Penangguhan Kemenangan

Agustus 20, 2008 at 11:44 am 7 komentar

Judul ini dipake karena pagi tadi baru dapet dari materi Lingkaran Cahaya. Materi yang membesarkan hati setelah menghadapi kenyataan PENANGGUHAN KEMENANGAN dari-Nya.

Kemenangan, niscayanya datang dari Allah, Yang Mahatahu, Yang Mahabaik, dan Mahabijaksana. Kemenangan, niscayanya menjadi sebuah penggerak mata hati kita untuk berbuat lebih banyak, bukan hanya karena tanggungjawab yang lebih banyak. Kemenangan, niscayanya adalah buah dari effort dan optimisme, serta hasil pertambahan dan pengalian nilai-nilai keikhlasan dalam koridor koefisien yang hanya Ia yang tahu.

Ketika dari sebuah kerja keras, akhirnya Allah baru memberikan kemenangan akhirat, bukan kemenangan dunia, maka bukan Ia tidak memberikan Kemenangan itu. Tapi Ia menangguhkan hingga suatu masa kemenangan yang lebih berkah itu kita sambut dengan tangis keikhlasan dan ketawakkalan.

Ketika kemudian kemenangan itu ditangguhkan, belum berarti kemenangan itu berpaling karena dosa-dosa kita. Murabbiyah saya pernah bercerita ketika masa kampanye, bahwa kita harus optimis terhadap perjuangan dakwah siyasi ini. Berkaca dari kemenangan HADE, bahwa kemenangan yang Allah berikan bukan hanya dari effort kita yang besar. Tapi ada nilai keberkahan didalamnya. Kemenangan itu lahir dari keberkahan dakwah dan jamaah. Keberkahan yang Allah kabulkan atas doa-doa orang beriman, doa-doa anak sholeh, dan doa-doa rakyat yang ikhlas terhadap pemimpinnya. “Dan kita seharusnya harus sangat optimis, karena yang mendoakan kemenangan TRENDI bukan hanya kader-kadernya, tetapi juga para dhuafa, anak-anak yatim, dan orang-orang yang telah disantuni oleh Ust Abu Syauqi melalui Rumah Zakatnya. Dan seharusnya kita tidak menghalangi doa-doa mereka dengan perbuatan-perbuatan munkar kita“. Astaghfirullah… Memang, kita harus banyak berkaca atas perilaku kita. Tetapi, Allah melarang kita terlalu larut dalam kesedihan dan menyalahkan diri sendiri atas takdir yang diberikan-Nya. Padahal, takdir itu adalah yang terbaik dari-Nya. Untuk persamaan point ini, kita beri nama A dengan koefisien a.

Kemudian, kemenangan itu ditangguhkan mungkin karena Umat Muslim yang berjuang belum siap menerima tanggungjawab kemenangan. Mungkin mereka telah berjuang dengan harta dan raganya. Namun ketika ruhnya belum siap menerima kemenangan, maka Allah yang Mahabaik ini melindungi umat-Nya dari fitnah. Karena ketidaksiapan melaksanakan tanggungjawab kemenangan akan mengakibatkan kerapuhan dalam berbuat, ketidaksiapan menerima kemenangan mengakibatkan ketidakprofesionalan dalam melayani umat. Sehingga kemenangan itu justru menjadi fitnah bagi umat muslim dan kemenangan itu akan sangat mudah direbut oleh musuh. Untuk persamaan point ini, kita beri nama B dengan koefisien b.

Penangguhan kemenangan akan menunjukkan pada pejuangnya bagaimana manisnya Iman. Kemenangan yang datang dari Allah akan datang ketika harta, jiwa, dan raga ini sudah diinfakkan dalam jalan dakwah dengan semaksimal mungkin. Kemenangan itu akan datang ketika segala daya upaya telah dicurahkan dan hingga hanya satu hal tersisa, kepasrahan dalam beramal. Tawakkal. Ketika perjuangan tidak melahirkan ketawakkalan, kemenangan yang diraih hanya rasa mangga (dibaca : cuma hasil effort kita saja). Tapi ketika kekuatan musuh yang gila-gilaan itu sudah sangat hebat dan tidak terbendung oleh kekuatan harta dan fisik kita, dan pada akhirnya kita mengeluarkan pusaka terakhir kita (dibaca : doa dan ketawakkalan), maka kemenangan itu akan berasa nano-nano (dibaca : terasa sebagai rahmat dan karunia-Nya). Untuk persamaan point ini, kita beri nama C dengan koefisien c.

Dari situ, kita akan merasa, bahwa kemenangan itu bukan hanya hasil kerja keras kita, tapi adalah milik Allah. Ketika kita merasa “eits, gue kan udah ngasih effort gede, jelaslah menang!”, kita akan semakin mendekati ujub dan kesombongan. Maka bersyukurlah ketika kemenangan itu ditangguhkan. Berarti Allah masih mencintai kita. Kemenangan adalah kemenangan, ketika kemenangan itu semakin mendekatkan kita pada Dzat Penggenggam Jiwa ini. Dengan ditangguhkannya kemenangan, kita semakin banyak berintrospeksi diri. Peperangan yang dipimpin rasul aja ga selamanya menang. Ya itu memang supaya sahabat banyak introspeksi diri, karena kalah jadi sadar kalo ternyata barisan dakwah udah ga lagi rapih, amalan yaumiyan mengendur, dsb. Sampai akhirnya mereka memperkuat iman dan merapihkan barisan dakwah lagi, dan akhirnya kemenangan di peperangan selanjutnya menjadi buah keberkahan yang tertunda. Subhanallah… Untuk persamaan point ini, kita beri nama D dengan koefisien d.

Kata Murabbiyah-ku, Kemenangan mungkin juga ditangguhkan karena masih ada sebagian dari kita yang belum ikhlas berjuang. Mungkin masih ada yang menginginkan dunia, seperti : (yang ini contohnya gak banget)

1. seneng2 aja, ntar kan sering ketemu ama temen2 pas DS

2. biar keren gitu, ada bukti bisa closing berapa orang

3. biar kalo mutabaah amalan yaumiyan siyasi, penuh dan dahsyat!

4. dan yang lebih gak banget, biar ketemu sama si “itu”. kan dia koordinator ‘sesuatu’… halah… penting ya

Dikatakan sebagian, bukan seluruhnya. Artinya, setiap kita adalah penting. Setiap tindak-tanduk kita akan sangat mempengaruhi kehidupan jamaah. Ada seseorang diantara kita yang tidak ikhlas, masih sering maksiat, masih doyan ghibah (astaghfirullah…), ya kita emang ikut berkontribusi mengeroposkan pilar-pilar jamaah.  Untuk persamaan point ini, kita beri nama E dengan koefisien e.

Kemudian, penangguhan kemenangan juga Allah takdirkan karena mungkin memang masih ada kebaikan dalam kebatilan. “Ngerti gak?” murabbiyah-ku bertanya. Dan tanpa konsolodasi sebelumnya, semua peserta lingkaran cahaya itu menggeleng, “enggak”. Murabbiyah-ku memberikan permisalan paling dekat. “Mungkin dalam Pemerintahan Dada sebelumnya, walaupun yang banyak kita ketahui adalah kekurangan dan permasalahan, mungkin ada kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh beliau yang kita tidak tau. Dan ketika beliau kalah, tunas-tunas kebaikan itu akan ikut hancur bersama kebatilan yang terjadi. Jadi, ketika kebatilan itu dihancurkan, kebaikan-kebaikan itu juga akan ikut hancur.”. Kami ber-ooooo panjang. Untuk persamaan point ini, kita beri nama F dengan koefisien f.

Kemudian, belum nyata benar kebatilan-kebatilan yang ada, juga menjadi salahsatu faktor penangguhan kemenangan. Murabbiyahku memberikan contoh kasus PLTSa. Yang masyarakat mengerti, pembangunan PLTSa adalah program kerja yang baik. Ya iya lah, secara sampah mau dijadiin duit gitu. Cuma orang gila yang menentang program sebagus itu. Dalam hal ini, PLTSa masih menjadi pilihan terbaik untuk mengkonversi sampah menjadi rupiah dalam kacamata masyarakat awam. Belum terbukti nyata bahwa PLTSa yang justru lebih berbahaya dari sampah akan mandatangkan permasalahan baru yang lebih kompleks. Untuk hal ini, saya langsung mengerti. Mungkin, memang karena selama ini masyarakat Bandung juga merasa bahwa pemerintahan kota ga banyak ngasih masalah buat kehidupannya. Maka, memang belum nyata benar kebatilan yang ada. Untuk persamaan point ini, kita beri nama G dengan koefisien g.

dan point terakhir adalah, Masyarakat memang belum siap menerima Al-Haq. mungkin, masyarakat saat ini belum se-sholeh masyarakat Madinah. Murabbiyah ku kemudian bercerita tentang umat Nabi Musa, bahwa setelah diberikan oleh-Nya kemenangan, umat Nabi Musa justru minta dibuatkan patung untuk disembah. Dalam hal ini, kemenangan justru akan menjauhkan masyarakat dari Pemiliknya. Untuk persamaan point ini, kita beri nama H dengan koefisien h.

Diketahui :

KEMENANGAN akan diperoleh jika dan hanya jika  SP = 0

dengan SP : Skor Perjuangan

dimana : SP = aA + bB + cC + dD + eE + fF + gG + hH

dengan nilai a, b, c, d, e, f, g, h = 0 atau 1

maka, berapa skor kita?

Wallahua’lam bi shawab. Semoga bermanfaat…

Entry filed under: tulisan standar. Tags: , .

Yang Muda Yang Bergairah KAPAN MUKER???

7 Komentar Add your own

  • 1. arinkusayang  |  Agustus 21, 2008 pukul 11:59 am

    masih ngebahas seputar kekalahan trendi nih yeee…

    sabar ya teh..

    Balas
  • 2. ardee  |  Agustus 21, 2008 pukul 3:03 pm

    Mak… artikelnya keren pisan…
    panjang lagi… lumayan tercerahkan…

    Balas
  • 3. dhimz  |  Agustus 21, 2008 pukul 3:13 pm

    sayang pak taufik cuma juara II

    Balas
  • 4. radit  |  Agustus 27, 2008 pukul 6:36 pm

    Sip,suka ama pembahasannya.
    Sistematis!
    Salute…

    Balas
  • 5. miftahnyapipi  |  Agustus 28, 2008 pukul 11:25 am

    @ arin, kang ardian, dhimz, radit
    for now, we lost in the battle, but… no in the war!

    Balas
  • 6. ardee  |  Agustus 29, 2008 pukul 9:02 am

    @Dhimz: Hehehe juara II… kayak balap karung 17an…
    @Pipi: The Real Battle waiting… Ramadhan coming…

    Balas
  • 7. armyalghifari  |  September 2, 2008 pukul 8:41 pm

    ramadhan is trainee moment..
    the real war is 11 months after trainee moment..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: