Bus Story (baca:bustori, nisa yang nulis bustori)

Agustus 1, 2007 at 8:24 am Tinggalkan komentar

29 Oktober 2005 Dalam perjalanan menuju kampung
halaman…
Setelah menghabiskan beberapa lembar mushaf kecilku,
kualihkan pandangan keluar jendela angkutan nyaman
ini. Hamparan permadani alam yang tersusun
kotak-kotak, hijau terhampar di kanan-kiri jalan
mengiringi perjalanan yang cukup melelahkan. Kanopi
pepohonan menyembul mencoba menutupi coklatnya lantai
hutan yang sudah tak terlindung hijau dedaunan.
Hutanku…gunungku… sanggupkah kau mempertahan-kan
air dengan akar pepohonanmu yang mulai lemah, dan
menyejukkan panas bumi yang dikompori oleh perbuatan
hina penindas rakyat!
Dari sisi kiri, mobil truk ukuran sedang yang memuat
6 buah mobil mewah tersalib angkutan yang kutumpangi.
Satu tanda tanya besar muncul di sela-sela sulkus dan
gyrus otakku. “Masih ada yah orang yang mikir beli
mobil baru, padahal jelas-jelas diluar sana banyak
rakyat yang mati kelaparan”. –kelaparan lho…
bukan busung lapar! Busung lapar itu masih bisa makan
tapi kurang gizi, tapi kalo kelaparan itu ga makan
karena emang ga ada yang bisa dimakan- kok ada yah?!

30 Oktober 2005 Di Minimarket, saat menonton televisi,
saat membaca majalah…
Terpampang deretan huruf dengan ukuran besar-besar
–tentunya bertujuan untuk menarik perhatian-
bertuliskan “Banjir Rejeki…Menangkan Hadiah
Spesial…bla…bla…bla…” Kuteliti hadiah yang
ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan penyelenggara
acara gebyar hadiah tersebut. Hampir semua menawarkan
kendaraan bermotor berupa mobil atau minimal sepeda
motor sebagai hadiah utama. Amigdalaku langsung
menghantarkan sinyal memori mengenai iklan layanan
masyarakat yang menyatakan himbauan pemerintah agar
rakyat meng-hemat penggunaan BBM dan listrik, serta
ingatan mengenai pemberitaan di media massa maupun
media elektronik yang menampilkan kenyataan dilapangan
mengenai kelangkaan BBM, antrian panjang di beberapa
SPBU di beberapa daerah, hingga berita bahwa rakyat
“kota minyak” kembali menggunakan kayu bakar.
Aneh bin ajaib! Keningku berkerut, kok bisa?
Ditengah suasana langkanya persediaan BBM, ditengah
kepailitan rakyat akan kebutuhan pokok (sandang,
pangan, papan) dan produk Pertamina ini, para
perusahaan penyelenggara acara gebyar hadiah itu
justru mengiming-imingi rakyat dengan barang yang
sebenarnya merupakan kebutuhan tersier. Barang yang
justru kelak konsumtif terhadap BBM. Tidak adakah
inovasi lain yang lebih tepat guna? Kita tunggu! (atau
hanya menunggu?!)
Tanpa bermaksud memojokkan orang mampu yang ingin
mempunyai kendaraan pribadi yang lebih baik, tidak
pula bermaksud menjatuhkan perusahaan penyelenggara
acara gebyar hadiah dengan hadiah utama berupa
kendaraan bermotor, tetapi dari dua contoh kasus
diatas, diperoleh beberapa bukti bahwa rakyat bangsa
ini belum mampu memprioritaskan kekayaan dan
kebutuhannya serta memiliki sense yang sangat tipis
terhadap kondisi rakyat kecil. Tidak semua orang
berfikir keras untuk memecahkan masalah bangsa ini
(kelangkaan BBM), dan tidak semua orang ikut merasakan
derita rakyat kecil (termasuk para wakil rakyat yang
justru naik gaji setelah harga BBM naik secara
eksponensial).

Wallahu’alam bishawab.

Entry filed under: ceritacerita. Tags: , .

Arghh…Lieurrr… Kisah Tragis (baca:lucu) di Lab Biosel part1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


quote ov da dei

ak ada alasan untuk pesimis karena Allah ‘Azza wa Jalla tak pernah berhenti memberi pertolongan, kecuali kalau iman kita telah habis dan keyakinan kita pada kekua­saan-Nya telah menipis (Mohammad Fauzil Adhim)

udah

  • 77,335 orang nih

For my special one, Kania

Dimanapun kamu berada, aku masih disini. Menyiapkan bahu untuk kau pinjam. Menyiapkan tangan untuk kau raih, serta kaki untuk kau ajak berlari kembali.

ENTP vs INTP [masih ENTP]

Click to view my Personality Profile page

kotakku


%d blogger menyukai ini: