Belajar dari Kowak

Agustus 22, 2007 at 1:50 pm Tinggalkan komentar

kowak.jpg

Bismillahirrahmanirrahim…

Perbincangan di milist-milist dosen masing hangat sampe sekarang. Mungkin dapat disebut sebagai bencana lokal atas kearifan yang hilang di tanah Ganesha. Lihatlah fenomena luar biasa ini. Namun manusia yang –mungkin- masih kurang akal hanya menyerapah tanpa berfikir mengapa hal langka ini terjadi. Migrasi sekoloni burung Kowak (Nycticorax nycticorax) yang terjadi dua tahun terakhir, nyatanya telah memberi pandangan buruk terhadap burung khas rawa-pantai ini. What do you think about its bird?

Beruntung aku sebagai seorang mahasiswa Biologi, bersama teman-teman seangkatan lainnya berkesempatan untuk mengenal satwa ini lebih dekat. Dalam pengamatan focal sampling selama 48 jam dengan durasi masing-masing 4 jam di waktu aktif mereka (Kowak –red), pukul 4–8 pm dan 4–8 am. Mengamati lebih jauh dengan metode continuous recording, menggunakan binokular autofocus di spot-spot yang dianggap memiliki richness kowak paling tinggi. Aku kebagian spot H, tepat di halaman depan Mesjid Salman. Di tangga Halaman Mesjid, gada tempat laen ya kak Asisten… Memilih satu keluarga untuk diamati. Yah, jadi selama dua hari ini baik-baik deh ama kowaknya, kali aja tau-tau besok udah ada tulisan “for sale” di sarang gara-gara kowaknya ngambek sama pengamat. Hehe…kidding.

Mulanya bosan dengan perilaku mereka yang hanya resting, preening (membersihkan diri), build the nest, walking, jumping, kemudian resting kembali. Alamak, malas kalipun nih burung. Tapi, setelah diteliti lebih jauh, ternyata terdapat pelajaran yang luar biasa dari burung-burung ini. Ternyata ada hierarki kekeluargaan disini. Ada ayah, ada ibu, ada anak-anak, ada pembantu, dan ada tetangga. Mulanya aku tidak bisa membedakan hingga kemudian memang terlihat jelas adanya pembagian peran disana. Di sarang besar di ujung pohon itu. “Kowak merupakan hewan monogamous yang sangat setia”, dosen membekali pengamatan kami dengan pengetahuan umum tentang kowak. Y

up! I see now. Aku mengamati betul fenomena yang aku tunggu-tunggu selama beberapa jam ini, hingga tanpa sadar aku tengah membuat keributan di Halaman Masjid Salman di suatu pagi. Tepat pukul 6 pagi, rombongan ayah dan beberapa ibu kembali ke sarang dengan membawa makanan di mulutnya. Dalam pengamatan kelompok S (kelompok Sembilan Smart gituh!), yang kali ini bertugas mencari makan adalah individu B (Budi, sang ayah). Burung tersebut kemudian mendarat di ranting yang tidak jauh dari sarang, dimana sang betina dan beberapa butir telur yang tengah dieraminya menanti dan menyambut sang jantan dengan kepakan sayap di sarang (kepak sayap di sarang juga termasuk perilaku, jangan lupa dicatet!).

Wow! Subhanallah… Amazing! Dengan perlahan-lahan, Budi sang burung jantan berjalan mendekati sarang kemudian memulai ritual ‘selamat datang’nya dengan sang induk betina. Sang Jantan dan Sang Betina saling mematuk dan menggesek-gesekkan sisi kepalanya kepada pasangannya kemudian bergantian mengerami calon-calon penerus mereka. Kini sang Jantanlah yang bertugas mengeram sambil beristirahat, dan sang betina kini yang bekerja memperbaiki dan memperbesar sarang. Build the nest. Semakin siang, sang pembantu yang semula masih tertidur kini bangun membantu ibunya membangun sarang. Terbang kesana kemari mematuki dan menarik-narik ranting pohon dengan paruhnya. Hmm… usaha yang keras ya, Nak! Kadang sang pembantu yang merupakan anak dewasa dari keluarga ini terbang agak jauh (ke pohon lain) untuk memperoleh ranting atau makanan.

Sekedar informasi, pukul 5 hingga 6 pagi adalah waktu yang tepat untuk defecating bagi kowak. Jadi, hati-hati ya! Tapi tidak menutup kemungkinan ada kowak yang defecating siang-siang lho…

Setelah mengamati keluarga kowak selama dua hari, aku jadi berpikir, mungkinkah Allah mengirim satwa ini untuk menjadi pelajaran bagi kaum intelektual kampus ini. Sebuah pelajaran yang paling dekat darimu pun engkau tidak memahami wahai manusia… hanya sumpah serapah yang mungkin terlontar ketika kepala kalian tiba-tiba terciprat cairan putih dengan aroma anyir yang menjijikkan. Adakah kalian berpikir dan belajar, bahwa semua yang ada di bumi ini tidaklah sia-sia?

Suatu ketika, jika saja aku berjalan sepersekian detik lebih cepat, mungkin aku akan menjadi korban Kowak lagi. Buru-buru aku beristighfar, dan berhamdalah… “Alhamdulillah… untung aja”, ucap teman aku suatu ketika. Nah, gitu dong… tuh, kan… gara-gara kowak, jadi inget Allah khan? Tau tak, kemana burung-burung ini mencari makan? Mereka terbang jauh lho… hingga purwakarta menurut penelitain. Hingga ke waduk-waduk di Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Mencari sumber-sumber makanan, ikan, katak, bahkan tikus, dan jika sangat kepepet makan serangga-serangga pohon. Hmm… mereka kerja keras lho untuk hidup dan menghidupi keluarganya. Kita? Apakah kita bekerja keras untuk ummat dan peradaban yang kita cita-citakan? ß penulis merasa tersindir oleh tulisannya sendiri.Oia, dipengamatan sore hari hingga malam, ada fenomena yang sangat mengagumkan.

Suatu ketika, individu B hendak pergi bermigrasi mencari makan. Namun hingga pukul 6 lebih burung ini tidak kunjung pergi. Padahal sang betina sudah berkoar-koar dan seakan-akan berperilaku agonistik (bertaruh, mengusir) agar sang jantan segera pergi. Hingga langit mulai gelap, burung ini belum mau pergi, padahal udah ketinggalan kereta lho. Koloni burung dari pohon yang lain udah pada berangkat dari jam 6 kurang seperempat. Ketika suara adzan Masjid Salman berkumandang, burung ini menunduk (canggih kan bisa tau, binokular autofocusnya keren bo!). mungkin ia sedang melakukan ritual ibadahnya pada Allah. Dan setelah adzan berhenti, burung ini kembali menunduk kemudian lekas pergi. Hmm…

Subhanallah… keren banget! Dan tidaklah Allah menciptakan seluruh makhluk di bumi ini dengan sia-sia. Dan mereka mensyukuri nikmat Allah dengan caranya masing-masing. Sudahkah kalian bersyukur hari ini?

Entry filed under: tulisan standar. Tags: .

Kecurangan Akademik yang Ditolerir Rindu Kami Padamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: