Mikir kok setengah-setengah?

Mei 15, 2008 at 9:57 am 10 komentar

Kemarin nongkrong di CC, ceritanya mau memenuhi undangan (dibaca dengan nada setengah BT, lagi sensi dengan kata ini) kajian BBM. Katanya dari Forum Kebangkitan Mahasiswa dan anak2 GG. Liat pembicaranya sih disana, tapi anehnya anak GG kenapa bikin kelompok sendiri. Pas ditanya katanya mereka lagi ga bikin kajian BBM. Wah, mulai GJ nih… Ga Jelas!

Nah, sambil nunggu orang-orang yang mau kajian itu, aku minta TTD buat Petisi Kampanye Anti POPOK (istilahnya anak2 Gamais ITB buat istilah Anti Pornografi dan Pornoaksi). Ketemu temen lama, anak kabinet juga jamannya K’Dwi.

Dengan asumsi di pasti paham, jadilah aku tanpa babibu menyodorkan kertas lembar dukungan itu sambil ngomong, ”eh, TTD dong… antipornografi.. baca juga nih pencerdasannya… bahayanya pornografi….”.

ga disangka-sangka, dia lagi aneh kayanya… dia malah bilang, ”ngapain si kalian ngurusin hal ginian? Harusnya urusin tuh BBM!”.

BT banget kan? Kesannya kita ga mikirin masalah BBM aja. Jadilah aku tersulut dan penyakit nyolotnya kumat, ”eh, BBM juga dipikirin. Tapi bukan berarti pornografi ga penting. Ini juga penting tauk!”.

eh, dia malah ketawa… ”haha…gua kan sengaja mau bikin lo marah”.

”Yee… biasa aja dong! Lagian, baca aja belom pencerdasannya… harusnya lo baca dulu baru lo bisa ngasi pendapat pornografi itu ga penting”.

Eh, dia malah bilang,”ga mau! Ngapain?”

”yee… gini nih. Ga mau di kasi pencerdasan ya udah”

”emang gua bisa jadi cerdas kalo gua baca kaya gituan”

”gimana bisa cerdas kalo tau aja ga mau… baca aja ga mau”

Dia malah berlalu sambil ketawa ngakak… hahahaha… Ah, Sial! BT ah…

Aku bingung, kok ada si orang yang mikirnya setengah-setengah… kok bisa? Kok masih ada orang yang mikir masalah pornografi itu ga penting? Kayak yang tante Tatty kemaren bilang, ”Nak, pemerintah itu begitu lama menunda-nunda pengesahan RUU APP karena mereka menganggap masalah ini ga penting. Makanya kita yang mesti terus-terusan nge-push mereka. Kayak KPAI saja SK-nya lama sekali turun. Setelah didesak berkali-kali barulah SK KPAI turun, padahal KPAI itu lembaga pemerintah”

Ada lagi yang aneh, kalo yang ini dia kayanya rasional banget gitu. Cewek. Waktu aku minta TTD buat petisi, dia bilang, ”ntar aja ah ngasi sikapnya, kalo udah dapet pencerdasannya besok”. OK, besok setelah dapet pencerdasan wajib ngasih sikap ya!, aku bilang.

Ehmm… aku rada bingung sama karakter mahasiswa ITB. Trus aku juga bingung kenapa FIM bisa ngubah paradigma orang sedemikian cepatnya mengenai pornografi…

 

Entry filed under: tulisan standar. Tags: .

Say No to Porn! #episode Film ML Neng Pipi kata Teh Myers Briggs

10 Komentar Add your own

  • 1. ksatriacahaya  |  Mei 15, 2008 pukul 10:58 am

    heheh…
    jadi pengen komen…

    dulu pernah dikasi tausyiah sama mas’ulku waktu di MaTa’. lupa redaksinya. tapi kurang lebih begini,
    ” kita ga akan pernah berhasil menegakkan kembali peradaban Islam ini selama masing-masing kita merasa cara yang kita pakai untuk menegakkan Islam lebih benar atau lebih baik daripada yang lainnya sehingga menganggap yang lainnya lebih salah atau tidak penting”.

    wong kita itu sedang mengerjakan kepingan kita masing-masing. dengan kafaah kita masing-masing. memang harus ada yang mengangkat isu moral, dan harus ada juga yang mengangkat isu BBM. iya kan?

    yang jadi masalah adalah ketika yang mengangkat isu BBM ngerasa isu BBM lebih penting daripada isu moral. dan yang isu moral merasa isu moral lebih penting.

    kalo kita bisa maksimal mengangkat isu moral, ya just do it. dan yang merasa bisa mengangkat isu BBM, just do it juga….

    heheheh….
    habis energi kalo saling tuding….

    lebih baik meningkatkan produktivitas.
    yang dilihat umat tuh apa?
    karya kita yang kongkrit!

    so, mari kita berkarya!

    Balas
  • 2. Julian  |  Mei 15, 2008 pukul 4:49 pm

    setuju sama ksatriacahaya (siapa ya, kira2?)

    pengen komentar paragraf terakhir. mungkin mahasiswa ITB butuh fakta2 dan data2 yang akurat sebelum mengambil sikap dan bertindak. dan itu saya kita dapat di FIM.

    jujur aja saya sendiri begitu terhenyak melihat betapa bahayanya pengaruh pornografi terhadap kehidupan seseorang. mulai dari moral, intelektualitas, psikologis, kesehatan, sampe ekonomi, semuanya kena.

    ASA yang berusaha mengajak berbagai elemen dengan background yang beda2 untuk sama-sama bergerak patut diacungi jempol. mungkin ini yang agak kurang dari mahasiswa ITB, walaupun secara personal luar biasa tangguh

    Balas
  • 3. Julian  |  Mei 15, 2008 pukul 4:51 pm

    waduh, salah ketik.

    di paragraf 2 harusnya: “dan itu yang kita dapat di FIM”

    Balas
  • 4. radit(bukan radith)  |  Mei 16, 2008 pukul 3:34 pm

    Wah,mif…
    Kamu harus nyoba minta tanda tangan di anak Mesin deh…
    Banyak sakit hatinya mah kalo di situ!
    Disuruh ngisi ga mau,apalagi baca pencerdasannya…
    Pernah pas aku mo minta tanda tangan ke salah anak lab. di Mesin, dia ga mau, terus kubilang, “Lo mau anak lo digituin (diajak ML) ama temen cowoknya???”
    Dia bilang,”Yaaa, itu terserah dialah…Selama dia udah dapet KTP dan berumur 17 tahun,why not!?”
    Mendengar itu,aku cuma bisa istigfhar…
    Duh duh,mahasiswa ITB…
    Berarti temenmu itu hanya bisa melihat dari satu sudut pandang. Dia ga bisa berpikir untuk melihat dari sudut pandang yang lain,think out of the box.

    Balas
  • 5. miftahnyapipi  |  Mei 16, 2008 pukul 3:46 pm

    kasariacahaya= mba yuli TL’03

    benar! sepakat julian…
    memang mereka butuh pencerdasan by data and facts… asal mau open mind aja ama data dan fakta yang dikasih… abis, kadang2 mahasiswa ITB uga kurang objektf…

    sepakat mba yuli juga…
    ga ada yang harus direndahkan, dan ga ada yang harus ditinggikan jika yang dibawa sama-sama demi ummat…

    Balas
  • 6. miftahnyapipi  |  Mei 16, 2008 pukul 4:05 pm

    ehmm… tadi si orang yang bilang “ngapain ngurusin pronograi? urusin tuh BBM”,,,
    nyatanya dia juga taid ga ikut aksi!
    jadi ngapain mas???

    Balas
  • 7. radit  |  Mei 16, 2008 pukul 5:39 pm

    Inkonsistensi ucapan dengan tindakan…
    satu lagi penyakit anak ITB…

    Balas
  • 8. fitrasani  |  Mei 21, 2008 pukul 8:18 am

    hahaha itu si org itu maksudnya yg gondrong ;))
    kita punya pengalaman yg sama dengan kalangan itu,,,soalnya sy juga punya aura anti ma orang-orang itu jadi klo disulut ma orang-orang begitu cepet marah hahaha

    Balas
  • 9. Ardee  |  Mei 22, 2008 pukul 11:27 am

    Kesimpulan: Nggak semua orang punya otak… dan nggak semua orang yang punya otak punya empati…

    Balas
  • 10. miftahnyapipi  |  Mei 23, 2008 pukul 3:49 pm

    @ fitra
    bukan yg gondrong fit, temennya… mantan anak kabinet. yg gondrong kan ga pernah di kabinet..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,335 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: