Allah yang Maha Baik

September 28, 2008 at 5:59 pm 4 komentar

Sebenarnya, sangat ingin bercerita. Tapi aku pikir ga perlu lah, lebih baik mendapatkan hikmahnya saja daripada mendapatkan kisahnya. Aku ingin bercerita tentang skenario Maha Indah dari-Nya. Jika jeli, berkaitan erat dengan postingan-postingan mellowku sebelum-sebelumnya. Tentang melankolisasi, tentang ayah, tentang homesick, tentang jawa, tentang sesuatu yang g pke judul, tentang semua tulisan yang isinya curhatan. Aku ga baru nyadar juga kok, waktu temenku ada yang bilang, “Pi, ada salam dari si A. katanya, kok blognya curhatan melulu sih isinya”.

Kata orang, “gimana mau mikirin bangsa kalo terus-terusan terjebak dengan individualisasi”. Iya teman, aku juga bukan lupa berpikir masalah bangsa, aku juga mengakui, kadang masalah pribadi itu sangat menguras energi dan pikiran lebih besar daripada memikirkan masalah bangsa. Huhh! Tapi aku mencoba (walau sekarang otak jadi tumpul dan terlalu polos. Bahkan, untuk berpikir tentang konspirasipun sudah tidak bisa).

Sudahlah… tidak usah banyak mengutarakan pledoi-pledoi. Males

Ayo kita bercerita…

Yah, ceritanya diriku ini sedang tertimpa musibah. Di bilang berat, ga juga. Buktinya aku masih bisa senyum sama kalian kan? Masih beraktifitas dengan normal, walau kadang error dan jetleg. Yah, masih bisa diatasilah asal dengan keikhlasan dan kesabaran, gitu kata Uni aku. (walau pernah juga nangis -dikit,dikit banget- waktu temenku ngomong sedikit memojokkan dan ge ngerti perasaanku waktu itu).

Bener deh, dengan keikhlasan dan kesabaran. Suatu ketika, aku ngerasa beban di pundak ini udah ga sanggup lagi aku gendong (cari bahasa yang beda dengan pikul [mode autis off]). Aku berdoa, menangis tergugu pada-Nya, “Ya Rabb, wa laa tuhammil ‘alaina ishrankamahamaltahu ‘alalladziina min qoblinaa. Ya Rabb, wa laa tahmil’alaina maa laathooqotalanaabih”. Ya Rabb, janganlah Engkau membebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya”. Fa’fu ‘anna, faghfirlanaa, warhamnaa, anta maulana fanshurnaa ‘alalqowmil kaafiriin.

Sekali lagi uni menegaskan, “Pi, Allah percaya Pipi bisa hadapi ini semua. Semua ada klimaks, ada antiklimaks. Yakin sama Allah Pi, Allah sedang mentarbiyah Pipi. Jangan menyakiti diri sendiri. Minta sama Allah, untuk diberi kekuatan, bukan mencabut tarbiyah ini. Karena tarbiyah ini akan datang lagi jika Pipi belum menyelesaikannya. Allah percaya pipi bisa. Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan kesanggupannya”. Suatu malam, di kosan Uni, ia memelukku erat. Seperti ibu memeluk putrinya, seperti kakak memeluk adiknya, dan dia Murabbi yang sedang memeluk mutarabbinya. I love you, Uni. (padahal sebelum cerita, aku udah kayak patung bermata kosong yang terus menerus mengalirkan airmata tanpa suara. Berjam-jam uni sabar menungguku siap bercerita, atau ikhlas jika memang aku ga bisa cerita malam itu).

Ya teman, itu klimaks dari kelabilanku (bukan berarti klimaks dari masalahku). Belajar stabil walau kadang jetleg. Belajar tetap senyum dan menjadi saudara yang baik walau suasana hati lagi ga karu-karuan. Dan sekarang-sekarang, barulah Allah mengirim paket doa pesananku (dan pesanan Uni). Paket kekuatan. tiba-tiba saja aku mendapat banyak sekali kekuatan.

1. Dari teman-teman (Especially Lebai Bersaudara -Anni, Ani, CG, Kiki, Kyky, Nisa, Nunu- thanks god… I love them. Makasih ya Ni, curhat panjangnya; dan yang lain-lain, mau nemenin aku pergi menemukan separuh jiwa yang hilang, bersedia nampung ceritaku jadi guyon malam, hahaha… jadi inget Lilis, ups!); yang mendengarkan ketakutan, kesedihan, keabnormalan, dan ke-jetleg-anku dengan sabar, maaf ya teman… aku bener2 ngerasa berdosa udah ngelibatin kamu; ga nyangka juga teman (lebih tepat dibilang adik kecil dari timur jauhnya ITB) yang tampak kayak anak kecil ternyata tingkat kedewasaannya luar biasa; dan teman-teman yang masih mempercayakanku untuk menyimpan masalahnya (I think, your problem is my spirit).

2. Dari adik-adik (yang pagi-pagi nanyain kabar karena kemarennya liat aku aneh -kata dia auranya beda, halah! dasar pakar aura-; yang ngasih kuweh, makasi ya! lain kali yang banyak, secara saudaraku -lebai bersaudara- teh gembul-gembul;)

3. Dari kelompok liqo yang kompak, hahaha… kita2, korban kekejaman liqo sebelumnya yang berujung jadi mutarabbi posesif. Ckckck

4. Dari tiga orang kawan yang menceritakan kisahnya, yang hampir semuanya mirip sama aku. Dan aku melihat kalian kawan, tetap menjadi orang-orang yang tangguh. Maka, mengapa aku tidak. Dan aku menemukan rumus jitu yang aku jamin bisa lebih canggih dari kalian, kalo aku bener-bener lakuinnya. hahahaha

5. Dari teman yang menceritakan kisah temannya (temannya itu anak jakarta, anak ITB, cantik dan cumlauder), yang menurut aku itu cerita yang gila luar biasa. Gimana ga gila, dia udah siap dibunuh kapan aja sama keluarganya sendiri. Kata-kata kasar kayanya udah makanan sehari-hari kalo pisau selalu siap mencabik-cabik perut dan kepala cerdasnya itu. Sayang, belum dapat dipetik hikmahnya. Tapi hikmah buat aku sendiri sih, “Jangan menganggap kita adalah orang yang paling merana di dunia. Karena masih baaaaanyak orang-orang merana selain kita”. So, Enjoy! Keep Smile n Keep the spirit!

6. Dari perjuangan tanah suci Palestina. Masih punya nikmat untuk merdeka kok kita, walau hanya beberapa waktu. walau masih dibawah intimidasi dan caci maki. Ah, mereka dibawah kokang senjata. Benar kata ibu peri (teh Ratih TL02), Allah memilih Palestina sebagai bumi suci para syuhada, bukan Indonesia yang serba subur serba makmur ini. Tapi Palestina yang kini tersisa gersangnya. Karena apa? Karena mungkin kita tidak (mau) mempersiapkan diri terhadap tantangan Allah yang seru-seru.

Ya Allah, aku ngerasa banget… bener-bener kekuatan itu datang. Semuanya datang bertubi-tubi, menguatkan keimananku. Memaniskan jalinan cinta kasih antara aku denganNya. Membuat aku bangga dengan kehidupanku.

Dan untuk cinta kalian semua, aku telah dikirimi satu lagi peneguh hati. kado penghibur dariNya karena ternyata aku harus bersabar lebih lama, 7 ekor qurrota a’yun yang siap aku ajak ber-autis ria, dan satu buah mainan anak, ethek-ethek boneka namanya. bisa berbunyi kalo digoyang2. bentuknya boneka tangan, tapi suaranya nyaring. 7 ekor qurrota a’yun itu terdiri dari 2 ekor Betta splendens (cupang hias), 2 ikan marbels motif item-putih-kuning totol-totol yang sangat lincah (atau gelasnya yang kekecilan ya?) dan 3 ikan PKS (pipi, kaka, dan sese) karena motifnya garis item-putih-kuning.

[foto mereka diupload kemudian]

Makasih y Allah… Allah emang Maha Baik

Allah Maha Penghibur. -setidaknya, kehadiran 7 ekor qurrota a’yun itu bisa menjadi penyemangat lagi buat aku, dan etibo (ethek2 boneka) itu –

Ya Allah. Benar janjiMu, bersama kesulitan SELALU ADA kemudahan. dan Kau mengulang janjiMu, BERSAMA kesulitan SELALU ADA kemudahan. Engkau menegaskan dengan menyebutkannya dua kali. Ayat itu yang selama ini menyertai shalat wajibku. BERSAMA kesulitan SELALU ADA kemudahan. Dan kemudahan-kemudahan itu menjelma dalam sosok saudara-saudaraku :

Anni Nuraeni, Annisa Ramdhaningtias, Army Alghifari, Arinda, Citra Gusti Lestari, Diah Ajeng Setiawati, Dhian Kurniasari, Endah Lestari Puji Astuti, Erqurani Hijrian Muslim, Fani Ferdiana, Febianti, Febriya Antensari, Fenny Rahayu Prasetyoningsih, Gesa Falugon, Gilang WidyaWisaksana, Ike Mediawati, Nailul Khisolil Fitri, Raden Raditya Yudha Wiranegara, Reni Nursatwika palupi, Ridwan Aldillah, Rizkiwati Fitriah Djangko, Rizky Ayu Maulani Yusuf, Shally Pristine, Syifa Latifah Zahra

ANA UHIBBUKUMFILLAH

Entry filed under: ceritacerita. Tags: , .

Tulup Jonggrang Bintang Timur

4 Komentar Add your own

  • 1. dianyangsedangbelajarkesabaran  |  September 30, 2008 pukul 1:41 am

    mau ceritain ke pipi, tapi entar aja… hehe

    ahabbakalladzi ahbab tanilah, pi…🙂

    selalu ada hikmah di setiap kejadian, selalu ada jalan di setiap kesulitan, selalu ada ALLAH di setiap sudut harapan

    Balas
  • 2. Hadi  |  Oktober 7, 2008 pukul 6:57 pm

    Assalamu’alaikum Wr.Wb,
    wah benar-benar isinya curhat… Tapi tidak papa itu namanya mengekspresikan diri, insya Allah kita akan menjadi tenang…
    Ingat loh, kita semua saudara, sharing sama saudara jika ada masalah….

    Balas
  • 3. Deri  |  Oktober 9, 2008 pukul 3:20 pm

    alloh tuh maha mengatur….
    jadi kalau masalah kita banyak, urusan kita banyak
    serahkanlah pada Alloh, apa yang tak sanggup kita atur, jaga, dan selesaikan…
    (kata-kata berharga yg sy dapet dari episod terakhir
    sinetron PPT 2)

    Balas
  • 4. miftajah  |  Oktober 9, 2008 pukul 7:03 pm

    @ budikusayang
    ok, ntar kalo budi udah pulang, kita ngobrol ya…

    @ hadi
    bismillah… semoga postingan abis ini bukan curhatan lagi hadi… aku pernah berjanji… untuk BAHAGIA. apapun yang terjadi, AYO BAHAGIA!

    @ deri
    yup!
    kalo pundak ini ga bisa lagi menanggung beban itu, ada Allah tempat bersandar…
    Allah menyediakan diriNya untuk kita… (masi keukeuh belum sepakat tentang diksi)
    Keep smile and fight!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,335 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: