Ketika harus memaknai hidup
April 14, 2008
Bismillah…
tadi malam, aku buka-buka my e-diary di komputer. dan pertanggal 4 Januari 2007, aku menemukan satu kisah yang menurut aku mesti dishare…
4 Jan 07
Ga boleh berhenti bersyukur…
Asw…
Hmm… Alhamdulillah… aku masih diizinkan untuk menghirup udara pagi hari ini… dan masih diberi kekuatan untuk menahan rasa ngilu dipunggung kananku… masih dikasih kesempatan buat ngerasin dinginnya subuh di Bandung… alhamdulillah wa syukurillah…
Ga tau kenapa aku jadi rada2 mellow… tiba2 kepikiran, hidup adalah kesempatan… hidup hanyalah sepenggal kisah yang akan mengantarkan kita ke alam keabadian… hidup adalah pilihan…
Dua slide memorian tiba2 terus berputar di bawah gelombang alfa… dalam ingatan sadarku…
slide pertama, tentang kisah Kikan dalam film Mirror yang mengetahui bahwa dirinya akan meninggal tidak lama lagi… slide kedua, dengan cerita yang sama. Cuma aktornya beda. Kali ini namanya Aya. Ikeuchi Aya. Seorang gadis 15 tahun yang divonis tidak berumur panjang karena penyakit yang menggerogoti sel-sel cerebelumnya.
Kalo ngeliat kasusnya mungkin hampir sama. Mengetahui bahwa umur mereka ga panjang. Dan hal itu membuat dua pelaku kejadian (walah, kayak TKP ajah!) mengalami depresi berat. Gimana ga?
Bedanya, pada penyikapannya… walaupun Aya chan baru 15 taun… pemikirannya sangat dewasa banget. Dia menggunakan sisa umurnya itu untuk membuat dirinya lebih berarti. Ia bisa membuat orang-orang disekelilingnya merasa beruntung telah mengenal seorang Aya. Ia membangkitkan semangat hidup orang-orang yang juga mengalami depresi sepertinya. Dan, ia selalu mengisi hari2nya dengan senyuman dan kata ”Arigato”.
Sedangkan Kikan. Umurnya memang lebih dewasa daripada Aya. Tetapi, ia tidak menjadikan sisa hidupnya itu sebagai momentum. Ia terlalu larut dalam tekanan yang membinasakan. Bukan Israfil yang menghantuinya, tetapi dirinya sendirilah yang membinasakan tunas-tunas optimisme yang memang belum pernah ia semai.
Lalu bagaimana dengan kita?
Maut bisa kapan saja datang menjemput. Apa yang telah kita persiapkan? Dan seperti apa kita akan menghabiskan hari-hari kita? Apakah seperti Aya chan, atau Kikan?
Hidup ini seperti hitungan mundur yang tidak mengenal istilah pause, rewind, dan forward… hanya ada dua tombol… hijau dan merah… PLAY and STOP…
Hidup adalah kesempatan… hidup adalah momentum…
Rasulullah menggambarkan hidup adalah pemberhentian sementara dalam perjalanan panjang menuju alam keabadian. Dan pemberhentian sementara itulah yang akan menentukan, kemana kita akan berlabuh. Di Neraka, atau di Surga.
Ya Rasul… live me at ur Al Kautsar… Amin…
semoga kita juga bisa bertemu di Al Kautsar-Nya…
Dah dulu ya, slide2 mikro udah manggil2 dengan mesranya… (hueekss… wurrr)
www
Entry Filed under: tulisan standar. Tag: ingin dibagi, renungan.
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
miftajah | April 14, 2008 at 10:15 am
Miftah on principe…
LIFE IS ADVENTURES… but LIFE IS RESPONSIBILITY AND RESPONS ABILITY…
Are U?
2.
radit | April 15, 2008 at 3:30 pm
Gunakan waktu sebaik2nya untuk hal2 yang bermanfaat…
Setelah selesai satu urusan,bersiap2 untuk urusan berikutnya…
3.
37degree | April 23, 2008 at 5:25 pm
yap setuju banget Pi…
gak akan ada yg tahu kapan saatnya kita kembali ke Pemilik jiwa
do i have a mistake to you my sister?
please forgive me…
(minta maaf gak harus pas lebaran aja kan?)
-15304080-
4.
mif | April 28, 2008 at 11:27 pm
Hidup tanpa kesyukuran sama saja dengan mikrokontroller yang belum diprogram. Potensinya sangat besar, tapi tak berguna karena memorinya tak diisi program.
tetap bersyukur & tetap cari inspirasi untuk terus bersyukur.
btw… saya dah pindah blog.