Pemilihan Umum Kabinet KM ITB : Ajang Pencerdasan Civitas Akademika ITB

April 2, 2008 at 10:02 am 7 komentar

Tidak terasa, masa pemilu KM ITB 2008 segera berakhir. Hari ini (1 April 2008) adalah hari kedua masa pemungutan suara. Tahun ini, berbeda dari tahun yang lalu. Tahun ini saya tergabung dalam tim sukses dari salah satu calon bernomor urut 3, sedangkan tahun lalu saya berposisi sebagai panitia pelaksana atau lazim disebut panpel.

Ternyata berbeda, energi yang dikeluarkan oleh panpel dan tim sukses. Ada energi yang berbeda antara tim sukses dan panpel. Jika tahun lalu saya berkonsentrasi penuh untuk mencerdaskan massa agar mereka menggunakan hak pilihnya (entah memilih untuk memilih salah satu calon, maupun memilih untuk tidak memilih atau abstain), tahun ini saya mempunyai beban lebih untuk memenangkan calon yang kami usung dengan ataupun tanpa pencerdasan kepada massa.

Ternyata berbeda antara abstain dengan berdiam diri. Ketika berdiam diri, lingkungan kita tidak tahu apa yang kita pikirkan. Ketika kita berdiam diri, orang-orang bebas menghakimi kita bahwa kita apatis, tidak peduli, atau tidak tahu menahu dengan pemilu. Ketika berdiam diri, kita tidak memberikan penjelasan apapun atas apa tindakan kita. Apakah kita mau menggunakan hak pilih tetapi tidak sempat, atau tidak memilih salahsatu calon pun karena mereka saya nilai bullshit.

Ternyata berbeda antara abstain dengan berdiam diri. Abstain artinya menggunakan hak pilih untuk tidak memilih. Tahun lalu, saya mengantar beberapa orang yang abstain. Mulanya, dia berkata, “ga mau milih ah. Ga kenal orangnya dan ga tau visi misinya”. Saat itu saya mengajaknya untuk membaca visi-misi dan curriculum vitae para calon. Ternyata dia memilih untuk tidak memilih. dia memutuskan untuk abstain. Lalu saya mengatakan, “dari mana saya tau kalo kakak abstain? Satu-satunya cara adalah dengan menyampaikan kalo kakak abstain. Silahkan kakak menggunakan hak pilih kakak untuk abstain. Kakak boleh tidak mencoblos semua calon dan menuliskan didalam kartu suara ‘saya abstain’. Biarkan orang lain tau bahwa kakak abstain”. Kemudian kakak itu mengikuti apa yang saya katakan. Dan ketika penghitungan suara di zona prodi saya ada kertas suara bertuliskan ‘abstain’, saya tau kakak yang saya antar tadi yang memasukkannya. Ia telah menggunakan hak pilihnya untuk tidak memilih.

Tahun lalu, saya yang tergabung di Tim Kampanye dan teman-teman Pemilu Raya dan Propaganda membuat propaganda untuk pencerdasan massa. Bukan hanya mencerdaskan mereka supaya menggunakan hak pilihnya, tetapi juga menyadarkan mahasiswa bahwa mereka memiliki andil dalam kehidupan kemahasiswaan ITB. Penyadaran bahwa mahasiswa harus menjadi manusia dewasa yang bebas menentukan kehidupannya namun tetap secara bijaksana. Pencerdasan bahwa mahasiswa seharusnya malu jika hanya berdiam diri melihat lingkungannya semakin berkembang dan menanti-nanti peranannya.

Saya hanya berpikir, kehidupan kemahasiswaan ITB yang mempunyai peran besar dalam roda kehidupan Indonesia ini dulu dibangun susah payah oleh para pendahulu yang kini menjadi tokoh-tokoh besar bangsa ini. Mahasiswa ITB, yang saya tau adalah iron stock bagi roda kehidupan bangsa, agent of change bagi lingkungannya sehingga mereka dituntut untuk bertindak dan berpikir kritis, serta sebagai guardian of value sehingga ia mempunyai kekuatan sebagai pressure group ketika kebijakan pemerintah mulai melenceng dari cita-cita penyejahteraan rakyat.

Saya hanya berpikir, betapa mereka yang menjadi founding father dari kemahasiswan ini begitu kecewa ketika kemahasiswaan yang dulu susah payah dibangunnya dengan pengorbanan waktu, tenaga, biaya, bahkan harus dipenjara, kini hanya diremehkan bahkan ditinggalkan oleh para pelaku-pelakunya. Bahkan, mereka hanya mampu berkomentar tanpa mampu memberikan solusi.

Padahal, pemuda-pemuda zaman Soekarno dulu begitu gatal menginginkan perubahan di negeri ini. Mereka menginginkan negeri ini segera tersenyum. Mereka menginginkan bangsa ini bangkit dari keterpurukannya.

Sedangkan pemuda yang kulihat di Campus Center hari ini adalah para pemuda yang mengisi waktu luang kuliahnya dengan bermain kartu atau sibuk mengerjakan Tugas Pendahuluan Praktikum yang tinggal salin dari bundel master tahun lalu.

Apakah karena bangsa ini sudah sedemikian masifnya sehingga mahasiswa tidak lagi merasa harus membangun bangsanya? Ataukah karena mereka terlalu nyaman dengan kehidupannya tanpa tau bahwa di Simpang Dago masih banyak anak-anak yang membutuhkan uluran tangannya?

Berperan aktif dalam pemilihan umum hanyalah salahsatu sarana, bahwa kita masih memiliki tanggungjawab bersama atas peran kita. Berpartisipasi dalam pemilu hanyalah salahsatu cara, untuk beban kewajiban yang harus kita pikul bersama. Bahwa entah siapa presiden dan MWA wakil Mahasiswa yang terpilih adalah pemimpin dan motor penggerak atas kontribusi kita terhadap bangsa ini.

Singsingkan lengan baju, pancangkan asa

ukirlah hari esok, pertiwi jaya

bergandengan tangan tuk meraih ridha Allah

buatlah negeri ini selalu tersenyum

bahagia dan sejahtera dalam cinta-Nya

tiada lagi resah, tiada lagi duka lara

Negeri indah Indonesia

memanggil namamu, menyapa nuranimu

Negeri indah Indonesia

menanti hadirmu, rindukan karyamu

INDONESIA MEMANGGIL – Shoutul Harokah

Entry filed under: tulisan standar. Tags: , .

sepatu Ketika harus memaknai hidup

7 Komentar Add your own

  • 1. amiramdhani  |  April 20, 2008 pukul 3:53 pm

    wah emang beda ya teh?
    mi mau hattrick di panpel hehhe
    doakan

    Balas
  • 2. miftajah  |  April 21, 2008 pukul 10:56 am

    beda dong…
    lebih bahagia jadi panpel! suer!
    sayangnya taun depan udah ga bisa lagi nyoblos…
    semangat HATRICK! jadi ketuanya aja mi..
    jangan lupa, pas lagi tes ke ad hoc, baca2 konsepsi dan AD/ART KM ITB dulu ya

    Balas
  • 3. sandi  |  April 25, 2008 pukul 10:06 am

    Teh…
    Ada penyanyi dangdut mau jadi walikota Serang…
    Mantan suaminy Dewi persik pula…
    tidaaaakkk…

    mau nyalon jadi calon independen ga..?yukkk
    hA…hA…

    Balas
  • 4. miftyglgstersgara2calonwakilwakotserangnyasaipuldjamil  |  April 26, 2008 pukul 4:23 pm

    iya saannn….
    kau sajalah! ntar aku jadi tim sukses dah!
    kita turunin izzis ama shouhar aja buat nyaingin dewi persik!
    tak rela ku tak rela….
    hwaa….

    Balas
  • 5. yttrium  |  April 30, 2008 pukul 3:03 pm

    hahahaha!! lucu bener kalian tu san & pi! walkotnya itu loh… sok sana saingin…😀

    btw, pi.. tulisan2 panpel tempo dulu itu kl di make over bwt jaman sekarang ya, yg ada juga mhsw yg bilang gini : ga sopan deh, kayanya ko ngehina banget. emg ada loh, mahasiswa sekarang yg ky gt…😀

    Balas
  • 6. miftahdongs  |  Mei 5, 2008 pukul 4:00 pm

    ga usah bilang tulisan itu dipasang lagi taun ini budi, wong taun kemaren aja di hari itu juga (di hari pemasangan) tulisannya ilang 3 biji.
    tapi kita seneng, berarti ada yang baca

    Balas
  • 7. mujahid  |  Mei 6, 2008 pukul 9:04 pm

    alhamdulilah
    saiful jamil ga bisa nyalon ??????

    mau tau Alasannya

    terjegal oleh peraturan KPU no 30 tahun 2005
    bahwa calon wakil walikota minimal berumur 30 tahun
    secara…….. saiful jamil umurnya baru 27 tahun.
    secara …….ngomong politik aja belum becus
    secara……… ngurus istri aja ga bisa

    jadi pilih UJE aja . He……he…..he…

    ust Juheni M rois Gitu Loh

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: