Kisah Sedih Waktu DMM

Agustus 1, 2007 at 9:05 am Tinggalkan komentar

Bayangkanlah, saat ini kamu adalah orang yang berharap akan mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan saat kamu berkunjung ke sebuah lembaga elite milik negara. Sebut saja institusi ini adalah insititusi tempat ngumpulnya makhluk-makhluk bertitel minimal S1, dan kebanyakan udah S3. mereka mengkaji potensi alam indonesia untuk dijadikan produk, dengan harapan bahwa produk itu kelak akan mensejahterakan bangsa dan menjadikan bangsa sebagai bangsa yang mandiri. Institusi yang bernama keren ini, ternyata… cukup menggambarkan kondisi bangsa kita.

 

Suatu ketika, seusai pimpinan balai pada salah satu badan ini berpresentasi, kami diberi kesempatan untuk bertanya. Kebetulan kami berkunjung ke balai besar energi alternatif. Weiss, senang kalipun aku… bersesuaian dengan kondisi bangsa yang lagi pailit BBM. Bersesuaian pula dengan basic ilmu aku yang biologi.

 

Salah seorang temanku mengacungkan tangan dengan harapan, jawaban yang akan dilontarkan oleh pimpinan balai tersebut akan sangat memuaskan kami. “Pak, sekarangkan Indonesia lagi krisis BBM, dan katanya sih karena minyak di Indonesia itu udah abis. Tapi, menurut dosen saya, minyak di Indonesia itu masih banyak, tapi terjebak dalam partikel batuan dan tanah, sehingga untuk menambangnya, tidak dapat dilakukan dengan metode konvensional. Lalu muncullah ide MEOR, yaitu metode pengambilan minyak bumi dari partikel batuan dan tanah menggunakan bakteri. Yang saya tanyakan, bagaiaman perkembagan metode itu di sini Pak?”. Dan aku jamin, temen aku sangat kecewa ketika sang pimpinan balai itu berkata, “MEOR itu apa? Kami baru mendengarnya”. Oh my god, inikah institusi tempat ngumpulnya para sarjana, magister, dan doktor itu.

 

Tapi kami masih ga nyangka, karena dosen kami yang menyatakan ide tentang MEOR itu juga bagian dari institusi ini, tetapi di Balai yang berbeda. Hmm, satu-satunya alasan yang mungkin adalah, koordinasi antar balai yang kurang baik mungkin. Sehingga, balai yang seharusnya menguasai metode aplikatif MEOR pun belum kenal. Gitu juga waktu kami menanyakan mengenai biodiesel biji jarak. Mereka menjawab, kami baru berjalan pada tahap pengkajian. Olala, ITB aja udah uji coba produk biodiesel keliling pulau Jawa-Bali gituh…

 

Kekecewaan belum selesai, waktu kami berjalan-jalan untuk melihat-lihat solar cell, aku bertanya pada bapak pemandu. “Pak, cara bikinnya gimana sih pak, kenapa dia harus miring ke arah utara-selatan dengan sudut 15 derajat?”. Sang pemandu menjawab, “ah, sudahlah, kalian masih mahasiswa. Ga usah mikirin bikinnya gimana. Yang penting gunain aja dengan seefisien mungkin”. Jleb, aku langsung ga mood ngomong. Koq bisa sih dia jawab gitu. Masa kami Cuma diajarin jadi orang konsumtif. It’s OK, emang bikinnya mahal dan rumit, tapi masa sih anak Indonesia ga akan ada yang bisa bikin tuh lempeng silika. Aku yakin, suatu saat, Indonesia bakal bisa memproduksi solar cell sendiri, supaya ga ketergantungan ama BBM.

 

Tapi, aku pikir-pikir… mereka kan pengkaji. Pengkaji yang ga ada realisasi… (maybe). Ups, ga boleh gitu mift. Tapi, akhirnya, diakhir perjalanan, ada seorang bapak dari balai itu berkata, “Inilah nasibnya institusi BUMN. Ga ada dana, publikasi pun entah gimana”.

 

Inikah Indonesia? Sampe-sampe insitutusi elitenya pun masih jalan jongkok… pantesan, dosen-dosen aku lebih suka jual proyeknya ke swasta. Ilmuwan ga lagi dihargai di Republik ini. Apakah akan terus begini? Lalu, para mutiara bangsa selanjutnya pun akhirnya terlena dengan nikmat institusi swasta dan luar negeri. Hanya untuk satu penghargaan…

 

Entry filed under: tulisan standar. Tags: .

Rasulullah vs Ibunya Malin Kundang Cerita Lebaran 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: