Who Is Ur Mother

Oktober 3, 2007 at 12:14 pm 1 komentar

Seperti biasa, setiap pukul 16.30 pm saya yang punya pekerjaan tetap memberi makan ayam peliharaan, mendatangi kandang setelah menyiapkan beberapa baskom makanan. Hari itu anak ayam yang baru beberapa minggu menetas (dan ditinggalkan induknya) bersikap sangat agresif. Terbang sana-terbang sini. Ke bahu, ke kepala, mematuki kaki, dan sikap agresif lain seakan-akan anak ayam – anak ayam tersebut mengatakan, “Ibu, kami rindu…”. Ketika makanan sudah habis, saya tidak repot-repot menggiring mereka ke kandang karena mereka dengan sukarela mengikuti saya dari belakang. Dan ketika pintu kandang dibuka, mereka mematuki kaki saya dan hinggap di bahu saya seakan-akan mengatakan, “sampai jumpa esok hari, Bu”. Anehnya, perilaku ini hanya mereka lakukan pada saya.Tanya mengapa?

­­­­­­­­_________________________________

Seperti cerita singkat di atas, Naturalis Niko Tinbergen melakukan percobaan memisahkan beberapa butir telur dari seekor induk angsa dan menyimpannya di inkubator. Ketika telur-telur tersebut sudah waktunya menetas, Tinbergen menetaskan telur-telur tersebut dan kemudian merawatnya. Berbeda dengan anak angsa lainnya, anak angsa yang ditetaskan Tinbergen tidak dapat bersosialisasi dengan spesiesnya yang sejenis. Anak angsa tersebut hanya dapat berinteraksi dengan Tinbergen dan terus mengikuti Tinbergen. Begitu pula dengan hasil percobaan Konrad Lorenz.

Setiap makhluk hidup memiliki periode kritis sebagai masa pembelajaran dan penanaman memori yang bersifat irreversibel. Pada masa ini, makhluk hidup akan menyimpan informasi dari lingkungan oleh otak sebagai memori jangka panjang (Long-Term Memory) dan akan diubah menjadi stimulus tetap yang kemudian akan diekspresikan sebagai perilaku tertentu. Konrad Lorenz, menyebut proses ini sebagai imprinting, yaitu proses penanaman perilaku pada masa kritis sehingga diperoleh perilaku tertentu (dan atau perilaku bawaan) yang diekspresikan sebagai respon terhadap suatu stimulus belajar. Pada dasarnya, perilaku merupakan perpaduan dari ekspresi genetik dengan stimulasi dan formulasi informasi dari lingkungan. Fenomena imprinting merupakan contoh yang paling tepat untuk merepresentasikan hubungan antara faktor internal (genetis) dan faktor internal (lingkungan). Kebanyakan imprinting mendukung ketahanan hidup (survival) hewan yang baru lahir dan membentuk perilaku atau aktifitas breeding mereka kelak.

Pada percobaan Tinbergen dan Lorenz, anak angsa yang mereka tetaskan melalui inkubator berperilaku abnormal. Ketika anak angsa Tinbergen dan Lorenz digabungkan dengan koloni keluarga aslinya, baik induk maupun saudara sekawanannya, tidak mengenali anak angsa Tinbergen dan Lorenz. Begitu pula sebaliknya. Bahkan terjadi penolakan. Anak angsa Tinbergen dan Lorenz hanya mengenali mereka dan terus mengikutinya. Perilaku ‘terus mengikuti’ pada anak angsa oleh Konrad Lorenz disebut sebagai fenomena “stamping in”. Hal ini dikarenakan objek sensoris yang dilihat pertama kali oleh anak angsa yang baru menetas adalah Tinbergen dan Lorenz, dan bagaimanapun juga informasi pertama yang mereka (anak angsa) terima tersebut akan tetap diingat dengan cepat dan bersifat irreversible dalam sistem syaraf. Mereka belajar sangat cepat untuk mengidentifikasi (mengenali) induknya dengan kemampuan dasar visual, penciuman, dan pendengaran. Hal ini diperkuat dengan percobaan ketika anak angsa diberi stimulus imprinting bahwa induknya memiliki paruh dengan tanda merah. Dan hasil percobaan menyatakan semua gambar paruh –baik mirip maupun tidak– asalkan memiliki tanda merah, akan dipatuki seakan-akan gambar paruh tersebut adalah paruh induknya.

Pada percobaan yang lain, Lorenz mendemonstrasikan bahwa anak angsa tidak hanya dapat di-imprint oleh manusia, tetapi juga oleh benda diam. Ia menemukan bahwa setelah masa penetasan merupakan terdapat waktu yang sangat singkat (periode kritis) untuk memberikan imprinting yang efektif. Untuk karyanya ini, Lorenz mendapat hadiah Nobel pada 1973 untuk Kategori Medicine and Physiology.

Karakteristik imprinting :

1. Periode kritis

Imprinting terjadi pada waktu istimewa selama kehidupan postnatal dengan durasi yang singkat. Pada angsa atau bebek umumnya pada usia 24 – 48 jam setelah menetas. Pada masa ini, anak angsa belajar untuk mengenali (dan mengikuti) induknya.

2. Imprinting bersifat irreversible karena semua pengetahuan yang telah ditanamkan selama periode kritis akan dipertahankan seumur hidup.

3. Respon imprinting membuat seekor hewan tidak menyadari bahwa sebenarnya “dirinya adalah seekor angsa, bukan manusia”.

Beberapa karakteristik imprinting dapat dijelaskan melalui kecenderungan bahwa anak angsa akan mencari dan merespon secara selektif pola stimulus yang istimewa, seperti profil induk atau profil angsa dewasa. Sebelum imprinting diberikan, otak anak angsa harus memiliki kapasitas untuk mengenali tipe stimuli yang kemudian akan menjadi pembelajaran asosiatif (berkesinambungan. Otak anak angsa juga harus telah memiliki mengatur motor action yang menfasilitasi proses belajar.

Apakah ada bagian khusus dalam otak yang bertugas mengatur mekanisme imprinting?

Beberapa ilmu yang memanfaatkan teknik neurobiologi mengimplikasikan Intermediate and Medial Part of The Hyperstriatum Ventrale (IMHV) di otak kemungkinan merupakan struktur yang mengasosiasikan proses imprinting (Horn, 1985). The Dorsal Ventricular Ridge (DVR) merupakan struktur otak yang unik yang terdapat pada burung dan reptil. Pada burung DVR meliputi hyperstriatum ventral, dan area yang disebut the wulst. The wulst merupakan bagian dari sistem yang menyerupai lapisan bawah sistem memori mamalia.

Eksperimen selanjutnya membuktikan kebenaran pendapat Horn (1985) mengenai tugas IMHV. Horn menunjukkan ayam yang tidak memiliki IMHV tidak dapat mengenali stimuli imprinting dan tidak dapat mempertahankan imprinting.

Di alam, perilaku imprinting dilakukan sebagai insting untuk mempertahannkan kehidupan pada kehidupan postnatal awal-awal. Keturunan harus mengenali induk agar terhindar dari perdator atau dewasa lain ketika hewan baru lahir (atau menetas). Jadi imprinting sangat memungkinkan terbentuknya ikatan sosial yang kuat antara keturunan dan induk. Selain pengenalan dengan induk, imprinting juga penting sebagai pengenalan seekor anak angsa dengan saudara-saudara kandung lainnya.

Sumber :

Horn G (1985) Memory, Imprinting, and the Brain. Oxford:Clarendon Press.

Anonim A. 2007. Imprinting. http://animalbehaviour.net/Imprinting.htm. diakses tanggal 11 Februari 2007

Anonim B. 2007. Learning Who is Your Mother : The Behavior of Imprinting . http://www.cerebromente.org.br /n14/ experimento/lorenz/index-lorenz_p.html. diakses tanggal 11 februari 2007

Entry filed under: 1. Tags: .

no subject : cuma pengen nulis Gastropoda

1 Komentar Add your own

  • 1. rudi  |  Oktober 26, 2009 pukul 10:29 am

    salah mas..
    harusnya ikan sp.1 adalah ikan damshel fish. itu masuk dalam family pomachentrydae..
    sedangkanikan sp.2 itu cardinal fish, termasuk dalam family apogonidae..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: