Ia yang bernama INDONESIA

April 14, 2008 at 10:01 am 4 komentar

Yang kedua dari my e-diary yang pengen di share…

8 Februari 2007

Bismillah…

Asw,

Beberapa hari ini masih kepikiran pengalaman DAT, kayanya ga bisa kalo ga cerita. Aku terkesan banget ama seseorang, walaupun di DAT banyak orang muncul dengan ke-keren-annya masing-masing. Tapi, orang ini spesial. Yaitu Pak Rum Aly. Pertama kali ngedenger namanya, suer deh gue… ga tau nih orang siapa. Udah tua. Dan bawain materi sejarah pembentukan bangsa dengan durasi yang cukup lama buat materi yang bisa dicap MEMBOSANKAN secara membabi-buta. Yah, tau lah ya karakternya anak ITB dengan kapasitas kecerdasan matematikal yang jauh membumbung meninggalkan kecerdasan sosial. Lebih suka yang logis-logis dan yang eksak-eksak. Yang dah pasti. Jarang ada yang punya pemikiran dengan alur mencintai dan memandang kebenaran dari jalur kronologis kejadian. Dan orang yang jarang itu, Pak Rum Aly salah satunya.

Miris banget, waktu ada sesi kesan-pesan tentang materi hari 1, orang-orang lebih nangkep bahwa materi Ideologi dan Globalisasi cukup menantang dan bikin mikir karena ga ngerti lantaran bahasanya dewa banget, materi ITB BHMN yang bikin rancu dan berpikir, “jadi yang menguntungkan itu ITB yang BHMN atau ITB yang non-BHMN?”, dan materi Sejarah Pembentukan Bangsa yang ga jelas ujug-ujug ngomongin Pithecanthropus segala.

Sedih banget kalo aku jadi Pak Rum. Masya Allah, walaupun aku ga bisa nangkep semua yang pak Rum bilang, etlis aku jadi mendapat sedikit pencerahan bahwa keadaan dan karakter masyarakat Indonesia yang sekarang ini bukan terjadi serta merta. Hal ini sudah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Dimana konon bahwa bangsa tercinta ini adalah negerinya orang-orang paling modern di zamannya. Merekalah kaum Atlantis, yang katanya diprediksi berpusat di Kepulauan Natuna.

Yah, begitu apatis dan plegmatisnya bangsa ini sudah terjadi sejak perkembangan zaman-zaman setelah itu. Bermula dari masyarakat animisme yang menyembah dewa-dewa. Mempersembahkan manusia sebagai hidangan sang Dewa. Menjadikan darah manusia sesembahan tersebut anggur yang nikmat, yang diminum dengan batok kepala sesembahan. Dagingnya seperti roti, yang dibakar diatas api. Dan untuk memperoleh anggur suci itu, harus merobek perut sesembahan dan mengeluarkan isi perutnya untuk dapat memeras jantung sesembahan. Serasa meras santan ajah!.

Kemudian Hindu datang, dengan sistem pengkastaan. Brahmana adalah kasta tertinggi. Suasana mistis masih terus terjadi. Kedatangan Islam pun tidak banyak memberikan perubahan, karena kedatangan Islam ini dengan wajah yang seburuk-buruknya. Islam dibawa oleh saudagar-saudagar dan dilanjutkan oleh raja-raja dengan jalan kekerasan. Raja-raja masih bersikap sentralistik. Masyarakat hanya dianggap sebagai bilangan atau angka-angka penduduk kekuasaan. Dan kesejahteraan pun masih dapat dikatakan jauh dari kehidupan mereka. Pesan moral no. 1, jika ingin dihargai, maka hargailah orang lain. Hal ini terjadi pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan. Karena raja-raja tidak menghargai rakyatnya, maka rakyat pun tidak begitu peduli dengan rajanya.

Sehingga ketika penjajah datang, masyarakat menjadi semakin tidak peduli dan merasa, ada atau tidaknya para kolonial dan imperial barat itu ketanah mereka, tetap tidak akan merubah keadaan dan kehidupan mereka. Apa bedanya dengan keadaan di masa kerajaan?. Hanya berganti tokoh dengan cerita sama. Penindasan. Dan jangan salah, kolonial yang terus menggerogoti indonesia juga kolonial yang paling buruk dari kolonial-kolonial yang pernah ada. Kedatangan mereka ke daerah jajahan tidak pernah meninggalkan peningkatan sesuatu pun selain rempah-rempah yang semakin habis. Bedakan dengan ketika Inggris yang dateng, Ilmu hayati berkembang pesat dimasa itu. Siapa coba penemu Rafflesia arnoldii, ya Pak Raffles yang orang Inggris itu. Bukan orang belanda.

Intinya, ketika para imperialis itu datang, masyarakat seakan-akan sudah terbiasa dan menganggap semua yang terjadi akan sama seperti sedianya, hanya berganti aktor. Yang tadinya Raja, berubah jadi bule. Mungkin hal ini juga yang mengakibatkan, betah bener Indonesia dijajah ampe 3.5 abad. Baru ketika udah mulai banyak orang pinter, banyak sarjana yang jebolan perguruan tinggi dalam atau luar negeri, baru sadar… “bro, kita udah dijajah segini lama masa ga ngerasa kalo kita ini senasib sepenanggungan? Kalo kita ini butuh untuk BERSATU”. Dan akhirnya, muncullah Boedi Oetomo, kemudian Sumpah Pemuda, dan akhirnya… Proklamasi. Gila kan bangsa kita?

Kita memang dijejali kemalangan demi kemalangan. Indonesia adalah titik persilangan ideologi Marxisme, Kapitalistime, Komunisme, Neoliberalisme, dan Spiritual Radikalistik dengan wajah yang seburuk-buruknya.

Yah, itu cuma sekelumit pencerahan yang aku tangkep dari pembicaraan pak Rum Aly. Masih banyak perkataan-perkataan beliau yang ga ketangkep karena aku ga punya kapasitas memori yang gedhe dan frekuensi berpikir yang lemot. Ck…ck…ck…

yah, itulah yang bisa aku share disini… lagi berencana beli buku “DEMI HIDUP LEBIH BAIK”nya Ust. Anis Matta… kata teh Grace, kalo mau tau alasan “kenapa sih lu mau-maunya peduli sama Indonesia?”, baca buku itu deh… banyak pencerahan

Entry filed under: tulisan standar. Tags: , .

Ketika harus memaknai hidup Say No to Porn! #episode Film ML

4 Komentar Add your own

  • 1. radit  |  April 15, 2008 pukul 3:33 pm

    Jadi,kita selama ini adalah kelinci percobaan pemikiran2 dunia donk!?
    Macam betul…

    Balas
  • 2. amiramdhani  |  Mei 3, 2008 pukul 9:42 pm

    hehehe,,
    y ya,, mi masih inget pas materinya
    tp sama gk nangkep banget,,
    yg jlas tentang sejarah2 indonesia gitu

    Balas
  • 3. armyalghifari  |  Mei 5, 2008 pukul 11:07 am

    nice…

    saya dapet buku dan tanda tangannya pak Rum Aly. Tapi bukunya oldies banget. susah bacanya…

    Balas
  • 4. yunie  |  Mei 5, 2008 pukul 1:50 pm

    seneng baca blognya. Salam kenal

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,335 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: