sand

Februari 15, 2009 at 3:37 pm 2 komentar

Aku sedang terus berpikir, apakah aku adalah seorang saudara atau hanya nama yang numpang mampir di kehidupan orang-orang disekitarku. Aku sedang terus berusaha jujur pada diri sendiri, apakah Aku memang layak mendapat gelar sahabat oleh sahabat-sahabatku atau sebenarnya hanya figuran dalam kehidupan mereka. Dan hingga saat ini aku masih mendapat jawaban : kamu belum siapa-siapa.

Saudara itu seperti Abu Bakar dan Rasulullah. Abu Bakar yang menahan rasa sakit digigit ular saat berlindung bersama Rasulullah di Gua Tsur ketika hijrah. Ditahannya hingga ia meneteskan airmata agar Rasulullah tidak terbangun dalam istirahatnya.  Maka, bukankah persaudaraan adalah pengorbanan?

Saudara itu bukan konsep. Bukan materi-materi daurah. Bukan bahasan-bahasan kata. Saudara itu seperti air dan batu, yang mengalir dengan riak-riak. Saudara itu ibarat kayu dan vernis, yang menguatkan, memperlama umur kayu. Saudara itu laiknya ion H+ dan otot lurik, yang akan menjadi alarm pertama saat otot mengalami defisiensi ATP agar tubuh mengerem sebentar aktifitasnya.

Maka, saat saudara kita salah, tak ada alasan untuk tidak mengingatkan. Apalagi hanya membicarakan kesalahan-kesalahan tersebut pada orang lain. Bukan lagi alasan ketika saudara kita salah lalu mengatakan, “aku pun tak sempurna. aku pun masih melakukan hal yang sama”. Lalu mengapa tidak mengatakan, “mari kita perbaiki sama-sama”. Atau jika memang yang membuat kesalahan itu keras kepala, mengapa tidak dikatakan saja. “ah, paling muncul pledoi-pledoi”. Belum dicoba kan?

Maka ingatkanlah wahai saudaraku seiman, ketika aku salah. Karena berbuat kesalahan adalah berjalan ke tepi jurang. Maka tegakah kalian ketika aku jatuh ke jurang dan tak bisa naik kembali?.

Dan kini aku mengerti secara hikmah, mengapa ALlah sangat membenci ghibah, fitnah, dan namimah. Aku hanya mencoba mencari penalaran logis saja. Ya, mengapapun ALlah membencinya. Aku hanya bisa melogiskan dengan sebuah kejadian. Hmm…penalaran logisnya tidak usah ditulis disini ya. Yang penting untung, kalo diomongin dibelakang kan dosanya ditanggung ama yang ngomongin, heheh (tertawa licik).

Bersaudara itu membutuhkan saling memahami, bukan asumsi-asumsi. Bukan paradigma-paradigma. Bukan permintaan untuk dipahami, hanya pahami saja dia saudara kita, terlepas dia memahami kita atau tidak.  Aku jadi paham, yang namanya saudara itu tetap membantu secara gerilya atau minimal mendoakan walau hati kita tersakiti. Yang namanya saudara itu mendahulukan saudaranya ketimbang dirinya sendiri. Yang namanya saudara itu memilih dirinya yang sengsara daripada saudaranya yang harus sengsara, jika memang tidak ada pilihan sama2 bahagia.

Ah, bersaudara kan hanya masalah muamalah (hanya?). Kata siapa? Kata aku mah ibadah

Jadi, pahamkah kita bahwa bersaudara adalah konsekuensi keimanan kita. Konsekuensi keislaman kita. Karena Rasulullah telah mencatatkan bahwa tidak ada apa-apanya iman ini jika kita tidak mencintai saudara seiman seperti kita mencintai diri sendiri. Syahadah ini, Asyhaduallaailaahaillah..wa asyhaduanna muhammadarrasulullah… Syahadah ini, yang seharusnya mengikat hati-hati kita dalam satu cinta. Cinta dalam makna bukan dalam kata, lurus pada sang Mahacinta.

Aku jadi berkaca diri, sudahkah aku menjadi saudara bagi mereka yang ada dikehidupanku?

special dedicate for : My Uni, dan akhirnya detik-detik perpisahan itu datang juga

tribute to : Abi Stanza, Adisti Dini Idreswari, Adi ‘cubadax’ Putra, Agtri Leandini, Ami Ramdhani, Anni Nuraeni, Annisa Ramdhaningtias, Anthoni, Army Alghifari, Arinda Amalia Putri,  Arini Puspita Tulus, Asrofah Sartini, A. Rohmatullah Sofyandi Sedar, Benazir Desytta, Bobby Rahman, Citra Gusti Lestari, Deri Meidian Ramdhani, Diah Ajeng Setiawati,  Diana Yusnita, Dhian Kurniasari, Endah Lestari Puji Astuti, Erqurani Hijrian Muslim, Fani Ferdiana, Febianti, Febriya Antensari, Fenny Rahayu Prasetyoningsih, Fitrasani, Gesa Falugon, Galih Surya Permana, Gilang WidyaWisaksana, Hadi Teguh Yudistira, Hendri Sabeth, Husna Nugrahapraja, Ike Mediawati, Ingrid Desiana Darmawati, Krisna Adiarini,  Morinta Rosandini, Muhammad Yunus, Muhammad Arif Andromedae, Nailul Khisolil Fitri, Novi Astuti, Oki Earlivan Sampurno, Panji Prabowo, Patminingsih, Raden Raditya Yudha Wiranegara, Ratih Putri, Ratihqah Munar Wahyu, Reni Nursatwika palupi, Reni Noviyanti, Ridwan Aldillah, Rizkiwati Fitriah Djangko, Rizky Ayu Maulani Yusuf, Shally Pristine, Shinta Yulizia, Sra Harke Pratama, Sunarni Riningsih, Surya Kresnanda, Syifa Latifah Zahra, Taqisthi Viona, Tri Aji Nugroho, Yayuk Purwandari, Yuanita Tri Adityasari, Yuli Astuti, Wiedy Yang Essa

~~

pipilagimeracau

Entry filed under: tulisan standar. Tags: , .

tak termaafkan! Klik!

2 Komentar Add your own

  • 1. dian  |  Februari 17, 2009 pukul 9:37 pm

    maaf telah lama tak menunaikan hak saudara bahkan sekadar berkunjung di blog (eh?!) ‘afwan..

    Balas
  • 2. jussemangka  |  Februari 28, 2009 pukul 5:41 pm

    jazakillah,saudariku telah sering diingatkan. Semakin terasa saat Pippy minta dikirimkan sms taushiah, trus saat buka inbox hp, sms2 taushiah saya didominasi sms darimu,Py. Jadi malu….
    Terus….inget banget,dirimu yg suka duluan negur dan mengklarifikasi jika terjadi sesuatu.

    Thanks for being such a wonderful sister.
    Uhibbuki fillah,Py ^v^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: