu dari tadi. Judulnya “Krietkriet“. dan selama perjalanan, lagunya emang krietkriet (kayak lagu I just wanna say I Love You-nya Potret). Lampu hijau… TANCAAAPPPP!!!! Ingat! PD AJA!!!! huhuw… Alhamdulillah… Aman di ujian ke 2.

Di Simpang ni, kejadian keserepet kedua, waktu aku lagi melaju, mobil CSS biru itu majumundur ga jelas lagi ngetem. Ah, jeduk! Dan alhamdulillah masih ga kenapa2. Sekarang yang senyum-senyum sopirnya… Hihihi, bener danyon, PD aja. Jadi sopir yang ngerasa salah.Ah, lanjutkan saja perjalanan kita, gowesgowesgowes.

Aku udah ngebayangin, ntar nyampe rumah cegi mau ngobrol2… banyak, biar terhibur. Katanya kalo sendiri suka mikir sesuatu. Yowyowyow… wah, setelah belok di jalur ilegal para motor ini, ternyata jalannya mudun. meluncuuuuuuuuuuuuuurrrr lah aku… tanpa gowesgowesgowes. Suing..suing… angin segar menerpa. Dan, rumah cegi sudah dekat. Belok, turun, belok, sampai!

CEGIIII… CAPEEEEKKK“… dan Cegi menyahutnya dari dalam, “PIPINOOOOO

dan giliran pulangnya, fully dah… meluncuuuuuuuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr….besok pagi buta mau ke cegi lagi, dia ketakutan diculik ke kopo ama ua’ nya. dirawat disana. hahahaha

Ah, sungguh menyenangkan hari ini. melakoni hobi yang udah lama ga dilakoni. melakoni hobi yang udah lama ga dilakoni ama orang yang suka banget ngelakoni.

Oktober 17, 2008 at 11:37 pm 16 komentar

Bintang Timur

Disana, disebelah sana

Di Timur sana!

Dia bersinar paling terang

[bahkan saat matamu terpejam]

Larilah ke sana!

ke Timur sana!

Berlarilah,

semakin kencang!

Hei, tunggu!

bukan ke sana!

berlarilah ke Barat,

lalu belok ke Timur

…dan temukan separuh jiwamu [Bintang Timur]

Oktober 9, 2008 at 7:38 pm 12 komentar

Pos-pos Lebih Lama


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 86.472 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku