Kisah Kerudung dan Bulu Mata

Agustus 23, 2007 at 2:05 pm 4 komentar

Berkali-kali kalimat keadilan dan kesejahteraan didengung-dengungkan oleh para calon pejabat ketika kampanye Pemilu. Pemerataan akses dan distribusi logistik pemenuh kebutuhan rakyat. Namun nyatanya, sedikit demi sedikit tanah air tumpah darah ini berusaha melepaskan diri dari cengkeraman penguasa dzalim. Bukan karena sebuah kelompok yang dinyatakan ekstrimis maupun agamis yang menginginkan kemerdekaan. Lebih dikarenakan ketidakadilan yang senantiasa merongrong negeri ini sejak jaman komunis, nasionalis, hingga kapitalis. Tapi, selalu saja mereka dapat menutupi aib kebusukan mereka dengan isu teroris.

Setiap kali keluar dari toko atau minimarket, rasanya diri ini jahat sekali. Melihat anak-anak prasekolah harus membantu orangtua mereka menafkahi hidup, sedangkan kita baru saja membelanjakan uang (yang sebagiannya juga milik mereka) untuk kebutuhan tersier, walaupun sebatas membeli coklat atau es krim.

Seandainya zakat dan infak menjadi sebuah kebiasaan, mungkin jika Umar Bin Abdul Aziz masih hidup, dia akan merasa de javu. Tidak ada lagi orang yang mau dizakati. Pernah mendengar kata-kata seorang shaleh, “Jika di suatu negeri masih ada orang miskin, yang salah bukan hanya pemerintah yang tidak becus melaksanakan UUD’45. Tapi ada andil orang-orang kaya yang lepas tanggung jawab”.

Pernah juga mendengar pernyataan seorang tukang becak di Serang, ketika beliau disarankan untuk mengambil kartu miskin untuk mengambil BTL (Bantuan Tunai Langsung). “Ah, saya mah masih hidup cukup, Pak. Masih banyak yang lebih butuh daripada saya”. Sedangkan di sisi lain bumi Indonesia (baca : Jakarta), ada seorang istri pejabat yang ikut antrian pengambilan BTL. Kemudian membelanjakannya untuk menyenangkan hati sang cucu.

—————————————-

Wajahnya ceria, tetapi matanya tak berbohong. Ada gurat kesedihan disana. Mata gadis kecil kelas dua SMP ini sembam. Kakinya yang lincah berlari ke arah mobil kijang tua yang dioperasikan menjadi perpustakaan keliling. Di tangannya ada setumpuk buku Sains Fisika dan Matematika.

Setiap sore, mobil bernomor polisi A 1338 AB ini mangkal di stadion Maulana Yusuf Serang. Rupanya, pemiliknya hendak membiasakan anak-anak di kota kecil ini supaya gemar membaca.

“Fida mau belajar apa hari ini?”

“Fisika ama Matematika”

“Oh, gabung aja sama temen-temen yang lain”

“Ya, Kak”

Fina melihat ada yang tidak beres dengan perilaku anak ini. Tidak biasanya. Namun perasaan itu ditampiknya. Mungkin hanya perasaanku saja, pikirnya. Ia mengamati tingkah laku anak-anak para tukang becak yang tinggal di kompleks sekitar stadion tersebut. Wajah ceria tanpa beban. Namun tidak untuk Fida. Gadis sanguinis yang ia kenal ini tidak seceria biasanya.

Siang telah berganti petang. Matahari kini malu-malu menampakkan wajahnya dan meminta berganti shift dengan sang rembulan. Satu persatu anak-anak G-Smart (begitu Fina menyebutnya) berpamitan pulang. Tak terkecuali Fida.

“Fida, Kak Fina boleh nanya ga?”

Yang ditanya terlihat salah tingkah dan gelagapan. “ehh… anu. Fida musti bantuin emak. Udah sore”

“bentar aja kok”

Fina kemudian duduk disamping Fida sambil membantu Fida membereskan buku-buku yang baru saja dipelajari bersama teman-teman sebayanya.

“Fida kok kelihatannya ga seneng sih hari ini”

“ah, biasa aja kok, Kak”

“bener nih ga ada apa-apa”

“iyah, ga kenapa-napa”

“bener ga mau cerita sama Kak Fina. Ya udah deh, kalo ga ada apa-apa”

Fina berdiri dan mulai membereskan buku-buku yang tadi dibaca anak-anak. Rupanya mereka lupa meletakkannya sesuai katalog.

“ennggg… anu. Fida pengen pake kerudung kayak kak Ina. Kata Bu Nuri, pake kerudung itu wajib”

Memori di kepala Fida berputar layaknya film dokumenter.

“kerudung-kerudung! Nanti aja kalo udah kawin baru minta kerudung sama suamimu. Emak ga punya duit. Mau beli kerudung dari mana? Buat makan aja susah”

“Tapi kata Bu Nuri pake kerudung itu wajib, Mak. Fida kan udah gede”

“Minta sama Bu Nuri mu itu. Emak ga punya duit”

Fina bingung melihat adik kecil didepannya tiba-tiba sesenggukan. Mengingat kondisi keluarga Fida yang memang sangat pas-pasan, Fina mengerti.

“Udah-udah, jangan nangis dong. Masa calon Ibu Menteri nangis”, Fina mengusap air mata yang meleleh di pipi bulat Fida. “Besok kak Ina bawain deh kerudung buat Fida”

“tapi, kalau sekolah gimana?”

Waduh, iya juga ya. Fina baru terpikir. “Oh iya, ehmm… gini aja. Kayaknya baju seragam kakak masih ada di rumah. Fida mau pakai punya kakak?”

Si gadis kecil itu mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah.

Siapakah Fida? Mungkin ia tidak ada di sekitar kita. Tapi dia ada di belahan bumi yang lain. Seorang anak yang tidak mampu menjalankan syariat-Nya karena keterbatasan yang ia miliki.

Suatu sore di pelataran mesjid Salman

“Jadi ga ya beli kerudung yang itu. Ehm… yang coklat apa yang krem?”

“bukannya kemaren kamu baru beli kerudung. Kok beli lagi sih?”

“abis motifnya lucu”

Dan sang akhwat yang bingung memilih coklat atau krem tersebut, masih bimbang memilih yang mana.

“krem apa coklat ya?”

Di Selasar Sebuah Labtek

“Waa… bulu mata loe kenapa??? Ya Ampun, keriting…”

“Iya nih… kemaren dari salon. Abis gue bete ke salon ga ngapa-ngapain”

“lah terus ngapain ke salon kalo ga ngapa-ngapain”

“Jadwal rutin. Kemaren gue lagi males banget. Luluran males, creambath males. Pas gue buka-buka buku apa tuh, yang kayak menu??, itulah pokonya. Ada opsi keriting bulu mata. Ya udah gue coba aja. Eh, taunya jadi kayak gini”

“Abis berapa tuh ngeritingin bulu mata?”

“45rebu. Tapi lucu khan?”

dengan suara yang sedikit dipaksakan, “lucu…lucu”

Entry filed under: tulisan standar. Tags: .

Rindu Kami Padamu Silaturrahim ke Rumah Mift via Google Earth

4 Komentar Add your own

  • 1. armyalghifari  |  Agustus 26, 2007 pukul 10:32 am

    setau saya antologi tu kumpulan puisi.. am i wrong? CMIIW

    idenya bagus. alurnya lumayan..

    pilihan kata (diksi) bisa lebih diperkaya lagi..

    emosinya belum keluar.. pada dialog-dialog mestinya bisa dipercantik dengan tanda baca atau penegasan karakter masing-masing tokoh..

    Congrat!

    (justComment.., kayakYangBisaNulisAjha..piss!)

    Balas
  • 2. miftajah  |  Agustus 27, 2007 pukul 8:32 am

    iye lupa. antologi emang kumpulan puisi. diganti dah judulnya.
    cuma mau ngasi tau, cerita diatas nyata, bukan fiksi.

    Balas
  • 3. ardian perdana  |  Agustus 29, 2007 pukul 2:35 pm

    ini blog saya…..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,335 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: