hausuit

Januari 6, 2009 at 7:42 am 4 komentar

Kebingungan memberi judul tulisan, ngapain susah-susah? Kita bikin aja kosa kata sendiri. HAUSUIT. turunan londonese yang dipaksakan.

Lanjut aja dah. Jadi begini ceritanya fren, kemarin sore sekira jam 5 aku dan Mba Upe di RS Salamun Ruang Perwira Paviliun Buana 6, yang sekarang merupakan markas kehormatan My Uni (sekalian ngasih info kalo Uni sakit).

Awalnya karena pertanyaan tentang potongan kisah di buku AlChemist Paulo Coelho. Tentang Santiago yang saat pertama kali melihat anak penjual roti langsung merasa, “Ya Tuhan, dia yang kelak akan menjadi istriku”. Gitu juga dengan anak penjual roti tersebut kala melihat Santiago, “Ya Tuhan, dia kelak menjadi pendamping hidupku”. Itu gimana Uni? Aku lupa Uni jawab detilnya gimana, tapi Uni menekankan pada keridhoan Allah pada prosesnya, pada proses pernikahannya. “Karena beda Pi, antara Allah mengijinkan dengan Allah meridhai”. Wah iya ya? “Orang yang MBA, Allah mengijinkan… tapi Allah tidak meridhai kan?”, lanjutnya. Waaaaah… Iyaaaaaaaaaaaa…

dan kemudian kami membincangkan tentang proses yang baik itu seperti apa, kemudian  tentang ketsiqahan pada wali. Wali itu bisa Ayah kandung, saudara laki-laki kandung, atau Murabbi. Kata Uni, “yakin, kalau mereka tidak akan menjerumuskan kita”. Kemudian mengalirlah cerita ini…

~~~

Alkisah (halah), seorang akhwat kuliah merantau di Pulau Jawa, sebutlah Bandung, ditelfon oleh ayahnya. “Nak, ayah ingin menikahkanmu dengan seseorang”, katanya. Akhwat tadi kemudian bertanya, “gimana orangnya ayah?”. “Shaleh, insya Allah”, jawab sang ayah. Dengan bekal keyakinan bahwa ayahnya selama ini sangat menyayanginya dan yakin tidak akan menjerumuskannya (ga akan bikin menderita lah intinya), dan satu kriteria “shaleh”, dengan itu pula ia akhirnya mengiyakan keinginan ayahnya.

Akad pun berlangsung, dengan mahar satu buah Al-Quran. Itu cukup. Sang Ikhwan dan sang Akhwat pun resmi menjadi suami istri.

Unik Pi, cara ikhwan ini mejemput istrinya, kata Uni. Akhwat itu jadi guru di satu sekolah di Jakarta. Dan ikhwan itu menyusul dengan melamar kerja sebagai guru juga di sekolah yang sama. Trus trus? Aku dan Mba Upe semakin penasaran dengan cerita uni. Nah, ikhwan ini setiap hari selalu menggoda akhwat tersebut, tapi pada yang lain tidak. Tapi mereka sudah halal kan?, Uni bertanya yang tentu saja walau tidak kami jawab, jawabannya akan tetap “iya”.

Mau di anter pulang? Bareng yuk” atau “makan siang bareng yuk” atau sapaan-sapaan genit dan senyum-senyum aneh. Sering banget ikhwan itu godain akhwat itu. Mungkin ampe akhwatnya empek campur sebel campur benci. Aku ngebayangin, ih… jijay banget sih ni orang. Aku ga ngerti apa yang dipikiran akhwat itu. Mungkin kepikiran, Ya Allah… salah apa saya sampe digangguin ikhwan kaya gini.

Sampe akhirnya, Pi.. suatu sore ada orang bertamu ke kosan akhwat itu. Yang membukakan pintu ibu kos-nya. Nah, saat akhwat itu membuka pintu, ternyata yang ada di depan pintu itu ya si ikhwan itu. Ghyabooooo….

Karena uni ga nyeritain gimana prosesnya sampe akhirnya si akhwat tau dan mengakui ikhwan itu suaminya, kita bikin kuis aja yok, hehehe… si pipi nakal.

a. akhwat itu menanyakan (dengan sopan tentu saja, kan akhwat, hehe), “ada perlu apa?”, kemudian ikhwannya bilang. “ada perlu, memberitahukan suatu hal, bahwa aku suamimu, ini mahar kita” sambil menunjukkan Quran Syaamil hitam yang diketahui akhwat tersebut bahwa itu memang mahar mereka.

b. agak emosi si akhwat ini, karena sering banget digangguin. “kamu nih sebenernya mau apa? kamu siapa? kenapa sering nganggu?”. masih iseng juga si ikhwan ini, bilang “aku suamimu”, trus buka tas dan ambil Quran, menunjukkan Syaamil hitam dan bilang kalo Quran itu maharnya (akhwatnya tau).

c. masuk lagi ke dalam rumah, nelfon ayahnya. kemudian nanyain ciri-ciri suaminya, dan ternyata cocok. keluar lagi deh, dan ikhwan itu tanpa ditanya bilang, “aku suamimu” sambil mengangkat Quran sampai setinggi kuping.

d.  si akhwat bilang, “kamu diem disitu! aku telfon ayahku”. mirip ama kejadian c, nanyain ciri-ciri suaminya, dan ternyata cocok.  dan ikhwan itu tanpa banyak bicara membuka isi tasnya, mengambil Quran, dan memberikannya pada si akhwat.

e. si akhwat bilang, “diem disitu! aku telfon ayahku”, nadanya ngancem. dan ayahnya bilang, “nak, ayah ga bisa menjelaskan lewat kata-kata. ayah kirim saja no HP-nya ya”. SMS masuk, “aku telfon suamiku”, si akhwat sedikit merasa menang. Dan..wo-o… ringtone HP orang didepannya berbunyi.  ah, dari orang lain mungkin, pikirnya. masih dengan muka lempeng, si ikhwan itu mengangkat telfon sambil bilang “istriku telfon”, “Assalamualaikum”, sapanya. Dan tentu saja si akhwat menjawab salam diseberang telfon genggamnya dengan satu kalimat “waalaikumsalam” dengan nada kalah telak. Orang yang punya handphone bunyi pun tersenyum lebih menang lagi.

~~~

perempuan baik, hanya untuk laki-laki baik; perempuan yang menjaga diri dan hatinya, hanya untuk laki-laki yang menjaga diri dan hatinya;

hausuit?

mini_coaster2Lubang di Hati – Letto

kubuka mata dan kulihat dunia
tlah kuterima anugerah cintanya
tak pernah aku menyesali yang kupunya
tapi kusadari ada lubang dalam hati.

kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
kumenanti jawaban yang apa yang dikatakan oleh hati

apakah itu kamu apakah itu dia selama ini kucari tanpa henti
apakah itu cinta apakah itu cita yang mampu melengkapi lubang dalam hati?

kumengira hanya dialah obatnya
tapi kusadari bukan itu yang kucari

kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
dan kuyakin kau tak ingin aku berhenti

Entry filed under: ceritacerita. Tags: , , , , .

Kau tak tahu betapa rapuhnya aku… huoooohuoooohuoooohuooo April, here I come!

4 Komentar Add your own

  • 1. Erqurani  |  Januari 6, 2009 pukul 11:04 am

    waaaaw pi.. pernah baca cerita ini dimana ya?? lupa eh pastinya beberapa tahun yang lalu…
    tapi piw tsiqoh banget ya..sampai ga tau muka gitu..kasian banget..
    jawab pertanyaan pipi maunya yang E hahahaha lebih dramatis =) walau sang akhwat jadi kalah telak.. tapi kan pasti itu kalau yang lain bisa jadi penipuan hahahaha
    kalau pipi sendiri yang mana???

    Balas
  • 2. Hadi Teguh Yudistira  |  Januari 7, 2009 pukul 7:11 pm

    Ini cerita beneran ya??

    Balas
  • 3. padhangilalang  |  Januari 7, 2009 pukul 8:09 pm

    @ ani
    aku yang E juga, hahahha… itu pikiran nakal aku yang menjawab

    @ hadi
    beneran hadi, jawab dong kuisnya…

    Balas
  • 4. rosi  |  Januari 10, 2009 pukul 3:25 pm

    saya sih pilih yang B,teh. habis ditunjukkin maharnya, baru konfirm ke ayahnya… ^__^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: