Pengamatan Transek Garis 100 meter @ Pulau Pari Bagian Selatan

Oktober 4, 2007 at 9:51 am 5 komentar

Pengamatan Transek Garis 100 meter

Dari pengamatan transek garis, diketahui bahwa terjadi perubahan cukup sidnifikan antara transek 0 – 50 meter dengan transek 50 – 100 meter. Pada transek 0 – 50 meter, kelimpahan utamanya adalah bintang laut yang diperkirakan mencapai 10 ekor/m2. Sedangkan di transek 50 – 100 meter, lebih banyak soft coral, gastropoda, dan coral mati. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh substrat yang sedikit berbeda antara transek 0 – 50 meter dengan transek 50 – 100 meter. Substrat 0 – 50 meter adalah pasir halus dan pasir kasar yang berasal dari pecahan-pecahan mantel gastropoda atau terumbu karang. Sedangkan substrat transek 50 – 100 meter berupa pasir halus dan berlumpur.

Tipe substrat dasar perairan pesisir ditentukan oleh arus dan gelombang (Ardi, 2002).  Disamping itu juga oleh kelandaian (slope) pantai.  Menurut Sumich (1992), Nybakken (1997) dan Barnes dan Hughes (1999), substrat daerah pesisir terdiri dari bermacam-macam tipe, antara lain: lumpur, lumpur berpasir, pasir, dan berbatu. Pada daerah pesisir dengan kecepatan arus dan gelombang yang lemah, subtrat cenderung berlumpur. Daerah ini biasa terdapat di daerah muara sungai, teluk atau pantai terbuka dengan kelandaian yang rendah. Sedangkan pada daerah pesisir yang mempunyai arus dan gelombang yang kuat disertai dengan pantai yang curam, maka substrat cenderung berpasir sampai berbatu. 

Daerah pesisir dengan pantai berlumpur hanya terbatas pada daerah intertidal yang benar-benar terlindung dari aktivitas gelombang laut terbuka.  Pantai berlumpur cenderung untuk mengakumulasi bahan organik, sehingga cukup banyak makanan yang potensial bagi bentos pantai ini (Ardi, 2002).

Menurut Ardi (2002), substrat berpasir umumnya miskin akan organisme, kebanyakan bentos pada pantai berpasir mengubur diri dalam substrat. Pantai berpasir tidak menyediakan substrat yang tetap untuk melekat bagi organisme, karena aksi gelombang secara terus menerus menggerakkan partikel substrat. Ardi (2002) manyatakan bahwa kelompok organisme yang mampu beradaptasi pada kondisi substrat pasir adalah organisme infauna makro (berukuran 1-10 cm) yang mampu menggali liang di dalam pasir, dan organisme meiofauna mikro (berukuran 0,1 – 1 mm) yang hidup di antara butiran pasir dalam ruang interaksi. 

Disekitar transek 50 – 100 juga merupakan area penanaman mangrove sehingga memiliki kekayaan organik yang lebih tinggi dari transek 0 – 50 meter. Hal ini lah yang mengakibatkan substrat transek 50 – 100 berbeda dengan transek 0 – 50 meter. Plot kelompok 9 memang merupakan plot yang unik, yang mencakup dua tipe substrat sekaligus. Saat berada di lokasi pengamatan, memang dirasakan transek 0 – 50 meter memiliki karakteristik berarus dan bergelombang lebih tinggi dari transek 50 – 100 meter. Plot kelompok 9 berada dibagian lengkungan bibir pantai sehingga arah arus berbenturan di lengkungan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan kekayaan bintang laut di plot lain tidak setinggi kekayaan bintang laut di plot kelompok 9 dan beberapa kelompok disekitarnya. Bintang laut menjadi sangat dominan di area plot ini karena substratnya yang berupa pasir.

Transek 50 – 100 meter sangat terlindung oleh arus laut karena program penanaman mangrove disekitarnya. Akibatnya, pada transek ini substrat tersusun atas pasir berlumpur. Selain itu, pada titik ke-50 meter, permukaan substrat naik sehingga permukaan transek 50 – 100 meter menjadi lebih landai dari transek 0 – 50 meter. Landainya permukaan substrat mengakibatkan arus dan gelombang di transek ini menjadi lebih kecil.

Kekayaan organsme transek 0 – 100 meter ditampilkan dalam tabel berikut :

Jenis Hewan

Perilaku

Deskripsi Perilaku

 

Gastropoda

Gastropoda yang ditemukan pada transek 50 – 100 meter ini banyak ditemukan di substrat pasir berlumpur. Berada di mulut lubang yang banyak terdapat di transek ini. Ada yang berkoloni adapula yang sendiri. Terdiri dari beberapa jenis, umumnya yang memiliki cangkang kerucut asimetri.

Adapula gastropoda yang ditemukan menempel pada pancang kayu mangrove. Gastropoda jenis ini serupa dengan gastropoda yang ada di pengamatan mangrove. Kemungkinan berasal dari genus Littorina atau Nodlittorina (Guttierez, 1988).

Ikan sp. 1 (Ikan Kardinal)

 

Ikan ini berada di sekitar soft coral yang sedang tumbuh. Berdasarkan literatur dari Mehta (1999), diketahui bahwa ikan spesies ini adalah Ikan kardinal. Ikan ini berukuran kecil dengan mulut besar, sering memiliki garis atau bintik warna pada tubuhnya. Pada saat pengamatan, ikan kardinal yang ditemui adalah ikan kardinal yang memiliki garis pada badannya. Ikan ini memakan zooplankton dan krustasea kecil, seperti kepiting dan udang kecil yang berada di sekitar terumbu karang.

ikan-damsel.jpg


Ikan sp. 2 (Ikan Damsel)

 

Bersama ikan kardinal, ikan ini berenang di area soft coral. Ikan ini berukuran kecil tetapi berjumlah besar pada terumbu karang. Sebagian besar berwarnawarni dan masing-masing memiliki habitat dan makanan yang khusus. Saat pengamatan, ikan ini terlihat bergaris-garis dengan pola vertikal (putih – biru tua). Berdasarkan literatur dari Mehta (1999), dinyatakan bahwa ikan ini memakan alga di daerah habitat masingmasing, yang mereka jaga dengan agresif terhadap gangguan ikan lain. Ikan yang berwarna lebih banyak biasanya memakan plankton. Sedang sebagian lainnya memakan spons, cacing, dan avertebrata lainnya. Damselfish bisa hidup sampai 10 tahun.

ikan-cardinal.jpg

 

Coral

Coral merupakan ciri utama suatu perairan laut tropis yang dangkal, temperatur rata-rata tahunan sekitar 23,50C. Coral merupakan hewan karnivora, makanan utamanya yaitu zooplankton yang terdapat di tempat mereka hidup. Karena hidupnya sesil (menetap pada suatu substrat), maka makanannya hanya bergantung pada arus yang membawa zooplanton ke tempat mereka hidup tersebut.

tk.jpg

Gambar 2. Tipe-tipe terumbu karang berdasarkan proses evolusi geologinya

Sumber : (White,1987 dalam Tulungen dkk, 2001) dalam Tomo et al. 2005)

Coral yang teramati terdiri dari dua kelompok yaitu karang hermatipik (hard coral) dan karang ahermatipik (soft coral). Karang hermatipik adalah karang yang dapat menghasilkan terumbu yang hanya ditemukan di daerah tropis yang ditandai dengan adanya sel-sel tumbuhan yang bersimbiosis di dalam jaring-jaringan polip karang (jaringan endodermalnya) yang dinamakan zooxantellae (dinoflagellata unicellular). Alga-alga ini bersimbiosis melengkapi makanan plankton dari karang perairan tropis yang jernih dan tipis planktonnya. Adanya ikatan simbiosis antara karang dan zooxantellae serta kebutuhan akan penyinaran yang memadai untuk melakukan fotosintesis membantu menjelaskan apa sebabnya spesies-spesies karang pembangun terumbu karang terbatas adanya pada perairan dangkal.

Hermatipik coral (hard coral)

1.     Branch coral

Karang ini mempunyai cabang dengan ukuran lebih panjang dibandingkan ketebalan atau diameter yang dimilikinya. Pada pengamatan terlihat bulatan-bulatan pori dengan ukuran yang bermacam-macam. Warnanya menarik, merah, oranye, jingga, dan coklat kehijauan, atau hjau kecoklatan. Jenisnya pun bemacam-macam. Ada yang karang jari, ada yang karang tabung.

 

Gambar 4. Karang bercabang

Sumber : Aliansi Coral Reef, 2006

 

 

Karang ahermatipik adalah karang yang tidak mampu membentuk terumbu karang dan karang ini tersebar diseluruh lautan dunia. Pada pengamatan, karang lunak banyak ditemukan dengan warna yang sangat indah. Ada yang berwarna merah, oranye, hijau, ungu, hingga coklat kehijauan. Tapi sayangnya warna indah coral ini tertutup pasir dan lumpur. Sehingga untuk melihat warnanya yang indah, pasir dan lumpur tersebut harus dibersihkan dahulu. Selain itu, pengendapan pasir dan lumpur tersebut membahayakan kesintasan coral karena pasir dan lumpur yang menempel pada tubuh coral akan menyebabkan proses fotosintesis zooxantellae terganggu. Dan dampak jauhnya, akan terjadi coral bleaching.

Gambar 6. Tipe-tipe karang lunak

Sumber : English et al. 1994 dalam Tomo et al. 2005

Karang lunak yang paling banyak ditemukan adalah karang lunak kuping gajah dan karang lunak pada gambar ke lima dan ke enam.

Bintang Laut

Bintang laut banyak ditemukan ditransek 0 – 50 meter. Perilaku yang ditemui adalah menguburkan diri dan menempel di atas substrat pasir. Bintang laut banyak ditemukan ditransek ini karena substratnya yang berbentuk pasir memungkinkan bintang laut untuk menangkap mangsanya yaitu remis dan kijing (Anonim A, 2007). Selain itu, substrat berpasir merupakan habitat yang cocok bagi remis dan kijing.

 

Entry filed under: 1. Tags: .

Gastropoda How Animal Do That : Mekanisme Adaptasi Beruang Kutub (Ursus maritimus)

5 Komentar Add your own

  • 1. sindhu  |  November 22, 2007 pukul 2:00 pm

    perkenalkan nama saya Mathyas Sindhu, mahasiswa semester akhir di Universitas Diponegoro Semarang jurusan ilmu kelautan, dan sekarang sedang melakukan penelitian untuk menyelesaikan tugas akhir dengan judul sebagai berikut: Distribusi frekuensi ukuran karang keras, bersama ini saya meminta bantuan untuk mendapat semua literatur yang berkaitan dengan penelitian saya tersebut, metode yang saya gunakan adalah dengan kuadran transek, untuk segala bantuan, saya mengucapkan terima kasih.

    Hormat saya

    Mathyas Sindhu

    Balas
  • 2. ikhwan  |  Juni 28, 2008 pukul 11:37 pm

    heuheu…pantes banyak postingnya..laporan jg dimasukkin..jangan lupa tugas TW juga tuh…
    tau singkatan TW ga?
    Taufikurahman Watch…heuheuheu….kayak roy suryo watch aja ya…

    Balas
  • 3. miftahNYApipi  |  Juni 30, 2008 pukul 2:34 pm

    soalnya suka banget sama laporan yang ini… TW? hemm…

    Balas
  • 4. rudi  |  Oktober 26, 2009 pukul 10:37 am

    perkenalkan..saya rudi mas..mahasiswa ilmu kelautan UNDIP.

    mengenai ikan karangnya sepertinya gambarnya keliru..
    ikan sp.1 itu Damsel fish, termasuk dalam family pomacentridae
    ikan sp.2 itu cardinal fish, termasuk dalam family apogonidae..

    Balas
  • 5. kepinglogam  |  Oktober 26, 2009 pukul 10:54 am

    makasihrudi atas koreksinya… iya emang itu gambarnya kebalik, tapi saya males ngeditnya, hehehe
    punten ah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: