sepatu

April 2, 2008 at 9:26 am Tinggalkan komentar

Setidaknya tiga hal yang teringat olehku melihat sepatu Patrick itu. Sepatu putih yang dibelikan oleh bapakku ketika mudik lebaran tahun lalu. Sepatu berukuran 36 yang jika dipakai membuat kakiku kesempitan lantaran nomor sepatuku 39 itu benar mengingatkanku pada tiga hal. Hal pertama yang terpikir olehku ketika melihat sepatu itu adalah Allah, Rabb semesta alam.Aku mengingat Allah dari sepatu itu. Betapa Allah mencintaiku dengan memberikan sepatu itu untukku sebagai pengingat nikmat-Nya. Sebagai pengingat bahwa penghambaanku tidak seperti sepatu itu. Sepatu itu begitu sederhana, tanpa ornamen yang bermacam-macam. Kesederhanaan modelnya membuat aku terkesiap, betapa kita bisa mencintai Allah dengan sederhana. Sesederhana perintah-Nya pada kita.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Ad-Dzariyat : 56)

Ketika kita sudah meminta pada-Nya segudang permintaan dan tidak kunjung dipenuhi dengan segera terkadang kita mulai berprasangka pada-Nya. Padahal, Ia hanya meminta pada kita dengan sederhana. Sederhana, mengandung arti setulus hati. Sederhana, mengandung makna kezuhudan tanpa mengharap balasan. Sederhana, tanpa banyak berkata-kata tapi melakukan segalanya karena cinta. Sederhana itu… seperti kata Sapardi Djoko Damono.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan

kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sepatu itu lagi-lagi memberiku arti hidup, bahwa kehidupannya dalam kehidupanku hanyalah sebagai hamba pada pemiliknya. Mungkin terinjak, tersiram lumpur, ah… sepatu itu begitu rela ketika tubuhnya semakin aus dan tipis hingga akhirnya bolong dan pemiliknya menggantinya dengan sepatu yang baru. Sepatu itu mungkin begitu riangnya ketika ia mampu memberi kemanfaatan untukku walau tubuhnya kini semakin menipis. Sifat penghambaannya membuat aku merasa tertampar, kapan aku mampu menundukkan kepalaku dalam-dalam ketika aku sedang bermunajat kepada-Nya? Aku merasa masih sangat sombong meminta ini-itu padahal aku tidak memberikan pengabdianku selantang permintaanku. Astaghfirullah… ampuni aku Rabbi…

Hal kedua yang kuingat adalah bapakku. Pertama kali aku heran, mengapa tiba-tiba bapak membelikan aku sepatu kets putih itu tepat ketika aku juga berencana akan membeli sepatu kets putih. Sama herannya ketika disaat itu juga aku berencana membeli buku agenda tahunan, sisir, dan sabun mandi, kemudian ia membelikan semuanya padahal aku tidak menyampaikan keinginan itu pada siapapun. Sebentuk cinta yang sederhana.

Aku menjadi mengenang bapak, dan kebaikan-kebaikannya hingga saat ini. Entah karena perasaan seorang bapak yang telah membesarkan anaknya kah, sehingga ia mengetahui kebutuhan-kebutuhanku, yang pasti aku sangat menyayangi beliau. Sejak kecil, aku lebih lama menghabiskan waktu dengan bapak ketimbang dengan mama. Sehingga, hingga aku SMA, aku sangat dekat dengan bapak.

Aku tersadar, bahwa aku menetapkan standar bahwa setiap orang yang kutemui harus seperti bapak. Orang yang sigap dan siap turun tangan tanpa harus banyak bicara. Orang yang mencintai lingkungannya dan dicintai lingkungannya. Orang yang renyah selera humornya dan membebaskan dirinya dari keterkungkungan lingkungan. Orang yang mengajariku agar sedikit lebih santun dan feminim, meminimalisasi ketomboyan yang kuturuni dari sifat mama yang terbilang tegas. Orang yang menuntunku berfikir bebas tanpa intimidasi siapapun dan apapun. Orang yang mengajariku untuk selalu mengembangkan sayap kreatifitas dan sportifitas.

Seketika aku sangat merindukan bahunya untuk kutangisi… bapak… dari desiran aliran darahmu aku mendengar sajak akulah si telaga beralun…

akulah si telaga: berlayarlah di atasnya;

berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma;

berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;

sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja

— perahumu biar aku yang menjaganya (Sapardi Djoko Damono)

Bapak, seperti sepatu itu. Menuntunku hingga aku menemukan apa yang kuinginkan. Mengantarkan aku merajut mimpi di Ganesha ini. Bapak, adalah orang yang sangat sulit mengucapkan, “aku mencintai kalian”, tetapi tatapannya sudah mengatakan lebih dari itu. Love you so much, bapak…

Hal ketiga yang kuingat dari sepatu itu adalah mama. Seorang wanita yang tegas dan tanpa basa-basi. Kombinasi Koleris-Sanguinis yang kental. Seorang wanita yang mengajariku agar wanita tidak dipandang sebelah mata. Kemandirian dan ketegasan aku pelajari darinya. Sejak kecil mamaku memang orang yang bebas menentukan kehidupannya. Seorang yang tumbuh menjadi wanita tangguh dan perkasa.

Dari sepatu itu, aku teringat bahwa surgaku berada dibawah telapak kakinya. Rasulullah pun berpesan bahwa aku harus mencintai mama tiga tingkatan dibandingkan ayah. Banyak hal yang aku pelajari dari seorang mama. Satu hal yang paling membuatku tidak bisa menahan desakan-desakan air mata, ketika mamaku berkata, “maafin mama ya, belum bisa ngasih yang terbaik buat kamu”. Apa yang belum aku dapatkan dari seorang mama yang luar biasa ini?

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (Al-Ahqaaf : 15)

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi buat mama buat bapak, aku hanya ingin keluarga kita dikumpulkan lagi oleh-Nya disurga nanti… dirumah mungil yang sangat ingin kupersembahkan untuk kalian. Itu saja.

Entry filed under: tulisan standar. Tags: , , .

Beberapa hari ini… Pemilihan Umum Kabinet KM ITB : Ajang Pencerdasan Civitas Akademika ITB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: