Habis Cara

Desember 25, 2008 at 7:35 pm Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim… Tanpa tendensi apapun. Ikhlas karena Allah, dan biar Allah saja yang tahu, sedalam apa tulusku.

Saudaraku. Ya! kamu saudaraku. Kamu yang mungkin sekarang sudah tidak punya alasan lagi untuk mendengarku. Kamu yang punya hak untuk marah dan menganggapku sebagai benalu dan pengganggu.

Assalamualaikum wr wb

Bahkan Abu Bakar pun rela dan menahan sakit hingga meneteskan airmata ketika menginginkan Rasulullah saw tetap terlelap dalam istirahatnya.

Saudara mana yang sanggup membiarkan saudaranya menderita, padahal dirinya mungkin bisa mengurangi beban saudaranya itu, bukan sekedar melihat dan membiarkan saja.. (walaupun itu yang kamu inginkan)

Apa arti iman seorang muslim jika ia tidak bisa mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Tapi maaf, jika cinta seorang saudara yang ingin menjadi muslim yang kaffah ini justru mengganggu kehidupanmu. Biarlah Allah yang menjelaskan.

Maaf.

Kau mengenalku, aku mengenalmu (atau kau sebenarnya tak mengenalku?). Tapi aku habis cara. Aku tidak tau harus apa, harus bagaimana.

Mungkin, jika  bukan aku yang bicara, kau akan mendengarkan.

Entry filed under: tulisan standar. Tags: .

Rewind, EVALUASI! Life in Project #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: