senandung untuk ayah bunda
Februari 4, 2009
Kau bertanya padaku
tentang dua mata peri
Percayalah
binarnya tak seterang
mata bunda
kala menatap
dan menggenggam tanganmu
Pada setiap napasnya
bunda membuat matahari-matahari baru
dalam jiwamu
Kau bertanya padaku
tentang dua kaki gunung itu
Percayalah
kokohnya tak setegar
bahu ayah
kala memanggulmu
tanpa istirah
Pada setiap napasnya
ayah memancangkan tiang-tiang asa
agar langkahmu sampai pada bianglala
-Abdurahman Faiz-

Sedalam laut, seluas langit
cinta selalu tak bisa diukur
begitulah ayah mengurai waktu
meneteskan keringat dan rindunya
untukku
//
Ayah pergi sangat pagi
kadang sampai pagi lagi
tapi saat pulang
ia tak lupa menjinjing pelangi
lalu dengan sabar
menguraikan warnanya
satu persatu padaku
dengan mata berbinar
///
Waktu memang tak akrab
denganku dan ayah
tapi di dalam buku gambarku
tak pernah ada duka atau badai
hanya sederet sketsa
tentang aku, ayah dan tawa
yang selalu bersama
[AYAH]

Entry Filed under: puisi + lagu. Tag: bapak, Episode cinta, ingin dibagi, renungan.
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
sandibayuperwira | Februari 4, 2009 at 9:04 am
nah…
gini dong..
lebih terang..
keknya teteh suka bgt nulis ya..
nulis novel nyook..
2.
padhangilalang | Februari 4, 2009 at 11:37 am
@ sandi
nulis skripsi dulu aja lah san, hahahahaha
kalo bikin novel, hmm…kolaborasi aja. sandi ama deri. tulisan kalain kerenl. sama2 melankolis, kayanya OK tuh [berharap gada yang ke-GR-an >.< ]
3.
sandibayuperwira | Februari 4, 2009 at 7:29 pm
sama teh aQ jg lg nulis bwt penelitian..
ntar kalo telat bisa d marahin sama Om Anggit..
haha…
btw d tunggu ya traktirannya kalo dah lulus…
hehe..
4.
Maren Kitatau | Maret 6, 2009 at 4:22 pm
Salam Maya!
Foto-fotonya bagus,
Renunganmu pun bagus,
Aku tetarik dgn kata mata dan jiwa.
Salam Pikir Tiga!