Cerita Kulap Pangandaran

Agustus 1, 2007 at 8:10 am 8 komentar

 

Ia bukan pria bertulang besi, berotot kawat, apalagi bersyaraf kabel. Bukan pula seorang pria yang bertubuh kekar kayak Ade Ray. Ia hanya seorang dosen berusia 74 tahun dengan tinggi sekitar 150 cm. Rambutnya sudah memutih, kulitnya juga telah keriput, tapi apa menariknya bapak tua ini?

 

Wisma Rengganis, 25 November 2005

Setelah semua mahasiswa dikumpulkan di lapangan rumput, daerah observasi pun dibagi. Kelompok A akan menuju hutan mangrove, kelompok B akan menuju pasir putih dan hutan pantai, sedangkan kelompok C akan menuju hutan wisata cagar alam. Aku beserta anggota kelompok B yang lain akan didampingi oleh Pak Eman dan Pak… (sahanya? Hilap euy… ). Sebelum jauh dari kelompok lain, dosen pembimbing kelompok lain (Pak Undang) sempat berpesan kepada kelompok kami sambil bercanda, “awas hati-hati dengan Pak Eman, nanti diajak nyasar”. Karena kita-kita yang berjumlah sekitar 36 orang dan ditemani kalo ga salah 5 orang asisten ngirain pak Undang bercanda, kita sih nyante-nyate aja ya jack?!

 

Dimulailah sebuah perjalanan menyenangkan dengan dosen senior yang hafal nama latin hampir semua spesies tumbuhan di Pangandaran dan beberapa hutan lain ini. Dalam perjalanan menyusuri hutan belantara dan pantai pasir putih, dengan begitu expert ia menunjuk spesies tumbuhan ini dan itu sambil menjelaskan karakter serta kekhasan masing-masing tumbuhan. Ia mampu mengenali spesies tumbuhan yang menurut orang awam sama saja karena semuanya hijau, hanya dengan meraba dan mengamati dengan seksama. Setelah istirahat (bo’ong, ga istirahat! Pada foto-foto tuh, abis temen-temen pada fototaksis positif) selama 10 menit di tepi pantai untuk menunggu pantai surut karena saat itu pantai sedang pasang, sampailah kami di suatu tebing longsor. About fototaksisnya temen-temen, heran gua… Curiga tuh kamera isinya banyakan foto narsis mereka ketimbang foto tumbuhannya.

 

Balik ke tebing longsor… Pertamanya sih yang takjub gitu, weiss… pak Eman keren amat! Biar udah ga muda lagi, tapi stamina oke punya. Dia daki dong tuh tebing longsor. Semanget banget lagih! Tapi, rasa takjub dan kagum itu hilang dalam hitungan detik. Priiiitttttt… pak eman niup peluitnya. Ngerti ga apa maksudnya?! Kita semua nih, disuruh ngikutin dia daki tuh tebing longsor. Seluruh mahasiswa serta dosen dan para asisten benar-benar ga nyangka Pak Eman senekat itu. Salah satu assisten nyusul Pak Eman buat nego (caelah nego…). yang lainnya harap-harap cemas dengan muka melas, semoga Pak Eman mau turun ke bawah (kalimatnya nampak Pak Eman mau bunuh diri ajah!). tapi ternyata, asisten itu malah teriak dari atas, “woi, cepet woi…”. Seriusan ieu teh…

 

Cuma dua orang mahasiswa ditambah satu asisten yang ikut Pak Eman mendaki tebing itu. Belasan mahasiswa yang lain masih berharap Pak Eman berubah pikiran, namun ternyata apa yang mereka harapkan ga terjadi. Pak Eman justru meniup peluit lagi petanda bahwa mahasiswa yang masih dibawah harus segera mendaki tebing longsor tersebut. Dengan perasaan takut, tidak percaya diri, dan pikiran penuh rasa heran mahasiswa yang masih dibawah akhirnya mendaki tebing tersebut. Atuhlah Bapak…

 

Apa yang selanjutnya terjadi?. Ketika para mahasiswa tersebut sedang berusaha mendaki dengan dibantu oleh dua mahasiswa yang semula telah mengikuti Pak Eman, Pak Eman tidak menyiakan momen yang mungkin kelak akan dirindukan tersebut. Ia memotret mahasiswa yang sedang berusaha mendaki dan yang telah berhasil mendaki.

Coba tebak, apa yang selanjutnya terjadi setelah semua mahasiswa dan asisten sampai diatas. Ia menunjukkan satu tanaman yang cukup unik. Daunnya keras, Tetracera scandens (L.) Merr. Dan jadi tumbuhan favorit kelompok kami selain tanaman Rukem (Flacourtia rukam).

 

Tegalan Cikamal dan Hutan Pangandaran, 26 November 2005

Hari ini kami (kelompok B2) masih bersama Bapak Eman tapi ditambah Pak Ama, akan mengidentifikasi spesies yang ada di Tegalan Cikamal dan hutan disekitarnya (seharusnya cuma ke Cikamal doang loh!). sebelum berangkat, kami praktikan dan asisten membuat perjanjian, Jangan mengucapkan atau berbuat sesuatu sekecil apapun yang dapat menstimulus semangat Pak Eman untuk berjalan keluar rute lagi!

Di hutan selama perjalanan menuju Cikamal, kami banyak menemukan Flacourtia rukam atau rukem yang batangnya penuh duri, serta spesies yang hanya satu-satunya di Pangandaran yaitu Rengas atau Semecarpus sp. yang getahnya sangat berbahaya. Kata Pak Eman, getah Semecarpus bisa bikin pendarahan dalam, ato minimal eksim kronis.

 

Pagi hari sebelum sarapan dan berangkat ke cikamal, aku dan beberapa orang teman diajak mengidentifikasi beberapa tanaman pesisir pantai yang membentuk formasi Barringtonia. Ga cuma itu, kami juga ditunjukin salah satu spesies Ficus sp. yang buahnya subhanallah… banyak banget! Nempel dibatang pohon yang diameternya melebihi lingkaran tangan orang dewasa.

Saat akan kembali ke wisma, kami diajak menuruni tebing yang curamnya 90 derajat dan tanpa peralatan. Dan pijakannya cuma batuan kapur yang gampang banget amblas dan batang kayu yang udah rapuh banget. Namun akhirnya hanya lima mahasiswa –aku, nisa, dies, ago, dan DePe- yang benar-benar mengikuti jejak Pak Eman, yang lainnya memutuskan untuk balik arah. Selain serem banget gituh, pijakannya juga udah ambrol semua.

 

Back to story at cikamal. Sampailah kami di Tegalan Cikamal setelah berjalan menembus hutan yang belum pernah dilewati manusia. Sampai di padang rumput ini kami masih merasa tidak akan terjadi apa-apa. Pak Eman memerintahkan setiap praktikan untuk membuat satu plot berukuran 3 x 3 meter dan mengambil sample tumbuhan yang ada dalam plot itu, tapi tumbuhannya ga boleh sama dengan temen yang lain. Setelah waktu penyamplingan habis, dan sample tumbuhan dikumpulkan, semua duduk mengelilingi Pak Eman dengan tangan siap mencatat. Persis cucu yang minta dibacain dongeng. Feeling bakal nyasar belom ada sedikitpun karena sebelumnya kelompok B1 yang udah duluan ke tegalan Cikamal bertemu dengan kami dan akan kembali ke wisma.

 

Setelah selesai mencatat nama famili dan spesies tumbuhan (yang kebanyakan perdu ama rumput), Pak Eman ngetes praktikan. Dia menunjuk satu orang dan menanyakan nama tumbuhan dan familinya. Yang ditanya bingung. Bapak kan baru nyebutin satu kali, mana inget wong yang disebutin juga banyak. Sebagai hukuman karena ga bisa jawab, Pak Eman bilang, “Sebut Tetracera scandens 20 kali”. Yang dihukum nurut aje, “Tetracera scandens… Tetracera scandens… Tetracera scandens…

 

Perjalanan semakin mengasyikkan dibawah panas matahari pukul 10 siang. Pak Eman mengajak kami menembus semak belukar dan hutan yang sama sekali belum terjamah manusia. Setelah tiba di padang rumput kembali, kami menemukan tali rafia yang menggantung dipohon, Pak Eman berhenti. “Lihat, disana”, ucap Pak Eman. Ago spontan nyeletuk, “Wah… kita kalah dong Pak!”. Yang lain nengok ke arah Ago sambil mendelik. “Agoooo….”.

Perjalanan dilanjutkan sampe ga tau ampe mana nih. Pokonya udah nyebrang dua sungai dan akhirnya kami sadar, Nyasar euy…

 

Pak Eman memang tidak mengikuti jalur yang telah ditentukan. Ia membuat rute perjalanan sendiri karena ia sangat antusias untuk menemukan singa depa atau biasa disebut kelapa ciung. Nah loh, tumbuhan apaan lagi tuh.. ups, ooo… jadi dari tadi teh tujuan utama kita bukan identifikasi tumbuhan Cikamal, tapi… nyari Singa Depa?! Singa Depa ini merupakan tumbuhan langka yang mempunyai manfaat obat untuk bermacam penyakit. Beberapa mahasiswa kelompok B2 sudah kelelahan, putus asa, dan kesal. Tidak hanya mahasiswa kelompok B2, namun juga asisten dan dosen yang saat itu turut serta dalam perjalanan bersama Pak Eman tidak menyangka hal ini akan terjadi. Pukul 11.00 kami masih ditengah hutan, sedangkan pukul 12.00 kami harus sudah tiba di wisma. Kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan identifikasi dan benar-benar mencari jalan pulang. Tidak demikian dengan Pak Eman, ia masih bersemangat untuk menemukan Singa Depa.

 

Akhirnya kami berjalan menuju wisma sambil mencari Singa Depa melalui hutan belantara yang licin. Beberapa dari kami beberapa kali terjatuh, udah ga kuat lagi gituh… Diperparah dengan lantai hutan yang licin. Ironisnya, di kanan-kiri kami itu rukem. Ingetkan?! Durinya itu lo…

 

Cuaca mendung, dan akhirnya hujan deras. Suasana kelompok aku udah gawat. Aku, Ani, Dies, dan DePe berusaha nyari jalan pulang. Tapi karena kuatir dan jalannya temen-temen jadi pada lambat, DePe nyusul mereka. Tinggal aku, Ani, dan Dies yang masih nyari jalan pulang. Suhu di hutan semakin dingin, penyakit salah seorang temen aku kambuh. Ia jatuh pingsan. Dina temenku udah berandai-andai, “di tas gua ada coklat satu, buavita satu, kalo dibagi buat 18 orang… ga papa lah. Tapi kalo dua hari… hua…”.

 

Beberapa waktu yang lalu, Pak Eman bikin temen-temen kelompok B2 geregetan. Kenapa coba?! Masak dia nanya ke Armel dan Bestri, kalian dari mana? Karena sebelumnya kelompok kami ketemu sama temen-temen dari Unjani. Armel hampir aja keceplosan bilang… “MANEH…”. dan dengan polosnya Bestri bilang, “Biologi IteeeBe Pak”. Kenapa coba mereka geregetan banget, Armel dan Bestri itu pakai Jaket Himpunan yang dipake oleh 95% praktikan. Artinya, dia ga ngeh siapa aja orang yang diajak nyasar. Dan kalo yang diajaknya itu ga saling kenal, meureun ga bakal ketahuan kalo ada yang ilang.

 

Selama jalan kami masih sahut-sahutan dengan DePe, tapi kok lama-lama suara DePe dan temen-temen yang lain udah ga kedengeran. Akhirnya Dies nyusul temen-temen yang lain barengan DePe. Tinggal aku dan Ani yang masih nyari jalan, tetep sambil kontak dengan Dies. Nah loh, sekarang suara Dies juga ngilang. Tinggal deh aku dan Ani. Kami nungguin mereka lama banget. Lamat-lamat kami dengar suara ombak. Suaranya mirip guntur tapi beda. Tadinya aku dan Ani ga bisa bedain karena saat itu ujan campur guntur. Tapi akhirnya beberapa menit kemudian aku dan Ani bisa melihat atap wisma rengganis dan tenda asisten. Alhamdulillah… saat aku kembali, temen-temen dari kelompok A, B1, dan C sudah tiba di Rengganis. Mereka sedang istirahat melepas lelah. Aku langsung mencari asisten buat ngasih tau lokasi teman-teman yang masih di hutan.

 

Beberapa menit kemudian, teman-teman yang lain tiba di wisma. Alhamdulillah, mereka selamat. Dan tau setelah kejadian itu, kelompok B2 dilarang mengikuti perjalanan ke Hutan Mangrove. Dan waktu tersebut digunakan selain untuk tidur tentunya juga untuk menceritakan perasaan masing-masing saat di hutan. Oia, karena di wisma ada peta gede banget, kita baru nyadar kalo kita udah ngelilingin Pangandaran. “HAH?!… Kita berangkat dari barat wisma dan pulang dari timur wisma??!”, ucap salah seorang temenku. Ternyata, temen-temen aku keren yah…

 

NB:

Tau tidak, disaat suasana kelompok yang sudah memprihatinkan tersebut, Pak Eman masih bersikap tenang. Ia tidak menunjukkan wajah gelisah sedikit pun. Selama diperjalanan ia tetap menunjukkan beberapa spesies tumbuhan yang sebelumnya belum ditemukan.

P R B E S A R !

Apakah kita mampu seperti Beliau saat usia kita sama dengan usianya saat ini?

Ketika orang-orang seperti Beliau harus pergi meninggalkan dunia ini, siapa yang akan menggantikannya kalau bukan KITA!


Padang Cikamal, 27 November 2006

Hari ini, ga rame! Nguber-nguber kupu-kupu doang. Temen-temen aku memanfaatkan momen ini untuk main india-indiaan. Secara gitu di Bandung ga ada padang rumput.


Tapi ada cerita lucu, waktu di Padang Cikamal, temen aku, Windra tiba-tiba teriak, “woi… gue dapet kupu-kupu spesies baru…”. yang lain kontan nengok kearahnya. Dia lagi apa coba? Menutup kepala Bestri pake sweeping net sampil bilang, “ini dia… kupu-kupu malam…”.

 

Tadi malem turun ke sungai, kira-kira jam 8 ampe jam 10an lah. Dapet banyak nerita.. Nangkep kecoa, jangkrik, laba-laba, ikan, kodok. Seru abis lah kalo yang ini.


Waktu perjalanan pulang ke Bandung, aku duduk di belakang kursi Pak Eman. Aku dan temen-temen aku –nisa, ani, syifa, febi, ike- tuker bekel ama pak eman.


I Miss Pangandaran… Oia, sebelum ke cikamal kan kami sempet lihat kuncup bunga langka Rafflesia padma loh… seru kan kulap ke Pangandaran?!

Entry filed under: tulisan standar. Tags: .

Hello world! Masih Ada Cerita Lucu di Lab Biosist

8 Komentar Add your own

  • 1. laudean  |  April 10, 2008 pukul 2:27 pm

    dear pal, bila benar kamu sempat melihat kuncul atau knop Rafflesia padma itu, tolong kirim saya photonya untuk saya publish di blog saya http://rafflesia-flowers.blogspot.com
    saya tunggu, email taneakjang@gmail.com
    salam

    Balas
  • 2. Fitri  |  Mei 26, 2010 pukul 1:23 pm

    seruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu, , ,
    kuliah lapangan q ke pangandaran nti kyak gmana yua, , ,
    nemu pa ja ya. . .
    Hmm . . .

    Balas
  • 3. fitri  |  Agustus 25, 2013 pukul 7:21 am

    Ini cerita tentang Uwak saya yang saya kagumi … Ingin saya share ke anak-anaknya … mohon ijin

    Balas
    • 4. senyummatahari  |  Agustus 25, 2013 pukul 8:17 am

      Silakan mbak.. btw kabar pak eman gimana sekarang? Itu kayaknya terakhir saya ketemu beliau.. semoga sehat selalu

      Balas
  • 5. ariefwm  |  Agustus 25, 2013 pukul 8:05 am

    Ini benar uwak Eman yg di Ledeng Bandung?
    Waktu SD tahun 1979 saya juga, “nyasar” jalan kaki dari Ciawi (22 km sebelum Tasik dari Bandung) ke Babakan Awi.

    Dan pernah di minta menghafalkan semua stasiun kereta yg disinggahi antara Tasikmalaya ke Madiun (1985 – 1990)

    Balas
    • 6. senyummatahari  |  Agustus 25, 2013 pukul 8:13 am

      Mungkin pak. Dosen UPI juga beliau. Jadi bisa jadi tinggalnya emang di ledeng

      Balas
  • 7. fitri  |  Agustus 25, 2013 pukul 9:44 am

    Waktu silaturahmi lebaran kemaren, beliau habis blusukan ke Baluran sama 7 bis mahasiswa …

    Balas
    • 8. senyummatahari  |  Agustus 25, 2013 pukul 9:45 am

      Whoaaaaah sadiiiiiiissssss

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,352 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: