Beberapa hari ini…

Maret 10, 2008 at 9:45 am Tinggalkan komentar

Bismillah…

Beberapa hari ini aku merasa disorientasi tanpa penyebab yang jelas, yang artinya JELAS mengindikasikan bahwa kesehatan ruhiy-ku berada dalam keadaan dibawah standar, alias sakit. Mungkin lebih parah daripada bobot fisikku yang dalam dua pekan terakhir turun sebanyak 3,5 kg.

Beberapa hari ini aku ditakdirkan bertemu dengan anak-anak usia SMP-SMA dengan warna-warni romatika kehidupannya. Di sudut-sudut toko, di trotoar jalan menunggu angkutan umum, di gerbang sekolah berlari-lari, di tempat les. Ada yang berdiskusi soal-soal SPMB, ada juga yang bertengkar dengan sang pacar tanpa merasa orang disekitarnya tengah menonton tontonan gratis itu. Aku tersenyum-senyum sendiri. Ah, dasar anak SMA…

Beberapa hari ini aku mendengar lagu-lagu lama, semisal The Moffats, M2M, Westlife, Daniel Beddingfield, dan beberapa lagu indonesia yang menjadi soundtrack kehidupan ‘masa kecil’ku itu. Jadilah, lagu-lagu itu membuat aku menjadi seorang tranporter dalam hitungan persekian detik.

Beberapa hari ini aku menjadi semakin teringat, bahwa aku melupakan hobi lamaku, membuat puisi. Dan tiba-tiba adrenalinku memuncak, sangat bergairah untuk membaca-baca lagi karya-karya Bapak Presiden Penyair, serta sangat ingin menciptakan puisi-puisi baru. Namun, ternyata keinginan tinggal keinginan, aku tiba-tiba berbelok menjadi pembuat pantun, untuk suatu keperluan tentunya.

Beberapa hari ini aku menjadi sangat ingin mengunjungi tempat favoritku, toko buku. Mencari buku-buku baru dan buku laris yang ternyata tidak sesuai dengan genre kualifikasi buku kesukaanku. Buku psikologi, pengembangan diri, sastra, bisnis, dan makanan ‘bergizi’ di sudut barat lantai dua toko buku itu. Hingga, berbeloklah aku ke bagian hukum dan politik, ternyata buku bersampulkan wajah bapak almarhum Soeharto banyak bermunculan dengan stempel best seller. Bosan, aku melangkahkan kaki ke lantai tiga, novel. Ah, ternyata belum ada satu bukupun yang menarik perhatianku. Namun, mataku tertuju pada sampul buku yang sangat familiar, Aisyah Putri. Uhmm… mulanya aku berniat untuk membeli satu novel lama, novel islam pertama yang kubaca saat aku masih SMA. Pesantren Impian dan Trilogi Aisyah Putri. Cerita remaja, membaca resensinya aku menjadi tersenyum sendiri. Bukan lantaran bukunya lucu khas Baim Lebon, tetapi pikiranku justru meluncur pada masa 4 – 5 tahun lalu.

Beberapa hari ini aku menjadi merindukan suasana itu. Kedamaian desa, harum tanah terkena hujan, gemericik air sungai yang jernih, layang-layang anak desa yang menari-nari di langit biru, jambu batu yang hatinya warna putih, daun ubi jalar rebus, ayam kecilku si Anggraeni, kuburan di belakang rumah, mengaji di rumah pak ustadz tiap bada maghrib, dan mbok jamu gendong langganan mamaku.

Gambaran yang begitu jelas, dari atas jendela kamar, anak kecil berambut hitam hanya berkaus dalam duduk sambil melihat ke arah langit. Sontak ia berlari sambil mengenakan kaus main kedodorannya. Berlari menyusuri pematang sawah tanpa takut terpeleset. Segera ia disambut oleh teman-temannya yang kesemuanya laki-laki. Aku mengingat itu, beberapa hari ini.

Beberapa hari ini aku tiba-tiba mengingat beberapa bait lirik lagu Indonesia Subur Makmur yang pernah kupelajari saat masih SMP dan dinyanyikan di depan bapak bupati bersama teman-teman Paduan Suara SMP. Padahal aku sama sekali tidak mencoba mengingat-ingat atau teringat karena suatu momen. Ingat begitu saja, ya! Ingat begitu saja.

Beberapa hari ini setiap benda yang kutemui seperti berbicara, ingatlah kebelakang. Beberapa hari ini…

 

Beberapa hari ini aku menjadi sangat belajar, ternyata peran sang Ia menjadi sebegitu besarnya dalam kehidupanku. Aku seperti bidak-bidak catur bernyawa yang dibekali pikiran untuk bergerak bebas, namun tetap dalam pola peraturan-Nya jika aku ingin memenangkan percaturan kehidupan ini. Dengan satu misi, mengalahkan sang Raja Nafsu. Entah menjadi bidak catur yang mana, raja kah, ratu kah, kuda kah, atau sekedar jundi-jundi kecil. Namun, peranan itu sungguh tidak penting ketika ia tetap menjadi pemeran utama dalam percaturan kehidupannya. Bekerja dengan allout, itu saja. Pedulipun dengan peranan! –sempat terpikir, apa jadinya permainan catur jika semua bidaknya adalah raja.

Beberapa hari ini mengajariku, bahwa masa lalu itu adalah ibuku. Ibu yang membesarkanku dengan pengalaman dan kasih sayang-Nya. Ternyata, karakterku yang seperti ini memang sangat dibentuk oleh masalalu, dan diperhalus oleh cita-cita ke depan. Ternyata, ketika aku menjadi semakin disorientasi, sehingga aku mencoba berbagai macam tes personaliti, dijawab oleh masa laluku. Karena ia-lah yang paling jujur, mengenai perangaiku. Aku baru saja teringat, bahwa sedemikian tidak inginnya aku menjadi dokter dan polisi, dan menjawab “ingin jadi astronot” ketika SD aku ditanya ingin menjadi apa. Dan ketika ditanya mengapa, “abis, yang mau jadi dokter banyak. Ga ada yang mau jadi astronot”. Padahal ketika itu, mungkin teman-teman SDku belum pernah mendengar kata astronot. Aku tau karena Tin-Tin.

Beberapa hari ini membisikkan kata, nikmati kehidupanmu, karena ia akan menjadi bumbu sup dakwahmu.

Beberapa hari ini membuat aku sangat mencintai kehidupanku.

 

Harus disinilah kita berpisah lambaikan tangamu…

            Saat langit berwarna merah saga

                        Sabarlah wahai saudaraku, tuk menggapai cita

                                    Buatlah negeri ini selalu tersenyum

bahagia dan sejahtera dalam cinta-Nya

            ……………………………………………………………..

                                   

Entry filed under: tulisan standar. Tags: .

likalikukilikalikuka sepatu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,335 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: