Kepompong
Desember 4, 2008
Dulu kita sahabat//Teman begitu hangat//Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat//Berteman bagai ulat//Berharap jadi kupu-kupu
Kini kita berjalan berjauh-jauhan//Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan//Namun itu karena ku sayangPersahabatan bagai kepompong//Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong//Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong//Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompongSindentosca – Kepompong
A : Eh, bagus ya lirik lagu ini. Aku suka deh
B : Enggak ah, gua ga suka
A : Lho, emang kenapa?
B : Soalnya gua ga setuju kalo persahabatan disamain ama kepompong
A : Lho kok gitu? Kan kepompong mengubah ulat menjadi kupu-kupu. Indah kan?
B : Indah sih, tapi abis itu kan kupu-kupunya pergi
A : Iya sih, kupu-kupunya bakal pergi, tapi kan dia jadi indah.
B : Ya kalo gua sih ga mau kupu-kupunya pergi. Gua ga mau kehilangan sahabat-sahabat gua, termasuk lu.
Hmm… buat aku, aku rela, ikhlas, jika sahabat-sahabatku, orang-orang yang aku cintai, orang-orang yang aku sayangi, harus pergi dan menebar keindahannya. Memberikan manfaat bagi setiap bunga yang dihinggapinya. Bukankah itu esensinya sebagai makhluk? Menebar kemanfaatan bagi dunia. Apalagi jika kupu-kupu itu menjadi semakin cantik dan indah dibandingkan sekedar ulat atau kepompong menurut pandangan mayoritas manusia (bilang kaya gini karena aku suka banget sama ulat, hampir setara dengan sukanya aku ke kupu-kupu).
Yah, kemanfaatan sebagai makhluk bagi dunia, bukan untuk kita saja. Bukankah ia terlahir sebagai rahmatan lil alamin? maka tidak selayaknya kita menginginkan sahabat-sahabat kita, orang-orang yang kita cintai, dan orang-orang yang kita sayangi, hanya menebar kemanfaatannya disamping kita. Apalagi jika harus selalu ‘duduk’ menemani kita.
Bukankah dengan terbang jauh, kupu-kupu itu menjadi semakin sempurna sebagai makhuk-Nya? Menahannya untuk tetap bersama kita, sama saja dengan kita tidak ikhlas memberikan cinta kepadanya. Bukankah esensi mencintai adalah memberi bukan meminta balasan, menjaga bukan meminta perlindungan, merawat dan menumbuhkan kapasitasnya sebagai manusia, dan senantiasa membantu orang yang kita cintai untuk menjadi semakin baik dan semakin baik. Ya, mencintai (siapapun itu) punya konsekuensi. Dan jika belum berani bertanggungjawab untuk menjalani konsekuensi tersebut, jangan pernah memakai lipstik, aku mencintaimu. Ana uhibbuk. Apalagi dengan kata, -fillah. Karena mencintai adalah keputusan. Dan keputusan menuntut tanggungjawab.
Maka terbanglah jauh kupu-kupu, untuk membantu bunga-bunga berfertilisasi Bersinarlah terang mentari, untuk meradiasi energi pada bumi
Entry Filed under: ceritacerita, puisi + lagu, tulisan standar. Tag: Episode cinta, renungan.
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed


1.
ajeng | Desember 7, 2008 at 8:30 pm
terbang ya?
terbang!
i believe i can fly
let me fly ^^
(i have your words)
2.
Hadi Teguh Yudistira | Desember 8, 2008 at 6:00 pm
Hmmm…. it depends of our view. Tapi menurut persahabatan itu tidak akan pergi. Apakah alasan jarak menjadi persahabatan itu pergi??? Tidak, kalau komunikasi tetap dijaga, persahabatan itu tidak akan pergi….
3.
Deri | Desember 9, 2008 at 10:34 am
itu percakapan ma si mbak dhian bukan?