Kepompong

Desember 4, 2008 at 3:13 pm 3 komentar

Dulu kita sahabat//Teman begitu hangat//Mengalahkan sinar mentari

Dulu kita sahabat//Berteman bagai ulat//Berharap jadi kupu-kupu

Kini kita berjalan berjauh-jauhan//Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan//Namun itu karena ku sayang

Persahabatan bagai kepompong//Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong//Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong//Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong

Sindentosca – Kepompong

A : Eh, bagus ya lirik lagu ini. Aku suka deh

B : Enggak ah, gua ga suka

A : Lho, emang kenapa?

B : Soalnya gua ga setuju kalo persahabatan disamain ama kepompong

A : Lho kok gitu? Kan kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Indah kan?

B : Indah sih, tapi abis itu kan kupu-kupunya pergi

A : Iya sih, kupu-kupunya bakal pergi, tapi kan dia jadi indah.

B : Ya kalo gua sih ga mau kupu-kupunya pergi. Gua ga mau kehilangan sahabat-sahabat gua, termasuk lu.

Hmm… buat aku, aku rela, ikhlas, jika sahabat-sahabatku, orang-orang yang aku cintai, orang-orang yang aku sayangi, harus pergi dan menebar keindahannya. Memberikan manfaat bagi setiap bunga yang dihinggapinya. Bukankah itu esensinya sebagai makhluk? Menebar kemanfaatan bagi dunia. Apalagi jika kupu-kupu itu menjadi semakin cantik dan indah dibandingkan sekedar ulat atau kepompong menurut pandangan mayoritas manusia (bilang kaya gini karena aku suka banget sama ulat, hampir setara dengan sukanya aku ke kupu-kupu).

Yah, kemanfaatan sebagai makhluk bagi dunia, bukan untuk kita saja. Bukankah ia terlahir sebagai rahmatan lil alamin? maka tidak selayaknya kita menginginkan sahabat-sahabat kita, orang-orang yang kita cintai, dan orang-orang yang kita sayangi, hanya menebar kemanfaatannya disamping kita. Apalagi jika harus selalu ‘duduk’ menemani kita.

Bukankah dengan terbang jauh, kupu-kupu itu menjadi semakin sempurna sebagai makhuk-Nya? Menahannya untuk tetap bersama kita, sama saja dengan kita tidak ikhlas memberikan cinta kepadanya. Bukankah esensi mencintai adalah memberi bukan meminta balasan, menjaga bukan meminta perlindungan, merawat dan menumbuhkan kapasitasnya sebagai manusia, dan senantiasa membantu orang yang kita cintai untuk menjadi semakin baik dan semakin baik. Ya, mencintai (siapapun itu) punya konsekuensi. Dan jika belum berani bertanggungjawab untuk menjalani konsekuensi tersebut, jangan pernah memakai lipstik, aku mencintaimu. Ana uhibbuk. Apalagi dengan kata, –fillah. Karena mencintai adalah keputusan. Dan keputusan menuntut tanggungjawab.

Maka terbanglah jauh kupu-kupu, untuk membantu bunga-bunga berfertilisasi
Bersinarlah terang mentari, untuk meradiasi energi pada bumi

white_butterfly_on_erigeron


Entry filed under: ceritacerita, puisi + lagu, tulisan standar. Tags: , .

Inspiring #sesi 3 [Abis ini] Episode Cinta #sesi 2

3 Komentar Add your own

  • 1. ajeng  |  Desember 7, 2008 pukul 8:30 pm

    terbang ya?

    terbang!

    i believe i can fly

    let me fly ^^

    (i have your words)

    Balas
  • 2. Hadi Teguh Yudistira  |  Desember 8, 2008 pukul 6:00 pm

    Hmmm…. it depends of our view. Tapi menurut persahabatan itu tidak akan pergi. Apakah alasan jarak menjadi persahabatan itu pergi??? Tidak, kalau komunikasi tetap dijaga, persahabatan itu tidak akan pergi….

    Balas
  • 3. Deri  |  Desember 9, 2008 pukul 10:34 am

    itu percakapan ma si mbak dhian bukan?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: