Rumah Pelangi
Januari 29, 2009
Sore ini, aku ingin melirik langit Bandung. Ingin mencium angin Bandung. Dari sudut PAU lantai 6. Hanya ingin mengkonversinya dengan langit kampung halamanku, Serang. Dan sore ini, tak terkonversi. Karena langit bandung sedang ingin kusam, sedang ingin dingin pada penikmat langit sore ini.
Disana, di langit kampung halamanku. Disana ada rekaman kejadian, kegiatan sore sebuah keluarga kecil yang sederhana. Ada bapak, ibu, anak berusia 9 tahun, dan satu lagi anak kecil yang beda usia 4 tahun dari anak yang pertama.
Kegiatan sore mereka kali ini adalah bakar singkong di kebun samping rumah yang berukuran 5 x 20 meter. Singkong yang di tanam dan dijadikan pagar hidup di kebun itu juga. Kegiatan bakar singkong bersama ini tentu saja dilakukan setelah memenuhi kebutuhan puluhan ayam peliharaan mereka. Hangat, sehangat singkong bakar mereka. Wajah mereka ceria. Senyum dan tawa terlihat lepas dari wajah mungil anak-anak kecil itu. Bahagia dengan ikhlas.
Rekaman lain langit kampung halamanku berpindah ke sebuah kota kecil. Bernama Serang Kota. Sore hari, di garasi sebuah rumah bertembok merah muda dengan pohon mangga didepannya. Garasi rumah itu ditutup dengan kanopi hidup pohon Anggur, dan pagar rumahnya dilapisi tanaman rambat Paria. Disana tampak ada kegiatan manusia yang tentu mereka adalah penghuni rumah itu. Tengok sebentar ke arah pohon mangga itu. Buah mangga ranum bergelayutan disela-sela ranting hingga pohon itu doyong ke arah jalan.
Dan di garasi rumah itu, seorang ibu dikelilingi 3 orang anak usia 13 tahun, 8 tahun, dan 2 tahun. Ibu itu sedang mengupas mangga untuk tiga mulut didepannya. Dan bapak anak-anak itu sedang di salahsatu dahan pohon memetik beberapa buah ranum untuk dibagikan pada tetangganya.
Hangat, penuh cinta. Sang ibu selalu tau potongan mana yang akan disuapkan pada siapa, sesuai dengan potongan kesukaan anak-anaknya itu. ada yang suka bagian tengah, ada yang bagian ujung agak masam, dan ada yang ingin dibuatkan “sawah-sawahan”. Itu lho, potongan yang dibuat dengan cara memotong satu sisi buah tanpa mengupas kulit, lalu dibuat potongan kecil dadu 1 x 1 cm. Dan biasanya, ibu-bapak dari keluarga ini akan menyisakan diri cukup dengan bagian biji untuk digerogoti. Atau kadang, anak-anak kecil itupun ikut menggerogoti biji buah bagian ibu-bapak itu.
Langit Bandung sore ini, tak mampu membawa anak usia 13 tahun yang kini menjadi 21 tahun itu kembali ke kampung halamannya lewat senyum langit. Karena langit bandung sore ini sedang ingin kusam, ingin dingin. Mungkin ada manusia lain di Bandung ini yang sedang dihibur oleh langit, dengan seleranya : dingin.
Yasudah, anak 21 tahun di sudut PAU lantai 6 ini pulang kampung halamannya lewat media lain saja. Dengan sejumput senyum pada angin.

Entry Filed under: ceritacerita. Tag: bapak, Episode cinta, jejalan kehidupan, renungan.
5 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
thegreatamanda | Januari 29, 2009 at 8:32 pm
jadi pengen pulang……….
*tuh udah dikasih komen
*
2.
37degree | Januari 30, 2009 at 5:38 pm
lagi kangen keluarga ya pi,, hehe
gambarnya kok pohon pelangi sih :p
3.
padhangilalang | Januari 30, 2009 at 6:27 pm
kangen mama… bapak… sella… ria… azriel… huhuhuhuhu
pengen kumpul dan bakar singkong bareng lagi… hiks2
bukan pohon pelangi jeng, itu pelangi yang ada di langit…
Rumahnya pelangi kan langit (mode maksa : ON)
4.
sandibayuperwira | Januari 30, 2009 at 7:50 pm
hoho..
“serang kota”
aku mah d serang desa…
5.
padhangilalang | Februari 3, 2009 at 12:21 am
hmmm… rumahku “serang kampung” san.. itu kan cuma nama kotanya… Serang Kota dan Serang Kabupaten…